Jakarta, CNBC Indonesia - PT Astra International Tbk (ASII) menetapkan tiga bisnis inti atau core business yang akan menjadi fokus pengembangan perseroan ke depan. Ketiga bisnis tersebut meliputi otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengungkapkan kontribusi pendapatan perseroan saat ini masih didominasi oleh segmen otomotif dengan porsi 40%. Sementara itu, jasa keuangan berkontribusi 31%, solusi pertambangan dan alat berat sebesar 18%, serta bisnis lainnya seperti agribisnis hingga teknologi informasi menyumbang 11%.
"Di mana pada bisnis inti ini kami masih berikan banyak peluang pertumbuhan ke depan dan kami akan terus memperkuatnya, akan terus mempertajam fokus strategi kami pada 3 bisnis inti ini sambil tentunya kami sudah memiliki framework yang lebih jelas juga terhadap wider businesses," kata Tira dalam Astra Media Day, di Jakarta, Rabu, (23/9/2026).
Dalam keterangan terpisah kepada wartawan, Tira menyebut bahwa salah satu contoh konkrit fokus perseroan yang paling dekat adalah rencana peningkatan kepemilikan di AUTO melalui VTO yang diumumkan beberapa waktu lalu dengan harga penawaran sebesar Rp3.600 per saham. Apabila seluruh target saham dapat diperoleh, transaksi tersebut akan membutuhkan dana sekitar Rp858 miliar.
"Langkah ini sejalan dengan fokus Perseroan untuk memperkuat tiga Core Businesses, khususnya bisnis Otomotif melalui penguatan bisnis komponen," tutur Tira tertulis.
Selain fokus pada tiga bisnis inti Grup, Astra juga menjalankan kerangka alokasi modal yang lebih disiplin termasuk dividen dan pembelian kembali saham, serta komitmen transformasi melalui penyelarasan kepemimpinan.
Dari sisi kinerja, bisnis otomotif Astra membukukan laba bersih Rp5,9 triliun atau naik 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan penjualan mobil baru dan kontribusi kuat dari divisi komponen.
Sementara itu, bisnis jasa keuangan mencatat laba bersih Rp4,6 triliun atau meningkat 6% secara tahunan. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tetap resilien di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Di sisi lain, bisnis solusi pertambangan dan alat berat membukukan laba bersih sebesar Rp2,7 triliun, tidak termasuk non-recurring items, atau turun 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi minimnya penjualan emas dari tambang Martabe serta dampak penurunan kuota produksi batu bara nasional atau RKAB yang menekan permintaan alat berat, jasa penambangan, dan volume produksi batu bara.
Sebagai bagian dari strategi alokasi modal, Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham atau share buyback hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan. Program tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026.
Selain itu, United Tractors (UT) juga mengumumkan program pembelian kembali saham hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan. Sebelumnya, sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai mencapai Rp7,4 triliun.
Perseroan juga telah menjalankan penyelarasan insentif manajemen melalui program Management Stock Option Plan (MSOP). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keselarasan kepentingan antara manajemen dan pemegang saham.
Manajemen Astra menegaskan tetap fokus menjalankan strategi korporasi baru di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Perseroan meyakini keunggulan operasional, resiliensi bisnis, kekuatan neraca keuangan, serta disiplin alokasi modal akan mendukung pertumbuhan jangka panjang dan peningkatan total imbal hasil bagi pemegang saham.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

















































