Jalan Nyeker Bisa Tingkatkan Imun, Mitos atau Fakta?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren jalan atau beraktivitas tanpa alas kaki alias nyeker kini dikenal sebagai grounding atau earthing. Aktivitas ini bahkan diklaim mampu meningkatkan kekebalan tubuh hingga membantu mencegah infeksi virus. Namun, benarkah grounding memiliki manfaat tersebut?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Widya Eka Nugraha, MSiMed mengatakan, hingga kini grounding belum dapat dianggap sebagai metode untuk meningkatkan kekebalan tubuh maupun mencegah infeksi virus. Ia bilang, klaim mengenai manfaat grounding perlu dilihat secara hati-hati berdasarkan bukti ilmiah dan prinsip ilmu biomedik.

"Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus," kata Widya, dikutip dari laman IPB University, Jumat (11/9/2026).

Widya menjelaskan, sejumlah penelitian awal memang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara grounding dengan stres oksidatif, inflamasi, nyeri, kualitas tidur, hingga aktivitas sistem saraf otonom. Meski demikian, penelitian yang tersedia sejauh ini umumnya melibatkan jumlah peserta yang relatif kecil, memiliki keterbatasan metodologis, serta hasilnya belum konsisten direplikasi oleh peneliti independen.

"Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti pendahuluan, bukan dasar untuk menjadikan grounding sebagai terapi infeksi virus," ujarnya.

Widya bilang, masyarakat perlu membedakan antara biological plausibility atau sesuatu yang masuk akal secara biologis dengan clinical effectiveness atau efektivitas klinis. Sebuah mekanisme, kata ia, bisa saja masuk akal dari sisi biologis. Namun, untuk membuktikan manfaatnya terhadap kesehatan manusia dibutuhkan penelitian yang lebih ketat.

"Suatu mekanisme dapat masuk akal secara biologis, tetapi efektivitas klinis harus dibuktikan melalui uji klinis acak, kelompok kontrol yang tepat, pengukuran objektif, dan replikasi penelitian," jelasnya.

Secara biologis, kontak kulit secara langsung dengan permukaan bumi memang memungkinkan terjadinya pertukaran muatan dalam jumlah kecil. Kendati demikian, belum ada bukti kuat bahwa elektron yang berpindah tersebut mampu mencapai jaringan tertentu dalam jumlah yang cukup untuk bertindak sebagai antioksidan atau mengubah respons imun secara klinis.

Selain itu, manfaat yang dirasakan seseorang ketika melakukan grounding belum tentu berasal dari kontak langsung dengan tanah. Widya menilai, efek tersebut dapat dipengaruhi aktivitas lain yang dilakukan bersamaan, seperti berjalan kaki, mendapatkan paparan cahaya alami dan udara terbuka, relaksasi, berada di lingkungan alam, hingga efek plasebo.

Bagaimana Tubuh Melawan Virus?

Dalam menghadapi infeksi virus, tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan yang kompleks. Sistem imun bawaan akan mengenali komponen virus dan memicu interferon serta sitokin untuk menghambat replikasi virus.

Sel natural killer dan makrofag juga berperan membantu membatasi penyebaran infeksi. Setelah itu, sistem imun adaptif bekerja melalui antibodi yang dihasilkan limfosit B serta limfosit T yang membantu mengoordinasikan respons imun dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi.

Respons imun tersebut juga harus berada dalam kondisi seimbang. Sebab, respons yang terlalu lemah maupun inflamasi yang berlebihan sama-sama dapat berdampak buruk bagi tubuh.

Sampai saat ini, Widya menegaskan belum tersedia bukti dari uji klinis berkualitas tinggi yang menunjukkan grounding dapat mengurangi risiko tertular virus, menurunkan viral load, memperpendek durasi infeksi, ataupun mengurangi risiko rawat inap dan kematian.

"Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi," tegasnya.

Meski manfaatnya untuk meningkatkan imunitas belum terbukti, bukan berarti masyarakat sama sekali tidak boleh melakukan grounding. Widya mengatakan aktivitas tersebut tetap dapat dilakukan sebagai kegiatan rekreasi maupun relaksasi selama dilakukan dengan aman. Namun, grounding tidak boleh digunakan untuk menggantikan intervensi medis yang telah terbukti.

Pencegahan infeksi tetap mengandalkan langkah seperti vaksinasi, menjaga ventilasi ruangan, kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, menggunakan masker dalam situasi berisiko, serta melakukan pemeriksaan dan mendapatkan terapi yang sesuai ketika diperlukan.

Bagi masyarakat perkotaan, berjalan santai dan menikmati suasana alam juga dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Namun, manfaat tersebut tidak seharusnya secara otomatis dikaitkan dengan kemampuan grounding untuk mencegah atau menyembuhkan infeksi virus.

Widya juga mengingatkan, aktivitas tanpa alas kaki tidak selalu aman bagi semua orang.

"Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman," katanya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |