Jakarta - Juru Bicara Partai Gerindra yang juga Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong, memuji pidato Presiden Prabowo yang berterima kasih kepada PDIP dan Megawati Soekarnoputri. Bahtra mengatakan pernyataan itu jadi bukti Prabowo menghormati oposisi.
"Pidato Presiden kemarin menunjukkan kualitas kenegarawanan yang sangat kuat. Beliau tidak hanya menghormati oposisi, tetapi juga mengakui secara terbuka bahwa demokrasi membutuhkan checks and balances. Ini adalah pernyataan yang sangat demokratis dan konstitusional, dan harus menjadi contoh bagi para tokoh bangsa," ujar Bahtra kepada wartawan, Kamis (21/05/2026)
Menurut Bahtra, seorang pemimpin yang otoriter tidak mungkin memberikan penghormatan terbuka kepada partai di luar pemerintahan. Apalagi, lanjut dia, sampai mengapresiasi peran oposisi sebagai bagian penting dalam menjaga demokrasi.
"Kalau ada pemimpin yang anti-demokrasi, biasanya oposisi dianggap ancaman. Tetapi Presiden Prabowo justru mengatakan bahwa keberadaan PDIP di luar pemerintahan perlu dihormati. Artinya beliau memahami bahwa demokrasi tidak harus seragam, tidak harus semua masuk pemerintah," jelasnya.
Bahtra juga menilai pernyataan Presiden Prabowo kepada Megawati menunjukkan karakter kepemimpinan yang dewasa, rendah hati, dan mengedepankan rekonsiliasi nasional di atas rivalitas politik.
"Pak Prabowo menunjukkan bahwa perbedaan politik tidak menghapus rasa hormat dan persaudaraan kebangsaan. Apalagi keduanya punya histori persahabatan yang kuat. Artinya beliau mengajarkan bahwa politik harus dijalankan dengan etika, penghormatan, dan jiwa besar," katanya.
Lebih lanjut, Bahtra menegaskan publik harus melihat Presiden Prabowo secara objektif berdasarkan tindakan dan kepemimpinannya hari ini, bukan terus terjebak pada stigma lama yang dibangun secara politis oleh pihak tertentu.
"Presiden Prabowo menunjukkan kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap kritik, menghormati oposisi, dan mengutamakan persatuan nasional. Itu semua justru merupakan esensi utama dari demokrasi," tegasnya.
Lebih lanjut, Bahtra menilai Presiden Prabowo sedang melakukan konsolidasi nasional untuk mewujudkan agenda ekonomi nasional.
"Target besar seperti swasembada pangan, hilirisasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan stabilitas politik serta kerukunan antar pemimpin bangsa meskipun berbeda pandangan politik," imbuh dia.
Di hadapan anggota MPR/DPR/DPD, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan terima kasih kepada PDIP sebagai partai parlemen yang kini berada di luar kekuasaan pemerintah. Prabowo menilai posisi politik PDIP itu sebagai suatu pengorbanan.
Ucapan terima kasih Prabowo kepada PDIP disampaikan saat menutup pidato pandangan pemerintah mengenai ekonomi makro dan fiskal tahun 2027 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Prabowo awalnya mengapresiasi waktu yang diberikan parlemen untuk menyampaikan pandangan pemerintah.
Prabowo menyadari tidak semua fraksi di DPR bagian dari pemerintahannya. Hanya satu fraksi di DPR yang berada di luar koalisi, yakni PDIP, Prabowo menghargai posisi politik PDIP tersebut.
"Memang tidak semua partai di sini bagian dari pemerintah, dan saya hormati dan saya hargai itu, demokrasi kita perlu check and balances. Saya paham dan mengerti bahwa PDIP berkorban untuk berada di luar pemerintah," ucapnya.
Oleh sebab posisi politik itu, Prabowo mengucapkan terima kasih kepada PDIP. Meski ingin kerja sama seluruh partai, Prabowo menilai perlu adanya pihak penyeimbang di parlemen.
"Saya mengerti itu, sebenernya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada PDIP. Saudara berjasa untuk demokrasi kita, memang maunya saya itu gotong royong. Kalau semua partai di pemerintah alangkah manisnya untuk saya, tapi mungkin tidak baik, setiap pemimpin harus mau dikritik," imbuh Prabowo dalam rapat yang dipimpin Ketua DPR Puan Maharani. (maa/knv)


















































