Begini Kondisi China di Masa Hidup Nabi Muhammad, Kini Raksasa Dunia

4 hours ago 3
Daftar Isi Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Jauh sebelum China dikenal sebagai raksasa ekonomi global, negeri tersebut telah menempati posisi penting dalam ingatan kolektif umat Islam. Salah satu ungkapan yang populer di kalangan Muslim bahkan mengaitkan nama China dengan anjuran Nabi Muhammad untuk mencari ilmu hingga ke negeri tersebut.

Ungkapan "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China" memang telah menyebar luas dalam tradisi Islam. Namun, para ulama hadis memperdebatkan keabsahan riwayat tersebut. Sejumlah ahli menilainya lemah, bahkan tidak dapat dipastikan sebagai sabda Nabi Muhammad. Kendati demikian, kalimat itu tetap menyimpan pesan simbolis tentang pandangan terhadap China sebagai pusat pengetahuan dan peradaban yang maju pada masa tersebut.

"Kalimatnya mengindikasikan China telah memiliki reputasi besar di negara-negara Arab pada saat itu," tulis Yang Fuchang dalam jurnal China-Arab Relations in the 60 Years' Evolution (2018).

China dan Kebangkitan Dinasti Tang

Ketika Nabi Muhammad hidup pada 570-632 Masehi, berbagai pusat peradaban dunia berkembang secara bersamaan. Di Asia Timur, China memasuki salah satu periode penting dalam sejarahnya melalui kemunculan Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-907 Masehi.

Dinasti Tang lahir pada 18 Juni 618 di bawah kepemimpinan Li Yuan, yang kemudian dikenal sebagai Kaisar Gaozu. Pendirian dinasti ini bertepatan dengan masa kehidupan Nabi Muhammad yang ketika itu berusia sekitar 48 tahun.

Di bawah pemerintahan Li Yuan, China mulai membangun kembali stabilitas politik dan ekonomi setelah periode pergolakan. Penyatuan wilayah serta penguatan aktivitas perdagangan menjadi fondasi bagi perkembangan kekaisaran tersebut.

Sejumlah catatan sejarah mengenai Dinasti Tang menggambarkan periode ini sebagai salah satu masa keemasan peradaban China. Perdagangan internasional berkembang, kota-kota besar menjadi pusat pertukaran budaya, dan hubungan dengan berbagai kawasan di Asia semakin intensif.

Sutra, Keramik, dan Jalur Perdagangan Dunia

Kemajuan ekonomi China pada era Tang tidak terlepas dari perdagangan berbagai komoditas bernilai tinggi. Sutra, kain, keramik, kertas, serta barang-barang lainnya menjadi bagian dari produk yang diperdagangkan ke berbagai wilayah.

Aktivitas niaga tersebut berlangsung melalui dua jalur utama, yakni jalur darat dan jalur laut. Jalur Sutra menghubungkan China dengan Asia Tengah hingga kawasan Timur Tengah, sedangkan rute maritim mempertemukan pelabuhan-pelabuhan China dengan jaringan perdagangan internasional.

Pertukaran ini tidak sekadar memindahkan barang dari satu wilayah ke wilayah lain. Pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan gagasan turut menyebar melalui interaksi para pedagang serta masyarakat dari berbagai peradaban.

Dalam konteks inilah China mulai memiliki hubungan tidak langsung dengan dunia Arab.

Makkah, yang menjadi tempat tinggal Nabi Muhammad, dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Jazirah Arab.

Makkah, Titik Temu Peradaban

Sejarawan Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad Sang Nabi (2001) menggambarkan Makkah sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan kawasan Mediterania Timur dengan berbagai pusat peradaban, termasuk China.

Posisi Makkah sebagai kota dagang membuat masyarakat Arab memiliki akses terhadap informasi mengenai wilayah-wilayah yang berada jauh di luar Jazirah Arab. China pun dikenal sebagai salah satu negeri yang memiliki kekayaan, produk dagang, serta tradisi peradaban yang mengesankan.

Jarak geografis yang sangat jauh tidak menghalangi terbentuknya pengetahuan mengenai China. Melalui jalur perdagangan, kabar tentang negeri tersebut dapat menjangkau masyarakat Arab bahkan sebelum dunia Barat mengenal benua Amerika dan Australia secara luas.

Kisah Awal Hubungan Islam dan China

Hubungan antara dunia Islam dan China juga berkembang melalui kisah-kisah tradisional mengenai kedatangan para sahabat Nabi Muhammad ke negeri tersebut.

Salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan sejarah awal Islam di China adalah Sa'ad bin Abi Waqqas. Dalam tradisi Muslim China, ia disebut pernah melakukan perjalanan ke China untuk memperkenalkan ajaran Islam.

Namun, kisah tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Tidak terdapat bukti sejarah yang kuat bahwa Sa'ad bin Abi Waqqas benar-benar melakukan perjalanan ke China pada masa yang disebutkan dalam berbagai riwayat tradisional.

Meski demikian, kedatangan pedagang dan utusan Muslim ke China pada masa Dinasti Tang memiliki dasar sejarah yang lebih kuat. Hubungan tersebut berkembang melalui jaringan perdagangan darat dan laut, terutama di kota-kota pelabuhan seperti Guangzhou.

Kontak awal ini kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya komunitas Muslim di China.

Dari Pusat Peradaban Menjadi Kekuatan Ekonomi Global

Ratusan tahun setelah masa kejayaan Dinasti Tang, China kembali menempati posisi strategis dalam percaturan dunia. Bedanya, pengaruh tersebut kini tidak hanya dibangun melalui perdagangan sutra atau keramik, melainkan juga melalui industri modern, teknologi, investasi, dan kekuatan ekonomi.

Dalam beberapa dekade terakhir, China berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur terbesar dunia. Produk-produk industrinya menjangkau berbagai negara, sementara perusahaan dan investasinya memainkan peran penting dalam rantai pasok global.

Negara ini juga memperluas pengaruhnya di sektor teknologi, energi, infrastruktur, dan industri strategis. Perkembangan tersebut menjadikan China sebagai salah satu aktor utama dalam dinamika ekonomi dan geopolitik internasional.

Perjalanan sejarah China memperlihatkan kesinambungan antara masa lalu dan masa kini. Negeri yang dahulu dikenal melalui reputasi ilmu pengetahuan dan perdagangan kini tampil sebagai kekuatan global dengan pengaruh luas.

Ungkapan tentang menuntut ilmu hingga ke China, meskipun status hadisnya diperdebatkan, pada akhirnya memperoleh konteks sejarah yang menarik. China bukan hanya nama yang hadir dalam tradisi keilmuan Islam, tetapi juga peradaban yang selama berabad-abad terus membentuk dan dibentuk oleh hubungan antarbangsa.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |