Kaisar Ini Terobsesi Hidup Abadi, Tapi Malah Mati Sebelum Usia 50

4 hours ago 3
Jakarta -

Kaisar pertama China, Qin Shi Huang pernah begitu terobsesi dengan kehidupan abadi. Namun, ia justru mati saat usianya belum menginjak 50 tahun.

Dikutip Ensiklopedia Britannica, Qin Shi Huang lahir sekitar tahun 259 sebelum masehi. Dia adalah kaisar pertama China, yakni dinasti Qin (221-207 SM) yang dianggap sebagai pendiri kekaisaran China.

Adapun Qin Shi Huang awalnya terlahir dengan nama Zhao Zheng. Ia merupakan putra dari Zhuangxiang (yang kemudian menjadi raja negara Qin di barat laut China.

Ketika Zheng, pada usia 13 tahun, secara resmi naik takhta pada tahun 246 SM, Qin sudah menjadi negara terkuat. Dari sini kemudian muncul peluang untuk menyatukan seluruh kawasan China dalam satu kekaisaran. Hingga kemudian kekaisaran China pun terbentuk. Ia kemudian mengembangkan pemerintahan birokrasi dan organisasi militer yang kuat sebagai dasar filosofi kekaisarannya.

Untuk menandai pencapaiannya, Zheng mengambil gelar suci para penguasa legendaris dan memproklamirkan dirinya sebagai Qin Shi Huang (Kaisar Berdaulat Pertama). Dengan kepercayaan diri yang begitu besar, ia mengklaim bahwa dinastinya akan bertahan selama 10.000 generasi.

Membangun China

Sebagai kaisar, ia memulai serangkaian reformasi yang bertujuan untuk membangun administrasi yang sepenuhnya terpusat, sehingga menghindari munculnya pemerintahan lain. Ia membagi negara menjadi 36 distrik militer, masing-masing memiliki administrator militer dan sipilnya sendiri.

Ia juga mengeluarkan perintah untuk standardisasi segala aspek kehidupan rakyat, dari masalah timbangan pedagang, ukuran barang dan panjang poros gerobak hingga bahasa tulis dan hukum.

Pembangunan jalan dan kanal dimulai pada eranya. Benteng-benteng yang didirikan untuk pertahanan terhadap invasi barbar dari utara dihubungkan untuk membentuk Tembok Besar China.

Obsesi Kehidupan Abadi

Selama masa kekaisarannya, Qin Shi Huang suka sekali melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaannya. Selain untuk melakukan inspeksi karena ketertarikannya pada sihir dan alkimia. Dari sana, dia begitu terobsesi pada kemungkinan para ahli sihir atau kimia yang bisa memberinya ramuan keabadian.

Setelah kegagalan ekspedisi ke pulau-pulau di Laut Timur pada tahun 219, kaisar berulang kali memanggil para penyihir ke istananya.

Tahun Kematian Sang Kaisar

Tahun-tahun terakhir kehidupan Qin Shi Huang didominasi oleh ketidakpercayaan masyarakat yang terus meningkat. Bahkan sempat ada beberapa kali upaya pembunuhan terhadapnya. Semua disebabkan karena kehidupan kaisar layaknya dewa yang terisolasi dari penderitaan rakyatnya.

Pada tahun 210, Qin Shi Huang meninggal dunia saat melakukan kunjungan inspeksi. Ia meninggal saat usianya 49 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman raksasa yang dipahat dari bantuan gunung dan dibentuk sesuai dengan pola simbolis kosmos.

Makam ini kemudian dibangun selama 38 tahun (246-208 SM) dan kemudian dikenal sebagai situs Patung Prajurit Terakota. Patung tentara ini dibuat sebagai simbol penjaga kaisar dalam keabadiannya. Makam ditemukan dimulai pada tahun 1974, dan kompleks tersebut ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987.

Qin Shi Huang hingga hari ini dikenal sebagai salah satu pemimpin di dunia yang begitu terobsesi dengan keabadian. Namun, dia justru meninggal saat usianya belum menginjak usia 50 tahun.

(rdp/imk)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |