Merawat Ibu, Menjaga Anak, Menguatkan Keluarga Pekerja Kebun di Solok Selatan

5 hours ago 2

Solok Selatan -

Pagi di kawasan perkebunan sawit di Solok Selatan dimulai lebih awal. Udara masih terasa sejuk ketika aktivitas mulai bergerak. Suara kendaraan perlahan terdengar dari jalan perkebunan, sementara para pekerja bersiap menuju lokasi kerja masing-masing sebelum matahari semakin tinggi.

Di antara mereka, ada para ibu yang juga harus memikirkan satu hal sebelum memulai aktivitas: memastikan anak-anak mereka berada di tempat yang aman selama ditinggal bekerja. Bagi perempuan yang bekerja di lapangan, meninggalkan anak bukan perkara sederhana.

Aktivitas yang dimulai sejak pagi membuat mereka membutuhkan tempat yang bukan sekadar bisa menjaga anak, tetapi juga memberi ruang untuk bermain, belajar, dan tumbuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara bagi para istri pekerja yang sehari-hari tinggal di kawasan perkebunan, ada kebutuhan lain yang tak kalah penting. Mereka membutuhkan ruang untuk berinteraksi, mengembangkan diri, sekaligus tempat untuk menyampaikan persoalan ketika menghadapi kendala dalam kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan tersebut kemudian menjadi bagian dari perhatian Komite Wanita Women Of Working (WoW) PT Kencana Sawit Indonesia Wilmar Group. Organisasi ini menjalankan berbagai kegiatan yang menyentuh kehidupan perempuan dan keluarga, mulai dari pendidikan, sosial, keagamaan, kesenian, UMKM, parenting, hingga perlindungan pekerja perempuan.

Ketua Komite Wanita Women Of Working (WoW) PT KSI Wilmar Group, Herni Zen, mengatakan WOW dibentuk sebagai wadah bagi perempuan untuk saling terhubung sekaligus mengembangkan potensi.

"Program yang dijalankan oleh Women of Workers (WOW) Group di dalam lingkungan perusahaan mencakup berbagai bidang, mulai dari UMKM, pendidikan, keagamaan, sosial, hingga kesenian. Tujuan utama dari seluruh rangkaian kegiatan ini, pertama adalah untuk meningkatkan hubungan sosial di antara kita semua," ujar Herni.

Khusus untuk UMKM, kegiatan diarahkan untuk membantu ekonomi keluarga sekaligus memberikan edukasi bagi para ibu, baik dari kalangan istri staf, istri karyawan maupun pekerja perempuan.

WOW juga memiliki sejumlah kegiatan rutin seperti peringatan Hari Kartini, Hari Anak dan Hari Ibu. Ada pula kegiatan parenting, edukasi kesehatan perempuan atau woman health, program Anak Wilmar Hebat hingga pelatihan yang menghadirkan psikolog eksternal untuk membahas kesehatan mental dan fisik perempuan.

Dengan berbagai kegiatan tersebut, WOW tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk bertemu dan saling memberikan dukungan.

Ada Tempat untuk Perempuan Bersandar

Menjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok SelatanMenjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok Selatan Foto: Mega Putra Ratya/detikcom


Perhatian terhadap perempuan juga diwujudkan melalui Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan atau RP3.

Di Sumatera Barat terdapat dua Rumah RP3, salah satunya berada di PT KSI Solok Selatan. Fasilitas ini menjadi ruang perlindungan bagi pekerja perempuan yang menghadapi persoalan di lingkungan kerja maupun keluarga.

Herni mengatakan RP3 hadir agar pekerja perempuan dapat menjalankan aktivitas dengan lebih tenang tanpa tekanan, ancaman, tindakan kekerasan dalam rumah tangga maupun diskriminasi gender.

Melalui RP3, perempuan juga didorong untuk berani menyampaikan persoalan yang mereka alami. Tim WOW secara rutin melakukan sosialisasi hingga ke area kerja dan blok perkebunan agar para pekerja mengetahui keberadaan tempat perlindungan tersebut.

"Melalui wadah ini, para pekerja perempuan yang menghadapi masalah kini sudah berani bersuara atau speak up mengenai apa yang mereka rasakan, rintangan yang dihadapi, atau kendala perundungan yang dialami," kata Herni.

Bagi perempuan yang sedang menghadapi persoalan, keberadaan tempat untuk bercerita menjadi hal penting. Apalagi, tidak semua masalah mudah disampaikan kepada orang lain.

Pengurus WOW sekaligus pengelola Rumah RP3, Yanti, mengatakan kepercayaan menjadi dasar dalam memberikan pendampingan. Menurutnya, perempuan yang datang harus merasa yakin bahwa cerita mereka akan ditangani dengan baik dan privasinya terjaga.

"Jika para pekerja perempuan menghadapi masalah, mereka akan datang mengandalkan tempat kami di sini. Namun, hal pertama yang harus kita bangun adalah kepercayaan," ujar Yanti.

Untuk menjaga kenyamanan tersebut, RP3 memiliki ruang khusus yang lebih privat. Penanganan juga dilakukan oleh tim yang berkaitan langsung dengan persoalan yang disampaikan, sehingga tidak semua pengurus mengetahui kasus yang sedang ditangani.

Keberadaan RP3 kemudian memberi pilihan bagi pekerja perempuan maupun istri karyawan ketika membutuhkan tempat untuk menyampaikan persoalan keluarga atau pekerjaan.

Yanti mengatakan kehadiran WOW dan RP3 juga diapresiasi oleh para pekerja perempuan dan istri karyawan karena mereka memiliki wadah resmi untuk menyampaikan keluh kesah, rintangan keluarga maupun masalah pekerjaan.

"Keberadaan organisasi WOW dan Rumah RP3 di dalam lingkungan operasional kebun ini sangat disyukuri dan diapresiasi oleh seluruh pekerja perempuan maupun istri karyawan. Fasilitas ini menjadi wadah resmi yang aman bagi mereka untuk menyampaikan seluruh keluh kesah, rintangan keluarga, maupun masalah kerja yang mereka hadapi sehari-hari," kata Yanti.

Menjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok SelatanMenjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok Selatan Foto: Mega Putra Ratya/detikcom


Rasa aman tersebut, menurut Yanti, perlahan membangun kedekatan dan kepercayaan antara para perempuan dengan pengurus WOW. Mereka tahu ada tempat yang bisa didatangi ketika membutuhkan bantuan atau pendampingan.

Selain orang dewasa, perhatian juga diberikan kepada anak-anak. WOW menyediakan dukungan melalui tim konseling bagi anak yang mengalami perundungan di sekolah dan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk membantu anak kembali merasa nyaman mengikuti aktivitas belajar.

Dari Ruang Aman hingga Ruang Tumbuh Anak

Perhatian terhadap keluarga pekerja kemudian berlanjut pada kebutuhan anak.

Di kawasan perkebunan, rutinitas orang tua yang dimulai sejak pagi membuat keberadaan tempat penitipan anak menjadi bagian penting dalam keseharian keluarga.

Program daycare atau Tempat Penitipan Anak (TPA) di PT KSI telah berjalan sejak 2008. Saat itu, perusahaan melihat sebagian anak pekerja belum mendapatkan pengasuhan secara optimal ketika orang tua harus bekerja.

Sebagian orang tua sebelumnya menitipkan anak kepada tetangga. Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh ibu-ibu yang bekerja di bagian perawatan atau penyemprotan. Kekhawatiran terhadap kondisi anak membuat mereka terkadang tidak dapat bekerja dengan tenang.

Menjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok SelatanMenjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok Selatan Foto: Mega Putra Ratya/detikcom

Kini, terdapat tujuh unit TPA yang tersebar di seluruh divisi PT KSI, termasuk satu unit di kawasan Staff Housing. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh seluruh karyawan dan staf secara gratis.

Perusahaan menanggung biaya operasional daycare, termasuk kebutuhan tenaga pengasuh dan guru. Total terdapat sekitar 80 anak yang berada di tujuh unit TPA tersebut, dengan rentang usia sekitar 2-5 tahun.

Di tempat ini, anak-anak tidak hanya dititipkan hingga orang tua selesai bekerja. Mereka mendapatkan kegiatan yang disesuaikan dengan usia, mulai dari belajar mengenal warna, menulis, mewarnai, menggambar, bernyanyi hingga mengenal huruf hijaiyah.

Salah satu anak yang menikmati kegiatan tersebut adalah Beril. Bocah berusia lima tahun itu terlihat antusias ketika bercerita mengenai kesehariannya di daycare.

"Senang!" jawab Beril ketika ditanya apakah ia senang bermain di sana.

Saat ditanya mengenai kegiatan yang dilakukan, jawabannya sederhana.

"Belajar, menulis, mewarnai, sama menggambar," kata Beril.

Bagi Beril, kegiatan itu menjadi bagian dari kesehariannya. Namun bagi orang tua, daycare memberikan arti yang lebih besar: anak tetap berada dalam pengasuhan ketika mereka harus bekerja.

Belajar Sambil Bermain

Menjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok SelatanMenjaga Ibu, Melindungi Anak, Kisah Perempuan Pekerja Kebun di Solok Selatan Foto: Mega Putra Ratya/detikcom


Di dalam daycare, aktivitas anak-anak disusun sejak pagi. Mereka datang, mengikuti kegiatan bersama, berdoa, makan, kemudian belajar sesuai dengan usia masing-masing.

Pengasuh TPA/Daycare PT KSI, Jeli Permata Sari, mengatakan anak-anak tetap mendapatkan kegiatan yang membantu mereka mengenal berbagai hal baru.

Kegiatan tersebut antara lain mengenal warna, mewarnai, bernyanyi, menulis hingga belajar huruf hijaiyah.

Anak-anak juga diajak melakukan kegiatan di luar ruangan. Setiap Jumat, mereka mengikuti olahraga dan senam bersama.

Jeli mengatakan anak-anak yang baru pertama kali datang biasanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Sebagian anak menangis pada hari-hari awal, tetapi setelah sekitar satu minggu mereka mulai terbiasa dan menikmati waktu bersama teman-temannya.

Dengan pola tersebut, daycare tidak sekadar menjadi tempat menitipkan anak selama jam kerja. Ada aktivitas belajar, bermain dan interaksi sosial yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Ibu Punya Ruang untuk Berkembang

Sementara anak-anak memiliki ruang untuk tumbuh, para ibu juga mendapatkan kesempatan untuk berkembang melalui kegiatan WOW.

Pengurus WOW PT KSI, Tika, mengatakan keberadaan organisasi tersebut memberikan perubahan bagi para perempuan yang tinggal di lingkungan perkebunan.

Menurutnya, menjadi istri pekerja dan tinggal di kawasan perkebunan dengan aktivitas yang terbatas terkadang membuat ibu-ibu merasa bosan. WOW kemudian menjadi ruang untuk bertemu, belajar dan melakukan kegiatan bersama.

"Perubahan yang saya rasakan setelah adanya organisasi WOW ini sangat besar. Menjadi istri pekerja dan tinggal di dalam lingkungan kebun yang areanya terbatas kadang memicu rasa bosan jika aktivitasnya hanya berdiam diri di rumah. Namun, semenjak ada WOW, kami memiliki agenda rutin yang dilaksanakan setiap tanggal 10," ujar Tika.

Dalam pertemuan tersebut, para ibu mendapatkan berbagai kegiatan keterampilan, mulai dari membuat kerajinan hingga kelas parenting.

Kegiatan itu juga menjadi kesempatan bagi perempuan dari berbagai divisi untuk saling mengenal. Program WOW sendiri terbuka bagi seluruh lapisan pekerja, bukan hanya untuk istri staf atau manajemen.

Tim WOW bahkan turun langsung ke 11 lokasi divisi untuk mengajak para ibu mengikuti kegiatan yang ada.

Selain kegiatan internal, WOW juga memberikan ruang bagi perempuan untuk mengembangkan usaha. Saat Ramadan, misalnya, WOW menggelar Pasar Pabukoan dengan menyediakan tenda dan fasilitas secara gratis bagi ibu-ibu yang ingin berjualan.

Keterampilan juga dibagikan dari anggota untuk anggota. Salah satu anggota yang merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberikan pelatihan menjahit, desain pakaian, membatik hingga eco-printing.

Jika ada pelatihan dari luar, anggota yang mengikuti kegiatan tersebut kemudian diharapkan membagikan kembali pengetahuannya kepada ibu-ibu lainnya.

Bagi Tika, kegiatan tersebut membuat para perempuan memiliki ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus membangun hubungan dengan sesama.

"Melalui WOW, kami bisa berkumpul, bertemu dengan ibu-ibu dari divisi lain, saling tertawa, dan merasa senang. Jika ibu-ibu merasa senang, maka anak-anak akan bahagia dan suami pun ikut tersenyum dalam bekerja," katanya.

Perlindungan dan Kenyamanan yang Terus Diperkuat

Bagi WOW, perhatian terhadap perempuan tidak berhenti pada kegiatan sosial atau pemberdayaan. Perlindungan dan rasa aman menjadi bagian yang terus dijaga.

Melalui RP3, pekerja perempuan memiliki tempat resmi untuk menyampaikan persoalan.

Sementara melalui kegiatan WOW, para istri pekerja maupun perempuan yang bekerja di lapangan mendapatkan ruang untuk berinteraksi, belajar dan membangun kepercayaan diri.

Tika mengatakan dampak yang paling terasa dari keberadaan organisasi tersebut adalah munculnya rasa aman dan kepercayaan diri di kalangan pekerja perempuan.

"Dampak paling nyata dari keberadaan organisasi ini adalah meningkatnya rasa aman dan kepercayaan diri di kalangan pekerja perempuan. Sekarang mereka jauh lebih percaya diri dalam bekerja karena tahu bahwa mereka memiliki tempat mengadu yang resmi yang diisi oleh sesama ibu-ibu yang siap melindungi mereka," ujar Tika.

Ke depan, WOW juga ingin memastikan program perlindungan tersebut berjalan konsisten. Sosialisasi akan terus dilakukan ke berbagai divisi agar semakin banyak pekerja perempuan mengetahui hak dan fasilitas perlindungan yang tersedia.

Pada saat yang sama, tujuh unit TPA juga menjadi bagian dari rencana pengembangan WOW.

Herni mengatakan fasilitas tersebut secara struktural berada di bawah naungan WOW. Karena itu, peningkatan kualitas daycare menjadi salah satu pekerjaan yang ingin terus dilakukan.

"Harapan kami ke depan, seluruh 7 unit TPA yang tersebar di wilayah operasional PT KSI Solok
Selatan akan kami standardisasi secara menyeluruh," ujar Herni.

Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap agar seluruh TPA menjadi tempat pengasuhan yang lebih representatif dan memenuhi standar daycare profesional.

Dengan demikian, perhatian terhadap keluarga pekerja berjalan dalam beberapa lapis. Ada ruang untuk perempuan mengembangkan diri, ada tempat perlindungan ketika mereka menghadapi persoalan, dan ada daycare yang memastikan anak-anak tetap mendapatkan pengasuhan saat orang tua bekerja.

Pagi di kawasan perkebunan mungkin selalu dimulai dengan rutinitas yang sama. Para pekerja berangkat menjalankan tugas, sementara anak-anak memulai hari mereka di tempat masing-masing.

Namun di balik rutinitas tersebut, ada upaya untuk membuat perjalanan setiap keluarga terasa lebih tenang: ibu memiliki ruang untuk bersuara, para istri pekerja punya kesempatan untuk berkembang, dan anak-anak seperti Beril memiliki tempat untuk belajar dan bermain. Di ruang-ruang sederhana itulah, perhatian terhadap keluarga tumbuh menjadi bagian dari keseharian.

Tonton juga video "Honeymoon Maut di Solok Sumbar, Istri Tewas Diduga Keracunan Gas"

(ega/akn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |