Alumni SMAN 8 Jakarta (Smandel) yang tergabung dalam EXPA (eks putra putri pencinta alam) menerbitkan buku 'EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam'. Buku tersebut merupakan catatan para pencinta alam Smandel.
Berdasarkan keterangan yang diterima, Selasa (15/9/2026), buku setebal 280 halaman yang memuat pengalaman 27 penulis ini diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta pada Agustus 2026 dalam rangkaian HUT ke-68 Smandel. Buku tersebut ditulis oleh siswa, alumni, dan guru yang ditujukan bagi alumni Smandel serta masyarakat umum. Buku ini rencananya juga akan diedarkan di jaringan toko buku Gramedia.
Pembuatan buku ini tak lepas dari dukungan tim editor yang terdiri atas lima alumni dari beberapa angkatan, yakni Suradi dan Sulistya Pribadi (Smandel '82), Didot Mpu Diantoro (Smandel '83), Raditya Padmawangsa (Smandel '85), serta Endang Mariani (Smandel '84). Kelima editor yang berpengalaman dalam dunia literasi ini juga menyumbangkan naskah mereka. Selain itu, desain buku didukung alumni Smandel '91, Aa Sugriwa, yang merancang sampul dan tata letak isinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peluncuran dan bedah buku 'EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam' (RBMM) ini dilaksanakan di SMAN 8 Jakarta pada Sabtu (12/9/2026). Peluncuran ditandai dengan penurunan mock-up atau sampul besar buku dari wall climbing setinggi 15 meter oleh dua siswa SMAN 8 Jakarta yang tergabung dalam Putra-Putri Pencinta Alam (Puapala).
HUT Ke-68, Alumni Smandel Luncurkan Buku 'EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia' (Dok. Istimewa)
Kepala SMAN 8 Jakarta, Ubaidillah, mengungkapkan kekagumannya kepada para alumni. Ia mengapresiasi alumni Smandel yang kreatif dan memberikan contoh terbaik untuk adik-adiknya, termasuk dalam proses penyusunan dan penerbitan buku RBMM.
Seusai penurunan sampul buku, seremoni penyerahan buku dilakukan secara simbolis kepada Kepala Sekolah, fotografer kawakan Don Hasman, serta Ketua EXPA Darius Krisdanu Purwana. Setelah itu, acara bedah buku digelar di Aula Sasana Krida SMAN 8 Jakarta.
Terobosan Luar Biasa
Acara bedah buku dihadiri oleh kepala sekolah, alumni dari berbagai kalangan, serta tamu undangan. Hadir di antaranya Don Hasman yang dikenal sebagai fotografer spesialis alam, Ketua Kerabat Pencinta Alam Evayanti, Perwakilan Federasi Mountaineering Indonesia DKI Sigit Prabowo, serta CEO Big Adventure yang juga alumni Smandel, Giga.
Selain itu, hadir ketua dan perwakilan berbagai komunitas pencinta alam di Indonesia, seperti Mapala UI, Kerabat Pencinta Alam (KPA), Sispala DKI Jakarta, Forum Pendaki Jabodetabek, KAPA UI, serta sejumlah tokoh senior pegiat pencinta alam Smandel seperti Heryus Saputro, 'Ciwo' Siswoyo Adi, dan Krisna Purwana.
Sebelum bedah buku dimulai, penampilan paduan suara 'Gita Takitri' disuguhkan oleh alumni Smandel lintas angkatan.
Pada sesi bedah buku yang dipandu Endang Mariani, hadir sebagai penanggap yaitu alumni Smandel'75 Prof Wahyu Wibowo (jurnalis senior dan guru besar filsafat bahasa), Agus Rusono (professional trainer), serta Didiek Pranowo (trip creator) yang merupakan Sekjen EXPA.
Don Hasman mengaku bangga dan bersyukur SMAN 8 memiliki pegiat alam yang mampu membuat terobosan istimewa hingga menerbitkan buku. Ia mengapresiasi seluruh pengalaman pencinta alam Smandel selama di Puapala yang berhasil dibukukan.
"Sepengetahuan saya, ini buku pertama yang diterbitkan oleh komunitas pencinta alam sebuah sekolah (SMA). Mudah-mudahan bisa menjadi pegangan para pegiat alam lainnya. Buku ini ditulis oleh orang-orang hebat," ujar Don.
Alam Ruang Belajar Paling Jujur
Prof Wahyu Wibowo dalam tanggapannya memberikan apresiasi tinggi terhadap hadirnya buku EXPA. Ia mengulasnya dari sisi filosofis dan post-truth (pascakebenaran), yakni ketika fakta objektif tidak lagi berpengaruh dalam membentuk opini publik.
"Jika kita menyimak hasil tulisan 27 penulis di RBMM, refleksi (peninjauan/perenungan atas pengalaman diri) demi mencari jati diri masih digarisbawahi oleh mereka. Ini menjadi menarik karena biasanya sebuah buku masa kini tidak diterbitkan dalam semangat old-fashioned seperti itu. Artinya, sesungguhnya lapis pembaca seperti apa yang mereka sasar?" tanyanya.
Anggota Federasi Mountaineering Indonesia DKI Jakarta, Umar Freudo, yang turut hadir juga memberikan apresiasinya.
"Buku ini bagus sekali karena tidak banyak yang membahas buku tentang mountaineering atau pendakian yang dikaitkan dengan pengembangan karakter," kata Umar.
Menurut Umar, alam adalah ruang belajar paling jujur sekaligus ruang prabahasa-tempat manusia belajar sebelum sempat dibentuk oleh kata-kata orang lain.
"Pantai itu menyenangkan, gunung itu menenangkan. Nah, buku ini saya lihat arahnya ke situ. Judulnya Ruang Belajar Menjadi Manusia, artinya manusia belajar mencari ketenangan, dan dengan tenang ia bisa berpikir jernih serta berperilaku baik. Teman-teman wajib baca dan beli karena buku ini berbeda dari yang pernah saya baca," kata Umar.
Sementara itu, Ketua EXPA, Darius Krisdanu, berharap buku ini bukan sekadar menjadi arsip perjalanan EXPA, melainkan juga sumber pengetahuan dan inspirasi bagi pencinta alam lintas generasi-sebuah dokumentasi yang merekam bagaimana alam menjadi guru sekaligus ruang belajar menjadi manusia.
Salah satu penulis dan editor yang bertindak sebagai moderator bedah buku, Endang Mariani, mengatakan peluncuran buku ini dapat menjadi titik awal untuk menerbitkan karya-karya selanjutnya, seperti buku panduan teknis berkegiatan di alam bebas.
"Buku perdana EXPA ini diharapkan dapat dilanjutkan dengan penerbitan seri buku panduan teknis berkegiatan di alam, seperti caving, rafting, wall climbing, rock climbing, hiking, mountaineering, hingga penanganan bencana, sesuai bidang keahlian masing-masing," ujarnya.
Tonton juga video "Bukan Warga Inggris! Ditjen AHU Sebut Anak Alumni LPDP Viral Masih WNI"
(yld/dek)

















































