Gus Ipul Sebut Ada 2 Isu Berpotensi Munculkan Perdebatan di Muktamar NU

3 hours ago 2

Jakarta -

Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, mengatakan sedikitnya ada dua isu yang berpotensi memunculkan perdebatan cukup dinamis. Kedua isu tersebut yakni sistem pemilihan Ketua Umum PBNU dan ketentuan mengenai rangkap jabatan pengurus.

"Alhamdulillah hari ini dimulai sidang pleno pertama untuk membahas tata tertib Muktamar. Kita ikuti perkembangannya. Setelah itu nanti ada laporan pertanggungjawaban, kemudian dilanjutkan sidang-sidang komisi," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).

Menurut Gus Ipul, pembahasan di tingkat komisi kemungkinan membutuhkan waktu. Sejumlah materi di dalamnya sebelumnya telah dibahas dalam forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satunya menyangkut mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Dalam materi yang dibawa ke Muktamar, terdapat opsi mempertahankan mekanisme yang berlaku selama ini maupun gagasan mekanisme baru.

Pada mekanisme yang selama ini digunakan, bakal calon yang memperoleh dukungan dalam jumlah tertentu dapat melanjutkan ke tahap pencalonan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ketentuan tersebut termasuk mendapatkan persetujuan Rais Aam.

Sementara itu, terdapat pula usulan mekanisme lain. Dalam opsi tersebut, setiap pengurus wilayah dan cabang sebagai pemilik suara mengusulkan lima nama, dan nama-nama dengan dukungan terbanyak selanjutnya diproses sesuai mekanisme yang ditetapkan Muktamar.

"Ini adalah opsi. Tentu semuanya tergantung keputusan Muktamar," ujarnya.

Selain sistem pemilihan ketua umum, Muktamar juga akan membahas aturan rangkap jabatan di lingkungan kepengurusan NU. Menurutnya, salah satu pertanyaan yang akan didiskusikan adalah apakah larangan rangkap jabatan hanya berlaku pada posisi-posisi tertentu sebagaimana ketentuan saat ini, atau diperluas kepada jajaran pengurus lainnya.

"Ada usulan-usulan, ada dinamika-dinamika. Tentu nanti semuanya bergantung kepada muktamirin. Itu masih berupa aspirasi yang sebelumnya dibahas di tingkat Munas-Konbes," tuturnya.

Ia menegaskan seluruh rancangan materi yang dibawa ke Muktamar telah melewati proses pembahasan berjenjang. Materi tersebut bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba menjelang Muktamar.

"Draft materi yang ada ini melalui proses. Ada yang dibahas di PBNU, kemudian di Munas-Konbes, setelah itu dibawa ke Muktamar. Nanti dibahas di komisi, khususnya Komisi Organisasi. Pasti menarik," jelas Gus Ipul.

Meski memperkirakan akan terjadi perdebatan, Gus Ipul mengatakan perbedaan pandangan merupakan hal yang biasa dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

"Kita sudah terbiasa dengan perbedaan, kita sudah terbiasa berdebat," katanya.

Namun, ia mengingatkan agar seluruh dinamika tersebut tetap berlangsung dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan sebagaimana semangat Muktamar Ke-35 NU.

"Sebagaimana harapan kita semua, khususnya Pondok Pesantren Bahrul Ulum, apa pun yang terjadi, perbedaan sekeras apa pun, kita harus tetap gembira," ujarnya.

Gus Ipul mengingatkan Muktamar kali ini berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki ikatan sejarah sangat kuat dengan para pendiri NU. Pondok Pesantren Bahrul Ulum merupakan pesantren yang dibesarkan salah seorang muassis sekaligus penggerak utama NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Tidak jauh dari lokasi Muktamar juga terdapat makam KH Hasyim Asy'ari dan KH Bisri Syansuri.

"Kita berada di pangkuan para muassis, di pesantrennya Mbah Wahab Hasbullah. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat, inspirasi, dan motivasi bagi peserta Muktamar," ujarnya.

Ia berharap perdebatan yang berlangsung selama Muktamar pada akhirnya melahirkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama.

"Jadi setelah kita berdebat, tetap dalam suasana gembira. Dari kegembiraan itu mudah-mudahan datang keberkahan. Akhirnya kita semua bisa mengucapkan: Alhamdulillah," pungkasnya.

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |