Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura akan menciptakan 15.700 lapangan kerja baru selama lima tahun ke depan dari realisasi komitmen investasi yang dibuat pada 2025. Sekitar dua pertiga dari pekerjaan tersebut diperkirakan akan membayar gaji bulanan kotor di atas SG$5.000, atau sekitar Rp66 juta per bulan.
Menurut Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB) pada 5 Februari, dari total lowongan yang diantisipasi, 40% akan berada di sektor jasa, 37% di manufaktur, dan 23% di bidang penelitian dan pengembangan (R&D) serta inovasi, menurut rilis badan pemerintah tersebut. Mayoritas posisi ditargetkan untuk profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi.
Ketua EDB, Png Cheong Boon, mengatakan dalam konferensi pers di Raffles City Tower bahwa peluang kerja ini tidak hanya untuk tenaga berpengalaman, tetapi juga terbuka bagi lulusan baru.
"Investasi ini akan menawarkan jalur karier yang bermakna bagi para pekerja kita, terutama mereka yang memiliki keahlian yang dibutuhkan dan telah berprestasi; investasi ini juga akan menawarkan kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru dan mengambil peran baru," ujarnya, seperti dikutip Straits Times, Senin (9/2/2026).
Realisasi komitmen investasi mencatat aset tetap sebesar SG$19,1 miliar atau sekitar Rp253 triliun pada 2025. Jumlah ini naik 5,2% dibandingkan 2024, meski menghadapi tantangan global seperti fragmentasi ekonomi dan perubahan teknologi yang cepat.
Namun, jumlah 15.700 pekerjaan yang diperkirakan tercipta tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir, turun sekitar 16% dibandingkan proyeksi 18.700 pada 2024. Direktur Pelaksana EDB, Jermaine Loy, mengatakan perusahaan lebih konservatif dalam proyeksi tenaga kerja karena ketidakpastian kondisi global serta adanya dampak otomatisasi dan digitalisasi.
Meski demikian, Loy menegaskan bahwa posisi yang akan muncul adalah pekerjaan bernilai tinggi. "Lapangan kerja yang diharapkan akan tercipta adalah pekerjaan yang baik dan bernilai tinggi yang akan menawarkan jalur karier yang bermakna bagi warga Singapura," katanya.
Untuk memperkuat daya saing tenaga kerja lokal, EDB terus kolaborasi dengan perusahaan dan lembaga pelatihan melalui inisiatif peningkatan keterampilan, khususnya di bidang kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan komputasi awan, serta memperluas kemitraan pendidikan tinggi untuk mengembangkan talenta R&D.
Program kepemimpinan seperti Program Fellowship Jaringan Pemimpin Singapura (SGLN) juga diperluas. Pada 2025, sebanyak 65 peserta bergabung dalam kelompok kedua SGLN, meningkat dari 60 pada 2024, dengan penekanan pada kepemimpinan global. Selain itu, inisiatif Program Pemimpin Bisnis Global menempatkan peserta dalam pengalaman lintas negara termasuk di China, Indonesia, Latvia, Belanda, dan AS sebagai bagian dari persiapan memimpin di perusahaan multinasional.
Beberapa pekerja telah merasakan dampak investasi ini. Anisah Sazman, seorang insinyur kualitas di Fong's Engineering and Manufacturing, menyebut peluang yang ada memberinya ruang untuk belajar keterampilan baru dan memperluas pengalaman profesional.
"Peran saya memiliki cakupan yang lebih luas daripada pekerjaan saya sebelumnya, dan saya melihatnya sebagai kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru," ujarnya.
Sementara itu, Ravi Nithinathan, manajer operasional di Rolls-Royce Solutions Asia, menyoroti dukungan lingkungan kerja dan paparan internasional yang diperolehnya selama bertahun-tahun.
Laporan ini menegaskan pendekatan Singapura dalam menghadapi ketidakpastian global melalui investasi yang mendorong pertumbuhan berkualitas. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk memperkuat kapabilitas tenaga kerja lokal guna menyokong ekonomi masa depan yang lebih tangguh.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]


















































