Trump Warning Netanyahu, Negosiasi Iran Tetap Lanjut

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran harus terus dilanjutkan, meski Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mendorong sikap yang lebih keras terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump usai pertemuan tertutup selama sekitar tiga jam dengan Netanyahu di Gedung Putih, Rabu (11/2/2025). Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan belum ada kesepakatan final yang dicapai selain komitmen untuk melanjutkan jalur diplomasi.

"Tidak ada kesepakatan pasti yang dicapai selain saya bersikeras bahwa negosiasi dengan Iran harus dilanjutkan untuk melihat apakah kesepakatan dapat dicapai atau tidak," tulis Trump, seperti dikutip AFP, Kamis (12/2/2026).

Trump menambahkan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama Amerika Serikat, namun membuka kemungkinan langkah lain jika negosiasi menemui jalan buntu.

"Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi pilihan. Jika tidak, kita hanya perlu melihat apa hasilnya," ujar Trump, seraya mengingatkan soal serangan AS terhadap program nuklir Iran tahun lalu.

Netanyahu sendiri datang ke Washington dengan agenda utama mendorong agar program rudal balistik Iran dimasukkan dalam setiap kesepakatan apa pun. Ini merupakan pertemuan ketujuh Netanyahu dengan Trump sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS.

Dalam pernyataannya, kantor Netanyahu menyebut sang perdana menteri telah "bersikeras pada kebutuhan keamanan negara Israel sehubungan dengan negosiasi" mengenai Iran. Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa pembahasan dengan Trump akan "pertama dan terutama" menyangkut isu Iran, selain Gaza dan persoalan kawasan lainnya.

"Saya akan menyampaikan kepada presiden pandangan kami mengenai prinsip-prinsip untuk negosiasi," kata Netanyahu dalam pernyataan video sebelum bertolak ke AS.

Sikap Trump dinilai berada di tengah antara diplomasi dan ancaman militer. Di satu sisi, Washington dan Teheran kembali membuka pembicaraan pekan lalu melalui pertemuan di Oman. Namun di sisi lain, Trump juga mengisyaratkan opsi militer terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengaku tengah mempertimbangkan pengiriman kelompok serang kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.

"Entah kita akan membuat kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti terakhir kali," kata Trump. "Kita memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul."

Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan memperluas pembahasan dengan AS di luar isu program nuklirnya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan tunduk pada tuntutan yang dianggap berlebihan.

"Kami tidak akan menyerah pada tuntutan yang berlebihan," ujar Pezeshkian, sambil menegaskan bahwa Iran "tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir."

Kunjungan Netanyahu ke Washington juga mencakup isu Gaza dan Tepi Barat. Netanyahu secara resmi bergabung dengan apa yang disebut sebagai "Dewan Perdamaian" bentukan Trump, yang awalnya ditujukan untuk mengawasi gencatan senjata di Gaza dan kini diposisikan sebagai alternatif potensial bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel, menyusul langkah pemerintahnya memperketat kendali atas Tepi Barat yang diduduki, termasuk dengan mengizinkan pemukim Israel membeli tanah secara langsung dari pemilik Palestina.

(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |