- Pasar keuangan Indonesia kompak tertekan pada akhir pekan lalu. IHSG, rupiah, dan harga SBN melemah.
- Wall Street bangkit setelah melemah empat hari beruntun seiring penurunan harga minyak.
- Dampak inflasi AS, keputusan suku bunga The Fed dan BOJ, serta data ekonomi China akan menjadi penggerak pasar pekan ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, dan harga Surat Berharga Negara (SBN) kompak tertekan pada perdagangan terakhir pekan lalu.
Memasuki perdagangan awal pekan ini, Senin (24/9/2026), pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi berbagai dinamika. Selengkapnya mengenai penggerakan sentimen pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 2 artikel ini.
IHSG kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Meski demikian, indeks berhasil memangkas koreksi setelah sempat tertekan tajam pada awal perdagangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 47,96 poin atau 0,73% ke posisi 6.541,38. Indeks sempat merosot sekitar 1,8% pada awal sesi pertama hingga menyentuh level terendah 6.462,96.
Tekanan kemudian berkurang menjelang penutupan. IHSG berhasil naik dari posisi terendahnya dan mengakhiri perdagangan tidak jauh dari level tertinggi harian sebesar 6.552,70.
Mayoritas saham tetap berakhir di zona merah. Sebanyak 471 saham melemah, sedangkan 197 saham menguat dan 295 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan mencapai 28,36 miliar saham dengan nilai transaksi Rp14,54 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,91 juta kali.
Investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sekitar Rp690,19 miliar pada Jumat. Sepanjang pekan, nilai jual bersih asing mencapai Rp3,36 triliun, berbalik dari net buy Rp2,31 triliun pada pekan sebelumnya.
Seluruh sektor saham ditutup melemah. Sektor energi mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,29%, disusul utilitas yang turun 1,62%.
Sektor barang konsumer non-primer melemah 1,04%, keuangan 1,03%, properti 0,98%, dan perindustrian 0,88%.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi negatif 13 poin. Tekanan berikutnya berasal dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 9,38 poin dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 4,66 poin.
Saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) turut menekan indeks sebesar 3,42 poin, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 2,47 poin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 2,1 poin, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 1,79 poin.
Di tengah pelemahan tersebut, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi positif 2,24 poin.
Dari pasar mata uang, rupiah menutup perdagangan Jumat dengan pelemahan terhadap dolar AS.
Merujuk data Refinitiv, rupiah awalnya dibuka melemah 0,23% di posisi Rp17.570/US$. Mata uang Garuda kemudian tertekan hingga menyentuh level terlemah harian di level Rp17.620/US$.
Tekanan mulai berkurang menjelang akhir perdagangan. Rupiah menguat 35 poin dari posisi terlemahnya dan ditutup pada Rp17.585/US$ atau melemah 0,31%.
Meski melemah pada perdagangan Jumat, rupiah masih membukukan penguatan sekitar 0,26% dalam sepekan dari posisi Rp17.630/US$ pada akhir pekan sebelumnya.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun menguat 0,85% atau naik 6 basis poin dari 7,096% menjadi 7,156% pada Jumat. Kenaikan imbal hasil menandai penurunan harga SBN karena harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah.

















































