5 Suara Prabowo di KTT BRICS: Spirit Bandung hingga RI Tak Mau Didikte

6 hours ago 3
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 pada 12-13 September di India. Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan sejumlah pernyataan mulai dari spirit Bandung di Konferensi Asia-Afrika 1955 hingga suara negara-negara dunia belahan selatan.

Hari pertama KTT ke-18 BRICS 2026 dipimpin Perdana Menteri (PM) India Sri Narendra Modi digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9). Turut dihadiri oleh Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, hingga kepala negara dan pemerintahan lainnya yang mayoritas negara-negara belahan bumi selatan.

1. Prabowo Bicara Beri Makan Rakyat, RI Tak Ingin Dikte

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sesi terbatas pada hari pertama, Prabowo mengatakan suara Indonesia di belahan bumi selatan kini didengar setelah spirit Bandung di KAA 1955. Negara-negara yang pada saat itu baru saja meraih kemerdekaan bersatu sebagai mitra yang setara. Dengan bersatu, menurut Prabowo suara anggota KAA terdengar lebih luas.

"Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan. Pelajaran ini tetap sangat penting. Dengan bersatu, kami juga menjadi lebih kuat," kata Prabowo dalam sesi terbatas KTT BRICS di akun YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (13/9).

Menurut Prabowo, kekuatan berawal dari rakyat di dalam negeri yang diberikan makan, pendidikan, hingga kesejahteraan. Cara tersebut, kata Prabowo, untuk membangun bangsa yang mandiri.

"Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri," ujarnya.

Tak hanya itu, Prabowo mengatakan Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun. Prabowo mengatakan Indonesia harus tangguh agar benar-benar mandiri, memperkuat fondasi untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan.

"Dengan fondasi yang begitu kuat, saya yakin BRICS akan terus memperkuat kerja sama di bidang-bidang yang berdampak langsung pada ketangguhan kita. Energi adalah salah satu contoh nyata. Kami sedang menghubungkan sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan kami untuk menggerakkan ekonomi serta membangun ketangguhan jangka panjang," imbuhnya.

2. Prabowo Bicara Spirit Bandung, Reformasi PBB

Selain soal bicara KAA 1955 dan beri makan rakyat, Prabowo menyinggung peran Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB. Prabowo menilai lembaga multilateral itu harus direformasi.

"Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, BRICS mewakili separuh dari seluruh umat manusia, serta porsi besar dari ekonomi dan perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar dunia dan produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang luar biasa," kata Prabowo.

Prabowo mengajak para pemimpin dunia itu membayangkan apa yang dapat dicapai BRICS jika kekuatan ini dikerahkan sepenuhnya untuk membantu menjamin pasokan pangan dan energi. Selain itu, Prabowo menilai BRICS dapat menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan terhubung dengan lebih baik.

"Bayangkan jika negara-negara di belahan bumi selatan dapat berbicara dengan lebih percaya diri dan lebih terkoordinasi dalam membentuk lembaga-lembaga yang mengatur dunia kita, dalam melindungi dan meningkatkan perdamaian, dalam memperjuangkan keadilan," ujar Prabowo.

Prabowo menilai jika cara dan tujuan tersebut bisa dicapai, dapat mendukung negara-negara maju dan berkembang. Untuk mencapai cita-cita, Prabowo ingin menempatkan PBB sebagai pusatnya, karena PBB forum berkumpulnya seluruh negara dunia.

"Bersama-sama, kita dapat membangun sistem multilateral yang lebih kuat yang mendukung kebutuhan dan kepentingan semua bangsa, baik besar maupun kecil, kuat maupun lemah. Agar upaya ini berhasil, kita harus menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pusat dari sistem tersebut," ucapnya.

Namun, Prabowo memberikan catatan bahwa PBB harus direformasi untuk menjalankan peran yang efektif sehingga PBB dapat lebih tanggap dan berdampak bagi seluruh masyarakat dunia.

"Sebab, PBB tetap menjadi satu-satunya institusi multilateral tempat semua bangsa berkumpul sebagai pihak yang setara. Dan agar PBB dapat menjalankan peran sentralnya secara efektif, institusi ini harus direformasi. PBB harus menjadi lebih representatif, lebih tanggap, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat kita," imbuhnya.


3. Prabowo Gaungkan Abad Hijau di Tengah Perubahan Iklim

Pada hari kedua KTT BRICS, Prabowo menekankan pentingnya anggota BRICS mengubah berbagai kerentanan menjadi peluang dan kekuatan untuk membangun perekonomian yang lebih kuat, adil, dan mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat. Prabowo bicara tantangan Indonesia menghadapi perubahan iklim hingga bencana, namun memiliki kekayaan sumber daya yang melimpah.

Dalam sesi pertemuan dengan tema 'Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth' di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Minggu (13/9), Prabowo menyampaikan bahwa ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan harus diarahkan pada satu tujuan bersama, yakni membangun perekonomian yang lebih kuat dan adil serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Presiden Prabowo hadiri KTT ke-18 BRICS 2026 di India, Sabtu (12/9/2026).Presiden Prabowo hadiri KTT ke-18 BRICS 2026 di India, Sabtu (12/9/2026). (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden)

"Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan," ujar Prabowo dalam keterangan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.

Indonesia sebagai negara kepulauan, menurut Prabowo, sangat memahami tantangan di kawasan cincin api yang aktif, menghadapi berbagai tantangan seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi. Di sisi lain, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan daratan dan lautan yang dapat menjadi landasan bagi masa depan.

"Daratan dan lautan kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi landasan bagi masa depan. Mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang bernapas bagi dunia. Hal yang sama juga berlaku di seluruh BRICS," imbuh Presiden Prabowo.

Selain itu, Prabowo menilai negara-negara BRICS memiliki kekuatan besar karena secara bersama-sama menguasai porsi signifikan dari mineral kritis dan sumber daya energi dunia. Menurut Prabowo, potensi tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun abad hijau.

"Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau. Itulah sebabnya, ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional," ucap Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dan negara-negara anggota BRICS serta banyak negara bumi bagian selatan menghadapi berbagai persoalan yang serupa dan saling berkaitan. Karena itu, Prabowo mendorong negara-negara BRICS untuk menghadapi tantangan secara bersama-sama dengan menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki.

"Ketika kita menghadapi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita juga menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah yang sangat besar. Satukan semuanya, dan BRICS dapat memberikan perbedaan yang nyata dan penting bagi dunia. Oleh karena itu, langkah pertama adalah mengakui nilai dari apa yang kita miliki dan menggunakan kekuatan ini untuk saling membantu," imbuhnya.

4. Prabowo Sebut RI Kini Ekspor Beras-Jagung

Di hadapan para pemimpin BRICS, Prabowo menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun Indonesia menjadi salah satu importir utama sejumlah komoditas pangan. Kini, kondisi tersebut telah berbalik seiring dengan meningkatnya kemampuan produksi dalam negeri.

"Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung. Kini, kita telah menjadi eksportir dan akan mampu meningkatkan dukungan untuk seluruh dunia," kata Prabowo.

Transformasi tersebut dinilai menjadi gambaran dari keterbatasan diubah menjadi kapasitas melalui pembangunan dan penguatan kemampuan nasional. Prabowo meyakini potensi serupa juga dimiliki negara-negara BRICS apabila kekuatan masing-masing dapat dihubungkan dan dioptimalkan secara bersama.

Menurut Prabowo, berbagai tantangan global yang saling berkaitan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai hambatan. Dengan kerja sama yang kuat, tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang untuk meningkatkan investasi, memperkuat industri, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta membuka kesempatan masyarakat.

"Bersama-sama kita dapat mengubah tantangan-tantangan yang saling terkait ini menjadi peluang untuk investasi yang lebih besar, industri yang lebih kuat, dan lebih banyak lapangan kerja serta peluang yang lebih baik bagi rakyat kita. Pertumbuhan yang menjangkau jutaan rakyat kita akan membuat bangsa kita lebih tangguh," ucap Prabowo.

Prabowo menekankan bahwa ketangguhan suatu negara sangat berkaitan dengan sejauh mana pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Karena itu, pembangunan yang inklusif dan inovasi menjadi dua elemen penting untuk mengubah kekuatan kolektif menjadi kapasitas yang lebih besar.

"Hal itu hanya dapat dicapai ketika pembangunan bersifat inklusif dan, jika dipadukan dengan inovasi, kekuatan kolektif kita dapat menjadi kekuatan yang dahsyat, mengubah kelangkaan menjadi kapasitas," ujarnya.

Prabowo melihat anggota BRICS sesungguhnya telah memiliki modal besar berupa sumber daya, kapasitas produksi, serta kekuatan ekonomi yang saling melengkapi. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi untuk memperkuat posisi BRICS dalam rantai nilai global.

"BRICS sudah menjadi rantai pasokan. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang ada ini dapat menjadi sumber nilai yang lebih besar bagi kita semua," sebut Prabowo.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, Prabowo menawarkan langkah konkret kepada para pemimpin BRICS, yakni mendorong industrialisasi bersama. Menurut Prabowo, sumber daya dan kapasitas yang dimiliki negara-negara anggota perlu dioptimalkan melalui kerja sama sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

"Oleh karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama," imbuhnya.


5. Prabowo Minta Suara Global South di BRICS Didengar

Masih dalam forum hari kedua BRICS, Prabowo menegaskan pentingnya penguatan suara negara-negara selatan global dalam menentukan arah pembangunan dunia. Menurut Prabowo, BRICS memiliki peran strategis untuk menyatukan sekaligus memperkuat suara negara selatan global dalam membentuk masa depan.

"Sebuah masa depan di mana ketangguhan melindungi pembangunan, inovasi memperluas peluang, kerja sama menghasilkan dampak nyata, dan keberlanjutan berarti kesejahteraan diwujudkan baik untuk masa kini maupun bagi generasi mendatang," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, dalam empat tahun mendatang, masyarakat internasional akan memasuki tahun 2030 yang menjadi target pencapaian agenda 2030 dan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).

Berbagai komitmen, kata Prabowo, telah disepakati negara-negara dunia untuk mengentaskan kemiskinan, melindungi planet, dan membangun institusi yang lebih kuat.

"Komitmen ini tetap teguh. Kita harus terus melangkah melampaui tahun 2030," ujarnya.

Agenda 2030, menurut Prabowo, tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target dalam batas waktu tertentu. Lebih dari itu, agenda tersebut harus menjadi bagian dari upaya menempatkan negara-negara berkembang pada posisi yang semestinya.

"Agenda ini bertujuan membawa negara-negara berkembang ke posisi yang semestinya, mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat kita, serta memberikan peran yang lebih besar bagi negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global," ucap Prabowo.

"Oleh karena itu, sudah sewajarnya suara negara-negara Global South didengar, tidak hanya dalam mempercepat pelaksanaan agenda 2030, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan setelahnya," imbuhnya.

(rfs/aik)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |