Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya menjaga kelestarian primata Indonesia yang memiliki peran vital dalam ekosistem alam.
Menurut Ibas, Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, flora dan fauna, termasuk spesies primata langka seperti orangutan, lutung, yaki dan kukang. Namun, apesies asli Indonesia saat ini kini terancam punah akibat kerusakan habitat, deforestasi, dan perburuan ilegal.
"Meskipun Indonesia memiliki UU Konservasi dan regulasi perlindungan satwa lainnya, tantangan terhadap primata semakin kompleks. Deforestasi yang berkelanjutan dan perubahan iklim mengancam habitat mereka, sementara perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal memperburuk keadaan," ujar Ibas, dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konflik manusia-primata juga sering terjadi ketika habitat alami mereka semakin terbatas," sambungnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, Ibas mengajak semua pihak untuk bekerja sama, menciptakan solusi berkelanjutan. Ibas mengapresiasi langkah-langkah pemerintah, seperti moratorium deforestasi yang dimulai pada era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan penguatan kebijakan konservasi di bawah Presiden RI Prabowo Subianto.
"Namun, pelestarian primata membutuhkan kerja keras lebih lanjut," kata Ibas.
Ibas mengungkapkan sejumlah langkah strategis yang harus diterapkan, di antaranya pemberdayaan masyarakat lokal melalui ekowisata; konservasi berbasis komunitas; konservasi habitat yang integratif; pendidikan dan sosialisasi, pengembangan ekonomi berbasis satwa; penegakan hukum yang tegas; pengurangan kemiskinan melalui pembangunan berkelanjutan; serta kemitraan internasional.
Di akhir sambutannya, Ibas mengutip pernyataan Al Gore 'Our ability to reach unity in diversity will be the beauty and the test of our civilization'.
"Mari bersatu dalam keberagaman, menjaga kelestarian alam dan satwa primata Indonesia, dan memastikan pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas," ajak Ibas.
Paparan Akademisi: Primata sebagai Aset Strategis Bangsa
Dalam kesempatan ini, peserta juga mendapatkan kesempatan paparan dari Guru Besar SKHB IPB Bidang Primatologi dan Ketua Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB Prof drh Huda Shalahudin Darusman.
Prof Huda menyoroti peran riset biomedis dan bioteknologi primata dalam pengembangan vaksin, deteksi penyakit, serta inovasi kesehatan global, sekaligus mengingatkan ancaman triple planetary crisis terhadap biodiversitas.
"Indonesia, dengan kekayaan spesies primata terlengkap di dunia, dinilai memiliki potensi besar untuk membangun model pemanfaatan berkelanjutan yang tidak eksploitatif dan berpihak pada kepentingan nasional," kata Prof Huda.
Sementara itu, Dr Puji Riyanti dari PSSP IPB menekankan pentingnya mitigasi konflik manusia-primata yang berbasis sains dan perencanaan wilayah. Salah satu pendekatan yang didorong ialah penanaman pakan alami di zona penyangga antara hutan dan permukiman guna mencegah primata memasuki area manusia.
Ia juga membuka wacana pengendalian populasi secara beradab melalui sterilisasi dan kerja sama internasional berbasis kajian populasi.
"Primata memiliki nilai strategis, termasuk untuk riset kesehatan dan pengembangan obat, sehingga tidak boleh ditangani dengan cara-cara destruktif," kata Dr Puji.
Kepala UP Taman Ragunan drh Endah Rumiyati menegaskan peran Ragunan sebagai 'benteng terakhir; konservasi untuk menjaga kesehatan, perkembangbiakan, dan keberlanjutan biodiversitas bagi generasi mendatang.
Ia juga memaparkan profil Taman Margasatwa Ragunan (TMR) yang memiliki luas 127 hektare, dengan 10,97 hektare di antaranya merupakan Pusat Primata, serta menjadi kebun binatang tertua kedua di dunia dengan usia 161 tahun.
"Saat ini, TMR merawat sekitar 2.280 satwa, termasuk 25 jenis primata di Pusat Primata dengan total 251 ekor," kata drh Endah.
Menanggapi diskusi tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto menyampaikan dukungan negara terhadap konservasi perlu diwujudkan secara konkret.
Anton menegaskan kebutuhan dasar seperti kesejahteraan pegawai, fasilitas, pakan satwa, hingga dukungan bagi para peneliti dan ilmuwan harus menjadi perhatian bersama.
"Apabila terdapat kekurangan, menurutnya hal tersebut dapat dikomunikasikan untuk dicarikan solusi melalui mekanisme lembaga negara," jelas Anton.
Sementara itu, Kapoksi Komisi IV DPR RI Bambang Purwanto menegaskan dukungan pihaknya terhadap upaya konservasi yang dijalankan TMR.
Bambang menyampaikan pihak Ragunan dapat secara terbuka melaporkan apabila masih terdapat kebutuhan fasilitas maupun dukungan anggaran pemeliharaan.
Hal tersebut, menurutnya, dapat dikomunikasikan dan diperjuangkan bersama di Komisi IV sesuai dengan mekanisme dan kewenangan yang berlaku.
Diskusi ini menjadi langkah penting untuk merumuskan kebijakan pelestarian primata yang melibatkan semua lapisan masyarakat dan sektor terkait, agar Indonesia tetap menjadi rumah yang lestari bagi seluruh satwa dan ekosistemnya.
Peninjauan Langsung ke Pusat Primata Schmutzer
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ibas juga melakukan peninjauan langsung ke Pusat Primata Schmutzer Jakarta, kawasan seluas 13 hektare yang mengusung konsep open zoo. Ibas melihat langsung ikon koleksi satwa seperti orangutan dan gorila, bahkan sempat memberi makan gorila sambil berdialog dengan pengelola dan pembina TMR.
Di akhir kunjungan, ia menyerahkan dukungan fasilitas berupa tiga unit tempat sampah besar untuk menunjang kebersihan dan pengelolaan lingkungan kawasan tersebut.
Sebagai informasi, kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pimpinan TMR dan perwakilan PSSP IPB University. Dari unsur legislatif, acara ini dihadiri Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, yaitu Wakil Ketua Komisi I Anton Sukartono Suratto, Kapoksi Komisi IV Bambang Purwanto, Anggota Komisi IV Ellen Esther Pelealu, dan Komisi IV Hasan Saleh.
Kehadiran legislatif dalam kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam memperkuat upaya perlindungan primata dan pelestarian ekosistem Indonesia.
(akd/akd)

















































