Jakarta -
Wacana soal ambang batas parlemen 5 dan 7 persen kembali ramai dibahas. Sejumlah pembesar partai tetap teguh dengan harapan mereka, ambang batas parlemen harus naik. Namun perkara tingginya, sejumlah pihak masih memiliki perbedaan gagasan.
Dari yang tertinggi, ambang batas 7 persen masih digaungkan oleh Partai NasDem. Bukan karena merasa mampu, Surya Paloh mengatakan jika angka itu disetujui dan partainya tidak mencapai target tersebut, ia rela NasDem lengser dari parlemen. Ketua Umum Partai NasDem itu mengatakan jika angka 7 persen dapat digunakan sebagai penyaring bagi partai-partai yang akan masuk ke DPR. dengan demikian, menurutnya tata kelola demokrasi akan lebih terkontrol.
"Dari pemilu ke pemilu memang NasDem paling eager untuk menaikkan tingkat parliamentary threshold. Saya harus katakan sejujurnya memang itu. Karena memang pertimbangan kita adalah selected partai. Lebih sedikit partai untuk mengatur lalu lintas jalannya demokrasi di negeri ini, menurut pandangan kami, NasDem tentunya ya," ungkap Surya Paloh dikutip dari detikNews, Sabtu (19/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NasDem mengusulkan 7%, walaupun surveinya NasDem 4%. Jadi NasDem itu mengikhlaskan dirinya kalau dia nggak masuk di parlemen karena parliamentary threshold-nya tinggi, ya itulah bagian daripada keinginan kita mementingkan kepentingan nasional lebih besar daripada kepentingan partai," lanjut Surya Paloh.
Sementara kalangan partai pengusul 5 persen di antaranya PKS, Golkar, PAN, dan Gerindra. Para pentolan partai-partai tersebut sepakat untuk menaikkan parliamentary threshold menjadi 5 persen pada pertemuan sejumlah ketum partai koalisi pendukung pemerintah beberapa waktu lalu. Sekjen Gerindra, Sugiono, menyebut jika dalam pertemuan itu ada kesepakatan soal ambang batas parlemen sebesar 5 persen.
Namun usulan ini juga memperoleh penolakan. Salah satu pihak yang tidak setuju dengan kenaikan ambang batas tersebut adalah Partai Buruh. Menyebut jika angka ini menyalahi aturan MK, Ketum Partai Buruh, Said Iqbal bahkan meminta agar ambang batas parlemen turun menjadi 1 persen.
"8 partai non-parlemen yang bergabung di GKSR (Gerakan Kedaulatan Suara Rakyat) menolak usulan tersebut karena melanggar keputusan MK yang menyatakan PT di bawah 4%," kata Said Iqbal dikutip dari detikNews, Jumat (18/9/2026).
Lalu ada apa di balik tarik-menarik ambang batas ini? Benarkan hal ini semata untuk penegakan demokrasi atau ada kepentingan lain yang perlu dipahami? Simak ulasannya dalam detikSore!
Kembali membahas tentang kecelakaan KM Virgo, detikSore akan mengikuti kabar terbaru soal proses evakuasi korban yang masih terus berjalan. Berdasarkan pengamatan tim detikcom di lapangan, Tim SAR kembali mengevakuasi beberapa korban yang terjebak di dalam kapal Virgo yang terbalik dan tenggelam.
Hingga saat ini, setidaknya sudah ada tambahan 14 korban yang berhasil dibawa ke daratan. detikSore juga akan memaparkan proses evakuasi bangkai kapal dalam rangka mencari korban lain yang disinyalir masih terjebak di dalam. Seperti apa perkembangannya? Simak informasi lengkapnya dalam detikSore!
Jelang matahari terbenam nanti detikSore akan menghadirkan sosok belia yang memilih mendalami seni tradisi sinden di tengah derasnya musik modern dan tren yang terus berganti. Savia Aulia Rahmawati akan menjelaskan bagaimana menjalani hidup sebagai sinden.
Seperti apa kesehariannya sebagai sinden cilik? Apa yang membuatnya memilih menjaga seni tradisi di tengah zaman yang terus berubah? Simak kisah Savia Aulia Rahmawati dalam Sunsetalk.
Ikuti terus berita terbaru dan bermutu dari detikSore. Tonton tayangan langsungnya lewat berbagai platform media sosial. Jangan lupa follow detikSore di Instagram dan TikTok. detikSore Nggak Cuma Hore-hore!
(vys/gub)


















































