Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik di berbagai belahan dunia telah memberikan efek tekanan bagi negara-negara maju, mulai dari Amerika Serikat, Eropa hingga Jepang.
Konflik yang telah membuat harga komoditas tinggi, jalur perdagangan terhambat, hingga sentimen di pasar keuangan menekan bank sentral di negara-negara maju untuk menaikkan suku bunga acuannya.
"Fed Fund Rate sudah naik, kemarin European Central Bank, Bank of Japan juga naik. Artinya sudah terjadi dampak ke inflasi. Dari sisi PDB, PDB global ga bergerak sekitar 3% di 2026," kata Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur, Rabu (23/9/2026).
Meski secara global ekonomi mengalami tekanan, AIda menganggap, Indonesia justru memiliki peluang untuk tetap menjaga ketahanan ekonomi, dengan laju pertumbuh yang masih akan terjadi.
Aida mengatakan, potensi pertumbuhan ini karena harga-harga komoditas andalan ekspor justru tengah mendulang kenaikan, seperti minyak mentah kelapa sawit (CPO), batu bara, hingga nikel.
Di sisi lain, kemampuan konsumsi domestik ia sebut terbukti stabil mendukung pertumbuhan PDB, seiring dengan masih bergeliatnya investasi.
"Dari sisi price oil memang akan mengakibatkan impor migas kita, tapi juga untuk harga-harga non oil kita bisa mendapatkan benefit karena harga komoditas seperti CPO, coal, nikel dan lain-lain mengalami peningkatan, sehingga PDB kita yang dari sisi X nya sedikit terpengaruh, tapi kita punya domestic demand, konsumsi dan investasi," tegasnya.
Oleh sebab itu, Aida percaya diri pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan terus bisa bergerak di rentang 4,9%-5,7% hingga akhir tahun nanti.
"Inflasi juga masih baik, pada Agustus kemarin 3,19% dan kalau dilihat apakah sudah terjadi kenaikan atau impact dari nilai tukar dan harga-harga komoditas, iya, itu masuknya ke inflasi inti, volatile food, dan administered price, tapi inflasi inti kita masih 2,92% jadi masih di bawah 3%," tutur Aida.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

















































