Jakarta -
Nestapa dialami GS (21), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya, CP (37), di rumah korban di Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali. GS mengalami luka bakar hingga 68% akibat kejadian itu.
GS kini dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah Denpasar. GS tiba di RSUP Prof Ngoerah pada Jumat (18/9) sekitar pukul 19.00 Wita setelah mendapat penanganan di Puskesmas Rendang.
"Kemarin rawat luka keseluruhan tubuh, yang mana cukup luas juga luas luka bakarnya, kurang lebih sekitar 68%," ujar Kepala Intensive Care Unit (ICU) Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, I Putu Kurniyanta, dilansir detikBali, Selasa (22/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kurniyanta, kondisi GS pada saat tiba masih sadar dan bisa berkomunikasi. Sedangkan bagian tubuh yang mengalami luka bakar paling berat berada di bagian dada depan atau toraks. Luka tersebut juga melingkar hingga ke bagian belakang tubuh.
"Untuk pasien ini memang pada saat datang memang masih bisa dia komunikasi, cuma saya melihat ada ada luka bakar di daerah dada yang hampir melingkar ke belakang," jelas Kurniyanta.
Dokter spesialis bedah plastik RSUP Prof Ngoerah, Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, mengatakan pakaian korban bahkan masih menempel di kulitnya. Luka bakar GS diperkirakan berkisar antara derajat 2B dan derajat 3.
"Mungkin kalau dilihat dari gambaran klinis, kami melakukan perawatan luka kemarin itu bajunya tuh kayak sepertinya masih nempel pada luka bakar sehingga luka bakar itu cukup dalam dari derajat 2B sampai derajat 3," terang Roy.
Paman korban, I Nengah Sridana, mengungkapkan GS sampai sekarang belum sadarkan diri. "Masih tidak sadar. Sekarang masih di ruang isolasi, di ruang intensif luka bakar," ucap Sridana saat diwawancara di rumah sakit.
Sridana mengatakan keluarga kini tak sanggup membayar biaya pengobatan yang hingga kini menyentuh angka Rp 63 juta. Salah satu komponen biaya itu adalah perawatan GS di hari pertama setelah tindakan yang mencapai Rp 19 juta.
Sridana mengatakan keluarga tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk membiayai seluruh pengobatan. Orang tua korban bekerja sebagai petani, sedangkan ibunya berjualan makanan ringan. Selama ini, justru GS yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai sopir truk.
Menurut Sridana, keluarga pelaku sebelumnya menyatakan akan bertanggung jawab mengenai biaya pengobatan apabila penangguhan penahanan diberikan. Namun, ketika biaya medis pertama disampaikan, mereka malah mengatakan tidak sanggup membayar.
Baca selengkapnya di sini
Tonton juga video "Detik-detik Sopir Taksi Green SM Terseret BYD 50 Meter di Tol Jakbar"
(fca/yld)











































