Jakarta - Pelaku industri perbankan menyatakan kesiapan mereka untuk menyerap instrumen obligasi daerah (municipal bonds) yang direncanakan akan diterbitkan pemerintah daerah ke depan. Kehadiran instrumen ini dinilai menjadi inovasi baru di sektor keuangan sekaligus membuka peluang diversifikasi investasi yang aman bagi perbankan.
Direktur Keuangan & Treasury Bank NTT Heru Helbianto mengatakan, dari perspektif investor dan pelaku pasar, obligasi daerah memiliki prospek yang menarik. Menurutnya, sektor perbankan melihat adanya peluang kolaborasi untuk mendukung keberlanjutan proyek strategis pemerintah daerah.
"Kami di industri keuangan, khususnya perbankan, sangat mengharapkan adanya alternatif dan diversifikasi untuk investasi kita. Kami sebagai perwakilan dari bank sangat menantikan penerbitan municipal bonds ini dan dipastikan akan sangat mendukung sesuai dengan kemampuan kami," ujar Heru, dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Heru menjelaskan, salah satu faktor yang membuat obligasi daerah diminati perbankan adalah tingkat keamanan likuiditasnya. Ia menilai instrumen tersebut memiliki karakteristik yang serupa dengan surat utang negara (SUN) karena diterbitkan oleh pemerintah.
"Pengalaman saya di bidang treasury, hal pertama yang selalu kami lihat adalah risiko. Untuk obligasi daerah ini, kami melihat risiko likuiditasnya akan sangat baik dan terjaga karena jaminannya adalah negara atau pemerintahan, sehingga selama negara tidak bangkrut investor akan sangat yakin," katanya.
Selain menawarkan keamanan investasi, obligasi daerah juga dinilai memberikan keuntungan dari sisi regulasi perbankan. Instrumen tersebut memiliki bobot risiko rendah dalam perhitungan aset tertimbang menurut risiko (ATMR), sehingga membantu bank menjaga rasio kesehatan keuangan.
"Secara aturan atau regulasi, obligasi pemerintah itu risiko bobotnya sangat rendah dalam perhitungan untuk ATMR di perbankan. Sehingga, rasio-rasio kesehatan keuangan yang harus dijaga oleh bank akan menjadi lebih manageable dalam operasional sehari-hari," tuturnya.
Heru juga memproyeksikan minat investor terhadap obligasi daerah akan lebih banyak mengarah pada tenor menengah. Berdasarkan tren pasar saat ini, tenor 3 hingga 5 tahun dinilai paling diminati oleh institusi maupun masyarakat.
"Sebagai gambaran untuk strategi ke depan, saat ini tenor obligasi yang paling favorit dan menjadi incaran di masyarakat maupun institusi adalah 3 dan 5 tahun," ungkapnya.
Melalui penerbitan obligasi daerah, Bank NTT berharap pembiayaan proyek infrastruktur di daerah dapat berjalan lebih optimal tanpa terganggu persoalan likuiditas akibat fluktuasi pendapatan daerah. Sinergi antara pemerintah daerah sebagai penerbit dan perbankan sebagai pelaku pasar diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tonton juga video "Kemendagri Ungkap Manfaat Obligasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah"
(anl/ega)


















































