28 Tahun Reformasi: Rupiah Terkuat Era SBY dan Habibie, Terlemah Kapan?

1 hour ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

21 May 2026 11:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat memasuki 28 tahun reformasi Indonesia pada hari ini, Kamis (21/5/2026). Momen yang menjadi pengingat atas peristiwa penting bagi sejarah Indonesia, yakni runtuhnya rezim Orde Baru yang ditandai dari mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Gerakan Reformasi lahir dari krisis panjang yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an hingga puncaknya adalah jatuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998.

Tekanan ekonomi, gejolak politik, ketidakpuasan terhadap pemerintahan, aksi demonstrasi besar-besaran, hingga tragedi Trisakti menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang akhirnya mendorong perubahan besar dalam sistem politik dan pemerintahan Indonesia.

Namun, Reformasi tidak hanya meninggalkan catatan politik. Peristiwa ini juga menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan ekonomi Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada saat reformasi terjadi hampir dekade lalu, rupiah berada di level Rp11.250/US$. Namun, tepat 28 tahun setelahnya, melansir data Refinitiv, pada pukul 09.45 WIB Kamis (21/5/2026), rupiah bergerak di level 17.665/US$.

Artinya, sejak reformasi rupiah sudah melemah sekitar 57%.

Titik Terlemah Rupiah Sejak Reformasi

(1) Mei-Juni 1998

Setelah tekanan 1997, rupiah memasuki fase paling kelam pada Mei hingga Juni 1998.

Data Refinitiv memperlihatkan pada 16 Juni 1998, rupiah ambruk hingga ditutup pada level terendah sepanjang masa di level Rp15.200/US$. Namun, secara intraday rupiah sempat menyentuh level Rp16.800/US$.

Tekanan ekstrem ini terjadi karena krisis ekonomi melebar menjadi krisis politik dan sosial.

Penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 memicu kerusuhan besar, penjarahan, dan pembakaran di Jakarta serta sejumlah kota lain, membuat investor menarik dana besar-besaran. Ketidakpastian kian memuncak ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, sementara pasar masih ragu terhadap stabilitas pemerintahan baru di bawah B.J. Habibie.

(2) April 2001

Memasuki era reformasi, rupiah kembali tertekan pada April 2001 hingga bergerak di kisaran Rp10.500 sampai Rp12.000/US$.

Pemicu utamanya adalah ketidakpastian politik yang meningkat, saat ketegangan antara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan DPR dan MPR memuncak seiring rencana sidang istimewa untuk pemberhentian presiden.

Di saat yang sama, hubungan pemerintah dengan IMF memburuk karena pencairan pinjaman tertunda akibat reformasi ekonomi dinilai berjalan lambat, sehingga sentimen pasar valas ikut memburuk.

(3) Oktober-November 2008

Salah satu masa kelam rupiah juga terjadi pada 2008. Pada Oktober sampai November tahun itu, tekanan rupiah datang dari luar negeri melalui krisis finansial global yang berawal dari runtuhnya pasar perumahan AS dan memuncak saat Lehman Brothers bangkrut pada September 2008.

Kepanikan membuat investor global menarik dana dari emerging markets dan memindahkannya ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Rupiah yang sempat stabil di kisaran Rp9.000-an/US$ pada Agustus 2008 kemudian merosot ke Rp12.100 sampai Rp12.600/US$ pada November 2008.

(4) September 2015

Tekanan besar bagi rupiah kembali terjadi pada 2015. Hingga 14 September 2015, rupiah tercatat melemah 15,87% sepanjang tahun tersebut dengan ditutup di level Rp14.645/US$ di bulan tersebut.

Depresiasi dipicu berkurangnya arus modal asing akibat sentimen global, terutama normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral AS dan devaluasi yuan China.

Di saat kebutuhan valas tinggi tidak diimbangi pasokan valas di pasar, terjadi kelebihan permintaan devisa sehingga rupiah terus tertekan sepanjang semester I 2015.

(5) September-Oktober 2018

Pada September sampai Oktober 2018, rupiah melemah seiring gejolak di sejumlah negara emerging market. Rupiah sempat ditutup pada level Rp15.230/US$ pada 11 Oktober 2018.

Dari sisi eksternal, melemahnya mata uang Turki, Argentina, dan negara lain membuat investor memburu aset aman seperti dolar AS, yen, dan surat utang AS.

(6) Maret 2020

Salah satu momen pelemahan rupiah yang cukup dalam terjadi pada Maret 2020. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.550/US$ dan anjlok 13,67% sepanjang Maret 2020, bahkan menembus level psikologis Rp16.000/US$ yang menjadi level terlemah sejak krisis 1998. Pemicu utamanya adalah kepanikan global akibat pandemi Covid-19.

Pengumuman kasus pertama di Indonesia pada awal Maret serta rencana pembatasan aktivitas memperburuk sentimen terhadap prospek ekonomi. Investor asing menarik dana besar-besaran dari pasar saham dan SBN Indonesia untuk berpindah ke safe haven seperti dolar AS.

(7) Mei-Juni 2024

Pada Juni 2024, rupiah kembali menembus level Rp16.400/US$, menjadi titik terendah sejak masa pandemi April 2020.

Tekanan terutama berasal dari faktor eksternal, yakni kebijakan suku bunga The Fed yang bertahan tinggi lebih lama karena inflasi AS belum turun sesuai target.

Suku bunga The Fed tercatat berada di 5,25%-5,50% dan bertahan dari Juli 2023 hingga Agustus 2024 atau sekitar satu tahun. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan memicu penarikan modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

(8) April 2025

Rupiah tertekan tajam pada April 2025 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif pada 2 April 2025.

Sentimen ini memicu gejolak pasar keuangan global, diikuti penguatan DXY dan kenaikan imbal hasil US Treasury.

Pada Selasa 8 April 2025, rupiah ditutup melemah 1,84% ke level Rp16.850/US$.

Rupiah juga tercatat ditutup di Rp16.865/US$ sebagai titik terlemah sepanjang 2025 saat itu. Bahkan rupiah sempat menyentuh Rp16.970/US$ pada 9 April 2025 pukul 09.40 WIB, yang menjadi posisi terlemah intraday sepanjang masa.

Investor global kembali memprioritaskan aset berbasis dolar karena pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga The Fed lebih sempit dari ekspektasi awal.

(9) Awal Januari 2026

Memasuki awal 2026, rupiah kembali mencatat level terlemah sepanjang masanya. Setelah sempat menutup perdagangan Kamis 15 Januari 2026 di Rp16.880/US$, tekanan berlanjut hingga pada perdagangan Senin 19 Januari 2026 rupiah ditutup di Rp16.935/US$ dan menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa.

Faktor eksternal kembali dominan, seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya minat pasar pada aset berdenominasi dolar. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan The Fed di tengah rilis data ekonomi AS yang relatif solid, mulai dari inflasi produsen November yang naik tipis hingga penjualan ritel yang lebih kuat dari perkiraan.

Di sisi lain, Donald Trump menyatakan tidak memiliki rencana memecat Ketua The Fed Jerome Powell, meredam kekhawatiran soal independensi bank sentral AS.

Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan, dengan peluang pemangkasan mulai terbuka pada pertengahan tahun.

Dari dalam negeri, defisit APBN 2025 sebesar 2,92% atau Rp695,1 triliun turut menambah tekanan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fiskal Indonesia.

(10) Mei 2026

Tekanan terhadap rupiah semakin dalam pada Mei 2026. Setelah sebelumnya menembus level psikologis Rp17.000/US$ dan terus mencetak rekor pelemahan baru, rupiah kembali terpuruk hingga menembus level Rp17.700-an/US$.

Level tersebut menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa yang baru, sekaligus menandai bahwa mata uang Garuda kini telah menembus level psikologis baru di Rp17.700/US$.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat menyentuh level Rp17.745/US$ pada perdagangan 20 Mei 2026. Sementara pada perdagangan 19 Mei 2026, rupiah ditutup di level Rp17.695/US$, menjadi salah satu level penutupan terlemah sepanjang masa.

Namun, setelah mencapai level tersebut, rupiah tidak lagi mampu kembali ke posisi terkuatnya. Sejak saat itu, mata uang Garuda cenderung bergerak melemah dan semakin menjauh dari level Rp8.400-an/US$.

Titik Terkuat Rupiah Pasca Reformasi

(1) Juni-Juli 1999

Setelah mengalami tekanan besar pada masa krisis 1998, rupiah berhasil berbalik menguat tajam pada awal Reformasi. Mata uang Garuda mampu dibawa turun ke kisaran Rp6.500-Rp6.600/US$ pada Juni-Juli 1999.

Penguatan ini terjadi seiring pulihnya kepercayaan pasar terhadap pemerintahan baru di bawah Presiden B.J. Habibie.

Saat itu, kepercayaan pasar mulai membaik setelah pemerintah melakukan sejumlah langkah besar, mulai dari restrukturisasi perbankan, penguatan independensi Bank Indonesia, hingga kebijakan moneter ketat.

Salah satunya melalui Sertifikat Bank Indonesia atau SBI, yang bunganya sempat melonjak ke kisaran 70% per tahun pada masa krisis 1998.

Langkah ini ikut membantu menyerap likuiditas, menarik kembali dana ke sistem perbankan, dan meredam tekanan terhadap rupiah.

(2) Agustus 2011

Fase penguatan pada nilai tukar rupiah juga kembali terlihat pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Penguatan ini menjadi pembalikan setelah rupiah sempat ikut tertekan akibat krisis keuangan global 2008.

Rupiah yang sempat melemah saat krisis perlahan kembali menguat, seiring pemulihan ekonomi domestik, derasnya aliran modal asing ke pasar negara berkembang, serta daya tarik imbal hasil aset rupiah.

Rupiah kemudian berhasil menguat hingga turun ke bawah level Rp8.500/US$. Puncaknya terjadi pada 1 Agustus 2011, ketika mata uang Garuda ditutup menguat di posisi Rp8.455/US$.

Namun, setelah mencapai level tersebut, rupiah tidak lagi mampu kembali ke posisi terkuatnya. Sejak saat itu, mata uang Garuda cenderung bergerak melemah dan semakin menjauh dari level Rp8.400-an/US$.

Tahun Berapa Rupiah Paling Kuat Sejak Orde Baru Runtuh?

Penguatan tahunan terbesar rupiah terjadi pada 2002, yakni sebesar 13,62%. Itu terjadi ketika Indonesia berada di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, penguatan tajam tahunan pada mata uang Garuda juga terjadi pada 2009, ketika rupiah menguat 13,18% dalam setahun. Kenaikan ini menjadi pembalikan setelah rupiah sempat tertekan dalam pada 2008 akibat krisis finansial global.

Saat itu, rupiah sempat melemah ke kisaran Rp12.000/US$ pada 2008, sebelum kembali menguat ke area Rp8.500-an/US$ pada 2009. Ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo  Bambang Yudhoyono (SBY). 

Sementara itu, 1999 juga menjadi salah satu tahun dengan penguatan terbesar. Rupiah tercatat menguat 10,58% pada tahun tersebut, yakni pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.

Namun, perlu dicatat, penguatan tajam pada 1999 juga terjadi setelah rupiah melemah sangat dalam pada tahun sebelumnya. Pada 1998, rupiah anjlok 44,4%, menjadi pelemahan tahunan terdalam sejak periode tersebut.

Di sisi lain, rupiah juga beberapa kali mencatat pelemahan besar secara tahunan. Selain 1998, tekanan tajam juga terlihat pada 2000, ketika rupiah melemah 37,99%, serta pada 2013 ketika rupiah melemah 26,27%.

Pada era Presiden Joko Widodo, data tahunan juga menunjukkan rupiah lebih sering terdepresiasi secara kumulatif setahun. Dari 2014 hingga 2024, rupiah hanya mencatat penguatan tahunan pada 2016, 2019, dan 2023. Sementara pada tahun lainnya, rupiah lebih banyak berada di zona pelemahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |