Jakarta, CNBC Indonesia-Bank Indonesia (BI) memilih jalur stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Meski demikian, beberapa kebijakan juga diarahkan untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Untuk BI, stabilitas adalah prioritas karena ketidakpastian global yang tinggi," ungkap Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Destry menyampaikan, tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat semakin mendorong tingginya harga minyak yang sempat menyentuh USD132 per barel sebelum kemudian kembali turun ke level di bawah USD100 per barel pada 22 September 2026. Harga berbagai komoditas dunia turut mengalami kenaikan.
Pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3,0% dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4,6%. Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR), menjadi 3,75-4,00% pada September 2026 dengan kemungkinan peningkatan kembali yang masih tinggi.
Imbal hasil (yield) US Treasury juga meningkat seiring ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran Pemerintah AS yang besar. Preferensi investor global terhadap investasi portofolio ke negara Emerging Markets tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang. Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Sementara dari dalam negeri, perekonomian cukup baik. Diperkirakan tahun ini ekonomi tumbuh 4,9-5,7% didorong oleh konsumsi masyarakat dan swasta yang tinggi dan investasi. Neraca perdagangan juga kembali positif dan cadangan devisa yang terjaga.
"Ekonomi domestik kita masih tumbuh namun perlu didorong. Kita cari kebijakan lain dengan concern apa dengan kondisi higher fo longer, ini harus kita counter," jelasnya.
Salah satunya dengan menjaga kecukupan likuiditas rupiah dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional kepada Bank Indonesia dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment melalui pengurangan premi dari semula 12,5% untuk semua tenor menjadi sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan.
Kemudian meningkatkan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment melalui pengurangan premi dari semula 15% menjadi sebesar 25% untuk tenor 6 bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan;
"Kemarin September ada adjustment di SRBI karena ada pelonjakan suku bunga tinggi ini menyebabkan hedging mahal ini kami berikan insentif sifatnya higher fo longer. Nah kalau DNDF justru kita mau dorong untuk nambah di market. Kalau DNDF untuk 1 tahun makan kita berikan diskon sampai 30%," pungkasnya.
(ras/mij)
[Gambas:Video CNBC]

















































