Sidoarjo - Pemkab Sidoarjo menggencarkan sejumlah strategi untuk optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pasar. Upaya itu mulai dari digitalisasi retribusi, pemetaan kios kosong, hingga revitalisasi pasar.
Bupati Sidoarjo, Subandi mengatakan pihaknya akan menerapkan sistem digitalisasi di 19 pasar yang dikelola pemerintah daerah. Salah satunya melalui pembayaran retribusi secara daring dengan QRIS melalui aplikasi My Retribusi.
"Kita punya 19 pasar, kita ingin mengoptimalkan semuanya pakai digitalisasi. Ya termasuk bayar retribusi pakai QRIS, dan lain-lain," kata Subandi, Selasa (19/5/2026).
Ia menyebut digitalisasi tersebut ditarget untuk segera berjalan. Bahkan, untuk pertama kalinya seluruh kepala pasar, kepala bidang pasar, hingga dinas terkait dikumpulkan di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo belum lama ini guna membahas optimalisasi pasar.
Subandi menegaskan peningkatan pasar tidak hanya berorientasi pada besaran pendapatan retribusi, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasar.
"Nanti akan kita cek semuanya. Yang penting tujuan kita retribusi ini ada kenaikan untuk kesejahteraan masyarakat Sidoarjo, bukan untuk kepentingan yang lain," tuturnya.
Lebih lanjut, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Happy Setyaningtyas Astrawati mengatakan target PAD dari 19 pasar di Sidoarjo pada 2026 yakni sekitar Rp 16,7 miliar.
Menurut Happy dari hasil peninjauan di lapangan, saat ini banyak kios dan los pasar yang sepi, terutama sektor konveksi. Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih belanja online maupun pasar modern.
"Kondisi pasar saat ini memang sebagian kios, los itu banyak yang sepi terutama untuk konveksi. Orang sekarang lebih cenderung pembelian online atau ke pasar modern yang lebih nyaman," katanya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Disperindag mulai melakukan pemetaan di seluruh pasar. Pendataan dilakukan terhadap jumlah kios, los, toko hingga pelataran yang kosong maupun tidak aktif.
Pemkab juga mengirim surat kepada pemilik kios atau los yang tidak digunakan untuk memastikan keberlanjutan sewa tempat tersebut. Jika tidak digunakan lagi, kios akan ditawarkan kepada pedagang lain.
Selain itu, Disperindag bekerja sama dengan Kominfo menyiapkan dashboard digital My Retribusi yang bisa diakses untuk memantau pendapatan pasar secara real time.
"Harapannya nanti real time, Pak Bupati bisa langsung mengecek berapa retribusi yang diperoleh pasar," jelas Happy.
Tak hanya itu, Pemkab Sidoarjo juga memetakan kebutuhan perbaikan sarana dan prasarana pasar, termasuk revitalisasi pasar. Perbaikan dilakukan bertahap sesuai kemampuan APBD.
Salah satu pasar yang akan dibangkitkan kembali ialah Pasar Kedungrejo di Waru yang selama ini tidak berfungsi. Disperindag bakal menggandeng pedagang sayur dan buah dari Porong untuk membuka lapak di pasar tersebut.
"Harapannya nanti pembeli dari Surabaya yang sering belanja sayur dan buah di Sidoarjo tidak perlu jauh-jauh ke Porong, tetapi cukup ke Kedungrejo karena penjualnya sama," imbuhnya.
Selain itu, Pemkab Sidoarjo juga menggencarkan pelatihan digital marketing bagi pedagang agar mampu memasarkan dagangannya secara online.
Happy memastikan upaya meramaikan pasar dilakukan bersama pengelola dan himpunan pedagang pasar agar pasar tradisional tetap diminati masyarakat.
"Intinya kita enggak bisa lakukan sendiri. Kita harus bareng-bareng dengan pengelola pasar dan himpunan pedagang pasar supaya masyarakat mau belanja di pasar, meramaikan pasar," tandasnya.
Lihat juga Video: Cara Airin Dongkrak Potensi Pendapatan Asli Daerah dari Laut
(akd/ega)


















































