Jakarta -
Kementerian Transmigrasi menyalurkan bantuan Rp 200 juta untuk mempercepat rehabilitasi madrasah yang rusak akibat gempa di Nusa Tenggara Timur. Bantuan diserahkan oleh Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat meninjau MI Al-Ikhtiar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kemarin.
Kementerian Transmigrasi juga memberikan bantuan kebutuhan pokok untuk mendukung warga sekolah selama masa pemulihan. Melalui bantuan ini, anak-anak diharapkan dapat segera kembali belajar di ruang kelas yang aman dan layak. Pasalnya, gempa telah menyebabkan sejumlah dinding retak dan sebagian bangunan madrasah roboh sehingga kegiatan belajar mengajar belum dapat berlangsung secara normal.
"Hari ini saya menyampaikan dukacita dan belasungkawa atas musibah gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di NTT. Saya baru saja meninjau madrasah yang sebagian bangunannya ambruk akibat musibah tersebut," ujar Iftitah dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iftitah menegaskan pemulihan fasilitas pendidikan harus menjadi perhatian bersama karena menyangkut keselamatan dan masa depan anak-anak. Ia berharap rehabilitasi madrasah tidak hanya memulihkan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mengembalikan rasa aman bagi siswa, guru, dan orang tua.
"Setelah melihat langsung kondisinya, kita akan memberikan bantuan Rp200 juta. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu masyarakat, akan kita lakukan," katanya.
Iftitah mengungkapkan MI Al-Ikhtiar berada di bawah naungan Kementerian Agama. Karena itu, Kementerian Transmigrasi berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat agar rehabilitasi dilakukan sesuai kebutuhan dan hasilnya dapat segera dimanfaatkan oleh warga sekolah.
Iftitah menyampaikan masyarakat tidak boleh dibebani oleh sekat kewenangan antarlembaga ketika membutuhkan pertolongan. Menurutnya, pemerintah harus bekerja bersama agar bantuan tepat sasaran, tidak tumpang tindih, dan menjangkau kebutuhan yang belum tertangani.
"Yang paling penting bagi rakyat bukan bantuan itu berasal dari PU atau Transmigrasi. Bagi rakyat, yang penting persoalannya memperoleh solusi dan manfaatnya benar-benar terwujud," jelasnya.
Diketahui, gempa pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak MI Al-Ikhtiar, tetapi juga berdampak pada sejumlah kawasan transmigrasi di NTT. Tercatat, 13 satuan permukiman terdampak yang tersebar di kawasan Maukaro, Kabupaten Ende; Mbai, Kabupaten Nagekeo; Bajawa, Kabupaten Ngada; serta Komodo dan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat.
Secara keseluruhan, sekitar 1.043 kepala keluarga terdampak dan 1.536 rumah mengalami kerusakan. Pada masa tanggap darurat, Kementerian Transmigrasi telah menyalurkan bantuan kebutuhan pokok. Pemerintah kini memetakan kebutuhan rehabilitasi rumah dan fasilitas publik agar masyarakat dapat segera kembali beraktivitas.
Serahkan Bantuan ke SDI di Manggarai Barat
Dalam rangkaian kunjungan yang sama, Iftitah juga mendatangi SDI Nanga Nae di Manggarai Barat. Di sekolah tersebut, ia menyerahkan bantuan sepatu dan boneka panda dari Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong.
Bantuan sepatu diberikan setelah pada kunjungan sebelumnya Iftitah mendapati masih ada siswa yang bersekolah tanpa alas kaki yang memadai. Bantuan tersebut merupakan tindak lanjut atas kepedulian Dubes Wang Lutong terhadap kebutuhan anak-anak di Manggarai Barat.
"Saya mendapat titipan dari Duta Besar Tiongkok. Beliau bertanya, bantuan apa yang sebaiknya diberikan kepada siswa di sini. Saya sampaikan bahwa sepatu akan sangat bermanfaat bagi mereka," ungkapnya.
Iftitah juga mengajak para siswa untuk rajin belajar dan berani memiliki cita-cita besar. Ia mendorong mereka membekali diri dengan keterampilan yang relevan dengan peluang ekonomi di Manggarai Barat, termasuk kemampuan berbahasa asing.
Ia menilai pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat setempat. Penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin, dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk menjadi pemandu wisata maupun bekerja di berbagai bidang industri pariwisata.
"Saya melihat banyak wisatawan dari Tiongkok datang ke Labuan Bajo. Adik-adik bisa belajar bahasa Mandarin agar kelak dapat menjadi pemandu wisata atau bekerja di industri pariwisata. Peluang yang tumbuh di daerah ini harus bisa dinikmati oleh masyarakat setempat," pungkasnya.
(akd/ega)

















































