BMKG Ungkap Anggaran 2027 Masih Kekurangan Rp 2,126 Triliun

1 hour ago 1

Jakarta -

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengungkap adanya backlog atau kekurangan anggaran untuk 2027. Faisal mengatakan total kebutuhan anggaran 2027 untuk BMKG mencapai Rp 4,649 triliun, sementara pagu yang tersedia hanya Rp 2,523 triliun.

"Untuk backlog anggaran 2027, berdasarkan Renstra, kebutuhan anggaran BMKG tahun 2027 mencapai Rp 4,649 triliun, sedangkan pagu anggaran yang tersedia adalah Rp 2,523 triliun. Terdapat backlog Rp 2,126 triliun," kata Faisal dalam rapat bersama Komisi V DPR, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terdiri atas ada uraiannya, backlog-nya di berbagai kebutuhan operasional, program dukungan manajemen, dan kegiatan kebutuhan non-operasional program MKG," sambungnya.

Faisal mengatakan pagu anggaran BMKG pada 2027 sebesar Rp2,523 triliun, dialokasikan untuk berbagai program. Di antaranya, program dukungan manajemen sebesar Rp 1,24 triliun dan program MKG sebesar Rp1,28 triliun.

"Untuk pagu 2027 sebesar Rp 2,523 triliun akan kami optimalkan untuk menjaga operasional, memperkuat infrastruktur MKG, memelihara peralatan operasional, dan meningkatkan kualitas informasi dan peringatan dini," jelasnya.

BMKG juga mengalokasikan anggaran untuk sejumlah program prioritas pada 2027. Di antaranya Sekolah Lapang Gempa Bumi dengan sasaran 2.370 peserta, Sekolah Lapang Iklim, pemeliharaan 314 unit alat utama MKG di pusat dan 1.914 unit di daerah.

"Untuk SBSN dananya sebesar Rp 273,89 miliar, ini untuk berbagai kegiatan terutama pembangunan infrastruktur gedung layanan di 20 lokasi," katanya.

"Kemudian juga yang terpenting terkait dengan pembangunan 3 unit radar C-Band di Bali, Aceh, dan di Padang, dan 1 unit radar maritim X-Band di Manado," sambungnya.

Lebih lanjut, Faisal menjelaskan realisasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga saat ini telah mencapai lebih dari 95%. OMC, kata dia, dilakukan sebagai upaya dini untuk mengurangi risiko hidrometeorologi ekstrem dan memenuhi kebutuhan air.

"Untuk Operasi Modifikasi Cuaca, ini juga terus berjalan untuk aksi dini pengurangan hidrometeorologi ekstrem dan pemenuhan kebutuhan air telah mencapai realisasi di atas 95%," jelasnya.

Dia mengatakan BMKG juga menjalankan sejumlah program strategis lainnya pada 2026. Di antaranya Sekolah Lapang Iklim, Sekolah Lapang Gempa Bumi, dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan.

Lihat Video 'Peta Kalimantan Dipenuhi Titik Merah, Warganet Gaungkan Pray for Kalimantan!':

(amw/azh)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |