Pemkot Bogor Ungkap Penderita ISPA Meningkat Jadi 1.824 Kasus

2 hours ago 2

Bogor -

Pemerintah Kota (Pemkot) mencatat kualitas udara di Kota Bogor telah membaik dan dalam kategori aman, usai terpapar abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Kendati demikian pihaknya mencatat ada kenaikan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah penyebaran abu vulkanik tersebut.

"Kualitas udara saat ini sudah membaik dan aman untuk semua kalangan. Namun, kami imbau masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan membatasi kegiatan di luar ruangan yang sekiranya kurang perlu," kata ujar Kepala Diskominfo Kota Bogor, Ana Ismawati, dalam keterangan tertulis Rabu (9/9/2026).

Ana Ismawati, menyampaikan kondisi parameter udara menunjukkan perkembangan positif, meskipun kewaspadaan tetap menjadi hal utama. Melalui Dinkes, kata Ana, telah didistribusikan 190.000 masker ke masyarakat sebagai antisipasi paparan abu vulkanik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perlindungan kelompok rentan tetap diprioritaskan, dengan distribusi logistik menyasar anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta pekerja luar ruangan. Kemudian dilakukan penguatan surveilans harian dengan pelaporan real-time melingkupi puskesmas, rumah sakit, klinik pratama dan Klinik Utama," kata Ana.

Penderita ISPA dan Asma Meningkat

Ana menyebut, Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan pemantauan harian terhadap potensi timbulnya penyakit prioritas ISPA dan Asma, saat terjadi paparan abu vulkanik. Menurutnya, terjadi peningkatan hingga total 353 kasus penderita ISPA dan Asma, dari 1.669 pasien pada 7 September, menjadi 2.022 pasien pada 8 September.

"Kasus ISPA naik dari 1.472 menjadi 1.824 kasus atau meningkat 24 persen, Asma naik dari 25 menjadi 29 kasus, dan Dermatitis (iritasi kulit) naik dari 70 menjadi 74 kasus. Kasus konjungtivitis atau iritasi mata terpantau stabil pada angka 36 kasus," kata Ana.

Ana menegaskan, peningkatan kasus ISPA dan Asma dipengaruhi banyak faktor. Perlu penelitian medis lanjutan untuk memastikan hubungannya dengan paparan abu vulkanik.

"Peningkatan kasus kesehatan ini dipengaruhi oleh pelbagai faktor seperti dinamika cuaca, daya tahan tubuh, dan perilaku individu. Hubungan langsung antara kenaikan kasus tersebut dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, masih memerlukan kajian medis lebih mendalam," kata Ana.

Simak juga Video 'Bukan Cuma ISPA, Asap Karhutla Bisa Picu Asma hingga PPOK':

(sol/dwr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |