Inalum Bangun Smelter ke-2, RI Tak Perlu Impor Aluminium Primer Lagi

1 hour ago 3

Mempawah, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tengah mempercepat pembangunan pabrik peleburan dan pemurnian (smelter) aluminium kedua di Mempawah, Kalimantan Barat. Ini ditandai dengan diresmikannya peletakan batu pertama alias groundbreaking smelter aluminium ke-2 ini pada Jumat (6/2/2026) lalu oleh Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Nantinya, Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor aluminium primer begitu fasilitas tersebut beroperasi pada 2029 mendatang.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengungkapkan, nantinya pabrik aluminium baru yang akan menelan investasi Rp 40,6 triliun tersebut akan mendongkrak kapasitas produksi aluminium untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Smelter aluminium kedua Inalum tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun, melengkapi fasilitas existing di Kuala Tanjung, Sumatra Utara, yang berkapasitas 275.000-300.000 ton.

Artinya, produksi aluminium Inalum pada 2029 diperkirakan akan mencapai 900.000 ton per tahun. Ini lebih tinggi dari kebutuhan aluminium primer di Tanah Air yang sebesar 520.000 ton per tahun. Adapun total permintaan aluminium di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun.

"Jadi saat ini total kebutuhan aluminium sendiri kan sekitar 1,2 juta per tahun ya. Kemudian untuk primary-nya di sekitar 520.000 ton per tahun. Dengan adanya aluminium kita yang kedua nanti, begitu beroperasi di 2029, nanti kita bisa memenuhi kebutuhan primary aluminium di Indonesia. Karena kebutuhannya hanya 520 (ribu), nantinya menjadi 900 (ribu). Setelah 900.000 itu nantinya automatically secara aluminium primary kita tidak perlu impor lagi," jelas Melati saat ditemui di area Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat, dikutip Senin (9/2/2026).

"Smelter aluminium kita yang kedua itu nantinya kapasitasnya di 600.000 ton per tahun. Kemudian ditambah dengan existing kita di 300.000 di Kuala Tanjung saat ini, itu totalnya nantinya menjadi 900.000 ton per tahun," tambahnya.

Dalam mendukung operasional smelter aluminium kedua tersebut, Inalum juga secara paralel membangun proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 untuk menjamin pasokan bahan baku alumina di lokasi yang sama. Integrasi proyek dari hulu ke hilir tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri yang mandiri dan berdaya saing.

"Dengan adanya project ini, kita tidak punya lagi ketergantungan terhadap alumina impor maupun aluminium impor," tandasnya.

(wia)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |