Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang mencatat tonggak sejarah baru dalam angka harapan hidup setelah jumlah penduduk berusia 100 tahun atau lebih menembus 100.000 orang untuk pertama kalinya. Namun, pencapaian tersebut juga menyoroti tantangan demografi yang semakin serius, seiring menyusutnya populasi usia produktif dan rendahnya angka kelahiran.
Melansir Aljazeera, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang dirilis pada Selasa (15/9/2026), sebanyak 107.677 orang berusia 100 tahun ke atas tercatat tinggal di negara tersebut. Jumlah itu meningkat 7.914 orang dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi selama 56 tahun berturut-turut.
Dari keseluruhan jumlah tersebut, sebanyak 94.298 orang atau sekitar 87,6 persen merupakan perempuan. Data ini mempertegas posisi Jepang sebagai salah satu negara dengan populasi tertua di dunia.
Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno menyambut positif pencapaian tersebut. Ia menyatakan kegembiraannya melihat semakin banyak masyarakat yang dapat menjalani kehidupan panjang, sehat, dan tetap aktif.
Ueno mengaitkan peningkatan usia harapan hidup dengan kemajuan teknologi medis, perbaikan pola makan, serta gaya hidup sehat. Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial di tengah populasi yang terus menua.
Populasi Lansia Terus Bertambah
Di balik kabar positif tersebut, Jepang menghadapi persoalan demografi yang kompleks. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sementara angka kelahiran berada di titik terendah sepanjang sejarah.
Hampir tiga dari setiap 10 penduduk Jepang kini berusia 65 tahun atau lebih. Proporsi tersebut diproyeksikan mendekati 40 persen pada 2070.
Pada 2025, tingkat kesuburan total Jepang tercatat hanya 1,14 anak per perempuan, jauh di bawah angka sekitar 2,1 yang umumnya dibutuhkan untuk mempertahankan populasi stabil tanpa bergantung pada imigrasi.
Situasi ini menyebabkan jumlah penduduk Jepang terus menyusut. Data proyeksi pemerintah memperkirakan populasi negara tersebut turun dari sekitar 128 juta jiwa pada 2008 menjadi 87 juta jiwa pada 2070.
Mengapa Banyak Warga Jepang Berumur Panjang?
Tidak ada satu faktor tunggal yang menjelaskan tingginya jumlah penduduk berusia 100 tahun ke atas di Jepang. Para peneliti umumnya mengaitkannya dengan kombinasi pola makan, aktivitas sehari-hari, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Pola makan tradisional Jepang yang kaya ikan, sayuran, dan nasi, serta cenderung rendah lemak jenuh, kerap disebut sebagai salah satu faktor pendukung umur panjang.
Selain itu, aktivitas fisik seperti berjalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi umum menjadi bagian dari rutinitas masyarakat, termasuk kalangan lanjut usia. Kegiatan olahraga bersama dan keterlibatan dalam komunitas juga dapat membantu menjaga kebugaran serta hubungan sosial.
Sistem asuransi kesehatan universal Jepang turut berperan dengan memberikan akses luas terhadap layanan medis dan pengobatan.
Umur Panjang dan Beban Ekonomi
Meningkatnya jumlah warga lanjut usia membawa konsekuensi besar bagi perekonomian Jepang.
Semakin banyak penduduk memasuki masa pensiun, semakin besar pula kebutuhan terhadap dana pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan sosial. Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja yang membiayai sistem tersebut melalui pajak dan iuran jaminan sosial terus berkurang.
Kondisi ini menciptakan tekanan terhadap keuangan negara dan generasi pekerja muda. Berbagai sektor, mulai dari konstruksi, pertanian, transportasi, hingga layanan kesehatan dan perawatan lansia, juga menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja.
Wilayah pedesaan menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Perpindahan penduduk usia muda ke kota membuat sejumlah komunitas semakin didominasi warga lanjut usia, sementara tenaga kerja dan layanan publik kian terbatas.
Pemerintah Berupaya Membalikkan Tren Kelahiran
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah Jepang telah meluncurkan berbagai kebijakan, termasuk tunjangan anak, subsidi penitipan anak, program cuti orang tua, serta insentif lainnya untuk mendorong pasangan memiliki anak.
Namun, kebijakan tersebut belum berhasil membalikkan tren penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang.
Para ahli ilmu sosial mengaitkan rendahnya angka kelahiran dengan sejumlah faktor, seperti semakin banyaknya generasi muda yang menunda atau tidak memilih pernikahan, ketidakpastian pekerjaan, upah yang stagnan, serta beban pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.
Meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja juga belum selalu diikuti pembagian tanggung jawab domestik yang seimbang, sehingga keputusan membangun keluarga menjadi semakin kompleks.
Pemerintah Jepang pun menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara mendukung masyarakat lanjut usia dan menciptakan kondisi yang memungkinkan generasi muda membangun keluarga.
Penuaan populasi bukan hanya terjadi di Jepang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut peningkatan harapan hidup sebagai salah satu pencapaian terbesar manusia.
Menurut WHO, harapan hidup global mencapai 73,3 tahun pada 2024, meningkat 8,4 tahun dibandingkan 1995. Jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan meningkat dari 1,1 miliar pada 2023 menjadi 1,4 miliar pada 2030.
Namun, transisi demografi berlangsung lebih jauh di sejumlah negara. Berdasarkan estimasi PBB untuk 2023, usia median penduduk Jepang mencapai 49 tahun, disusul Italia 47,5 tahun, Portugal 46,2 tahun, Yunani 45,7 tahun, dan Jerman 45,1 tahun.
Dengan demikian, rekor lebih dari 100.000 warga berusia 100 tahun ke atas menjadi gambaran ganda bagi Jepang: keberhasilan dalam memperpanjang usia kehidupan, sekaligus tantangan besar untuk memastikan keberlanjutan ekonomi dan sistem sosial di tengah populasi yang semakin menua.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































