Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) resmi mengintegrasikan tiga lini bisnis hilir ke dalam satu entitas terpadu melalui pembentukan Sub Holding Downstream. Hal ini dilakukan dengan menggabungkan PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, serta segmen bisnis PT Pertamina International Shipping.
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) saat ini menjadi entitas penerima penggabungan tiga perusahaan tersebut. Adapun integrasi bisnis hilir ini berlaku per 1 Februari 2026.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan. Dengan sistem yang terintegrasi, koordinasi antar fungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan lebih efektif, dan investasi yang lebih optimal.
"Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke," ungkap Simon, dikutip Senin (9/2/2026).
Melalui Sub Holding Downstream, Pertamina menargetkan transformasi dalam lini bisnisnya, khususnya yang terkait dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat. Integrasi yang dilakukan tidak akan mengganggu pelayanan terhadap masyarakat maupun terhadap mitra bisnis dan pekerja, sebaliknya menargetkan penyediaan energi yang semakin handal untuk masyarakat melalui peningkatan kolaborasi lintas divisi serta memberikan dampak yang lebih besar bagi bangsa dan generasi mendatang dengan semangat Energizing Indonesia.
Di kesempatan yang berbeda, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menjelaskan, integrasi tersebut merupakan tindak lanjut langsung dari arahan pemerintah yang menginginkan perkuatan pasokan energi. Dia menyebutkan penyatuan kemampuan kilang, armada kapal, hingga jaringan distribusi ke masyarakat tersebut bertujuan agar perusahaan lebih optimal menghadapi tantangan global.
"Sesuai dengan arahan pemerintah untuk terus perkuat rantai pasok, dari 1 Februari 2026 memulai Sub Holding Downstream. Kemampuan kilang, shipping, dan distribusi, jadi satu sub holding agar Indonesia lebih kuat untuk hadapi geopolitik yang tinggi," ujar Oki dalam acara Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Merger tiga sub holding Pertamina dinilai mendesak mengingat ketidakpastian situasi geopolitik global yang berdampak langsung pada volatilitas pasar energi.
Pihaknya memproyeksikan akan terjadi perubahan signifikan pada harga minyak mentah (crude) dan produk BBM dunia, sehingga diperlukan manajemen rantai pasok yang solid dan terintegrasi penuh untuk memitigasi risiko tersebut.
"Karena akan ada perubahan harga crude dan BBM dunia, mudah-mudahan dengan penguatan kita bisa bantu Indonesia lebih kuat lagi untuk ketahanan energi," tambahnya.
Selain memperkuat ketahanan nasional, pembentukan Sub Holding Downstream tersebut juga ditargetkan bisa memangkas inefisiensi operasional.
Dengan menyatukan proses bisnis dari hulu pengolahan hingga ke tangan konsumen, pihaknya dapat mengurangi transaksi antar entitas yang sebelumnya dianggap sebagai transaksi eksternal, sehingga struktur biaya menjadi lebih efisien.
"Dengan hilir yang terintegrasi bisa efisien, dan bisa kurang eksternal transaksi, sehingga bisa lebih baik," tandasnya.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral turut merespons pembentukan Sub Holding Downstream Pertamina. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menilai pembentukan Sub Holding Downstream merupakan langkah positif. Terutama untuk memperkuat bisnis perusahaan di sektor hilir.
"Harapannya jadi ini bagus," kata Laode di Kementerian ESDM, Jumat (6/2/2026).
Ia lantas membeberkan bahwa selama ini sektor pengolahan kilang dan distribusi BBM kerap berjalan sendiri-sendiri. Kondisi tersebut dinilai kurang optimal dalam upaya efisiensi operasional.
"Nah dengan penggabungan ini kan mereka jadi satu nih. Dan cost juga kan ada pengurangan yang tadinya masing-masing cari margin, sekarang sudah satu entitas, marginnya menyatu di situ," ujarnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]


















































