Rekor Langka di RI! IHSG Hijau Royo-Royo Saat BI Rate dan Pertamax Naik

4 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam IHSG dan Rupiah menguat sementara SBN kembali melemah
  • Wall Street berakhir beragam, Dow Jones melemah
  • Rilis data Laporan Survei Konsumen Indonesia, kenaikan suku bunga, kenaikan harga BBM, inflasi AS, dan inflasi China menjadi penggerak utama pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri akhirnya ditutup menguat tinggi pada perdagangan kemarin Selasa (9/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup menguat menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah namun imbal hasil SBN tetap kembali melambung tinggi.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini walaupun kemarin sudah ditutup menguat. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada sesi 2 kemarin, Selasa (9/6/2026). Pada penutupan perdagangan, IHSG terbang 7,57% atau 404,51 poin ke level 5.746,65.

Sebanyak 678 saham naik, 89 turun, dan 48 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 27,77 triliun, melibatkan 44,70 miliar saham dalam 2,70 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 10.120 triliun.

Asing masing mencatat net sell sebesar Rp2,4 triliun pada perdagangan kemarin. 

Seluruh sektor perdagangan menguat kemarin dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor utilitas (13,51%), barang baku (10,61%), finansial (6,84%) dan energi (6,52%).

Saham-saham perbankan dan big caps blue chip menjadi penopang utama kinerja IHSG kemarin. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 29,79 indeks poin, Bank Central Asia (BBCA) +28,10 indeks poin,Telkom Indonesia (TLKM) +25,06 indeks poin dan Bank Mandiri (BMRI) +24,25 indeks poin.

IHSG lompat menyusul pertemuan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas), dan sejumlah stakeholder sektor keuangan lainnya di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).

Turut hadir dalam pertemuan Ketua Himbara yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Putrama Wahju Setiawan dan Ketua Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hery Gunardi. Hadir pula Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Kepala Badan Pengaturan BUMN/COO Danantara Indonesia Dony Oskaria.

"Pada hari ini Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melakukan koordinasi dan serta evaluasi terhadap situasi pada saat ini berkaitan dengan situasi perbankan di tanah air," ujar Dasco kemarin.

Ia mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai situasi perbankan dari Himbara dan Perbanas pada saat ini.

"Yang berdasarkan hasil diskusi perkembangannya sangat bagus," kata Dasco.

Lanjut ke mata uang Garuda, Rupiah pada kemarin ditutup menguat signifikan usai Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.

Pada siang kemarin Selasa (9/6/2026) pukul 12.30 WIB, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI rate sebesar 25 bps ke angka 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur Mingguan.

Melansir data Refinitiv, per pukul 15.00 WIB, rupiah berada di level Rp18.050/US$. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda menguat sekitar 0,66% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dengan posisi tersebut, rupiah mencatatkan penguatan terhadap dolar AS di mana pada hari sebelumnya kurs USDIDR berada di level pelemahan Rp18.170 atau terdepresiasi 0,89%.

Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah sejak pagi ini. DXY turun 0,14% ke posisi 99,908. Namun, posisi tersebut masih tergolong tinggi setelah DXY menguat tajam 0,66% pada perdagangan terakhir pekan lalu hingga kembali menembus level 100.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia kemarin, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali mengalami lonjakan secara signifikan ke level 7,404%, di mana pada hari sebelumnya Senin (8/6/2026) imbal hasil ID10Y ditutup pada level 7.313.

Lonjakan imbal hasil menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |