Viral Jasa Santet dan Pelet Bertarif Jutaan di Sukabumi, Kades Bilang Hoax

5 hours ago 3

Sukabumi -

Viral video yang mempromosikan jasa santet hingga pelet yang diduga di kawasan Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kepala desa setempat menegaskan kabar itu hoax.

Dalam video viral, tampak sesajen beralaskan nampan, kepulan asap kemenyan, kelapa muda, hingga mangkuk dupa berjejer di atas tebing batu karang yang menghadap langsung ke laut lepas.

Video tersebut ditempeli narasi daftar tarif jasa spiritual, mulai dari santet mati senilai Rp3.000.000, santet sakit Rp2.000.000, santet gila Rp1.000.000, hingga pelet puter giling dan ikat sukma seharga Rp400.000.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keberadaan lokasi dalam video itu dibenarkan oleh sejumlah warga setempat. Jaka, warga Cisolok, meyakini sudut pengambilan gambar memang berada di kawasan Karang Hawu.

"Dari lokasi ada kemiripan, diambil di salah satu sudut di Karang Hawu. Karena arahnya ke laut, pas kamera mengarah ke kanan terlihat perbukitan Puncak Habibie," ungkap Jaka, Kamis (17/9/2026).

Menanggapi kehebohan tersebut, Kepala Desa Cisolok, Hendi Sunardi, angkat bicara. Hendi secara tegas membantah adanya praktik komersialisasi jasa santet di kawasan wisata Karang Hawu.

"Jelas nggak setuju, mana ada kayak begitu. Kalaupun betul ada yang sengaja buka praktik seperti itu, nanti akan saya cari orangnya siapa. Itu sesat kalau sampai pasang tarif santet begitu," kata Hendi saat dihubungi.

Hendi menambahkan, teknologi saat ini sangat memungkinkan seseorang menyunting visual pemandangan alam lalu membubuhinya dengan teks yang menyesatkan.

Ia memastikan Karang Hawu selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam sekaligus wisata religi atau tempat syariat dan tawasul, bukan wadah praktik ilmu hitam komersial.

"Di sana mah murni wisata religi, syariat tawasul, bukan untuk hal-hal yang begitu. Terkait juru kunci di sana pun dari pihak desa dulu sifatnya hanya memberikan surat tugas agar tertib dan tidak liar. Jadi kalau ada narasi santet berbayar seperti itu, warga lokal tidak pernah ada," pungkas Hendi.

Baca selengkapnya di sini

(idh/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |