Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono terus menggeber pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), sebagai upaya meningkatkan kualitas hasil tangkapan nelayan sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat pesisir. Salah satu perubahan utama yang didorong pemerintah ialah, penggunaan teknologi slurry ice untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan.
Trenggono mengatakan, perubahan paling mendasar dalam program tersebut adalah sistem penyimpanan ikan yang tak lagi menggunakan balok es konvensional.
"(Dengan adanya Kampung Nelayan Merah Putih) kita melakukan perubahan yang sangat fundamental, yaitu tentang kualitas perikanan kita. Nah, kalau dulu ikannya itu dari laut tapi esnya menggunakan balok es yang dihancurkan menggunakan tombak," kata Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, penggunaan balok es membuat kualitas ikan lebih cepat menurun. Karena itu, pemerintah mulai menggantinya dengan slurry ice, yakni es berbahan air laut yang didinginkan sehingga mampu menjaga kualitas ikan lebih lama.
"Jadi sekarang kita rubah bukan es balok lagi, tapi slurry ice. Bahannya dari air laut yang kita dinginkan dan dia masuk ke pori-pori ikan itu tadi. Sehingga sekali pancing es itu bisa tahan sampai tiga hari mereka baru turun ke TPI (tempat pelelangan ikan). Jadi kualitas ikannya hampir setara dengan kualitas ikan yang dihasilkan oleh negara-negara maju di luar sana," ujarnya.
Ia bahkan mengklaim perbedaan kualitas ikan sangat terlihat ketika direndam menggunakan slurry ice.
"Kita berikan produk di Kampung Nelayan Merah Putih itu berikut dengan es-nya. Lihat itu mata ikannya, matanya itu masih seperti kayak hidup, bening sekali," ucap dia.
Ditemui usai rapat, Trenggono menambahkan, penggunaan slurry ice kini menjadi standar dalam pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Dari 65 titik yang sudah selesai dibangun, sekitar 60 lokasi telah menggunakan teknologi tersebut.
Foto: Kampung Nelayan Merah Putih Gorontalo. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
"65 titik itu mungkin hanya ada beberapa, ada lima saja yang masih menggunakan balok, tapi semuanya sudah slurry ice. Hanya lima kampung nelayan yang nggak slurry ice, karena jarak saja (dia nggak bisa dipasangkan infrastruktur slurry ice). Karena dia jarak dari air lautnya susah.Kalau yang 1.000 ini nanti semuanya pakai slurry ice," kata Trenggono kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di lokasi.
Adapun 1.000 titik tersebut merupakan target pembangunan kampung nelayan pada tahun ini. Hingga saat ini, sebanyak 65 titik telah rampung dibangun, sementara 35 titik lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Tak hanya slurry ice, pemerintah juga menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih. Mulai dari tambatan perahu, dermaga, bengkel kapal, toko logistik melaut, cold storage hingga SPBN.
Adapun program prioritas Kampung Nelayan Merah Putih 2025-2026 ditargetkan menjangkau 1.369 lokasi kampung nelayan di seluruh Indonesia. Program itu diproyeksikan menyentuh sekitar 563.600 nelayan dan sekitar 2,2 juta keluarga nelayan.
KKP memperkirakan pembangunan tersebut mampu menghasilkan produksi perikanan hingga sekitar 2,82 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp56 triliun. Selain itu, program ini juga ditargetkan mampu meningkatkan rata-rata pendapatan nelayan menjadi Rp7,7 juta per bulan dan menyerap sekitar 50 ribu tenaga kerja.
Trenggono mengatakan, keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih baru bisa diukur dalam satu hingga dua tahun ke depan, terutama dari sisi produktivitas dan kesejahteraan nelayan.
"Jadi (Kampung Nelayan Merah Putih) kita baru bisa evaluasi setelah terjadi kenaikan produktivitas, setelah terjadi kenaikan kesejahteraan nelayan, itu satu atau dua tahun kemudian. Itu kan nggak bisa langsung ya," katanya.
Ke depan, pemerintah juga menargetkan pembangunan kampung nelayan dalam skala lebih besar. Dari total sekitar 12 ribu desa pesisir di Indonesia, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 titik kampung nelayan hingga akhir 2029.
"Nah, kemudian kalau ini berhasil dibangun, totalnya itu ada 12.000 Desa Pesisir sebetulnya. 12.000 Desa Pesisir, maka kami ditargetkan sampai akhir 2029 itu betul-betul bisa membangun 5.000 titik," sebut dia.
Trenggono menuturkan, proyek tersebut turut melibatkan TNI untuk membantu pembangunan di wilayah-wilayah terpencil seperti Papua, Maluku, Maluku Utara, hingga Aceh.
Selain perikanan tangkap, pemerintah juga menyiapkan tahap lanjutan berupa pengembangan budidaya laut di sekitar Kampung Nelayan Merah Putih.
"Jadi kalau sekarang nelayan itu masih hunting ke laut, tapi mungkin lima tahun yang akan datang mereka sudah mulai satu kampung itu dia punya zona budidaya di dekat situ. Kayak di China begitu. Nah sehingga betul-betul orientasi kita ke nelayan," pungkas Trenggono.
(wur)
Addsource on Google


















































