Houthi Klaim Serang Arab Saudi, Ternyata Sekutu Iran Paling Ditakuti

2 hours ago 1

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

20 September 2026 11:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Timur Tengah kembali memanas setelah Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang disebut sebagai "area sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026).

Dikutip dari Reuters dan CNA, serangan itu terjadi beberapa jam setelah kobaran api dan asap hitam pekat terlihat di dekat bandara utama Riyadh.

Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa Houthi berupaya menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik. Ini menjadi serangan pertama yang menargetkan ibu kota Saudi sejak eskalasi konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran meningkat pada Juli lalu.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengatakan rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai targetnya. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut. Namun, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara.

Rekaman video dan foto Reuters menunjukkan kolom asap hitam raksasa membumbung tinggi dari area dekat Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Dalam salah satu rekaman, kobaran api terlihat muncul dari area yang diduga merupakan tangki penyimpanan bahan bakar.

Houthi tidak merinci target yang mereka serang di Riyadh. Namun kelompok tersebut mengaku juga menyerang fasilitas milik raksasa energi Saudi Aramco di kota Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Houthi menyebut operasi itu dilakukan sebagai balasan atas serangan yang terjadi di ibu kota Yaman, Sanaa.

Selain Riyadh, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.

Pemerintah Arab Saudi sebelumnya telah mengirimkan peringatan darurat kepada warga Riyadh dan Al-Kharj mengenai potensi ancaman serangan udara sebelum akhirnya mengeluarkan status aman pada Sabtu pagi waktu setempat.

Eskalasi terbaru ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Sejak Juli, Houthi melancarkan serangkaian serangan terhadap kota-kota Saudi, infrastruktur energi, hingga jalur pelayaran setelah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Serangan-serangan tersebut meningkatkan risiko terhadap ekspor minyak Teluk melalui Laut Merah, sementara lalu lintas di Selat Hormuz masih terganggu akibat konflik kawasan.

Houthi Jadi Sekutu Iran Paling Ditakuti

Kelompok Houthi, milisi yang didukung Iran, kembali melancarkan serangan rudal dan drone di Arab Saudi

Sejak pertengahan Juli, hampir tidak ada kapal tanker Saudi yang melewati Selat Bab al-Mandab.

Di darat, posisi Houthi juga jauh dari lemah. Kelompok tersebut menguasai Yaman bagian barat laut, termasuk ibu kota Sanaa dan sebagian besar pesisir barat. Sekitar 70% penduduk Yaman hidup di wilayah yang berada di bawah kendali mereka.

Kombinasi antara penguasaan wilayah, kemampuan militer dan posisi geografis inilah yang membuat Houthi lebih dari sekadar kelompok bersenjata lokal.

Pada 15 Agustus, rudal Houthi menghantam Pelabuhan Mokha, yang berada dekat Selat Bab al-Mandab. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan sekitar US$16 juta dan memaksa pelabuhan ditutup.

Mokha juga menjadi basis National Resistance Forces, kelompok pejuang yang didukung pemerintah Yaman. Dengan menyerang pelabuhan tersebut, Houthi dapat menekan lawan di darat sekaligus memperbesar pengaruhnya di kawasan pesisir.

Serangan terhadap kapal memiliki kepentingan lain. Houthi ingin menekan Arab Saudi agar membayar gaji pegawai negeri Yaman serta melonggarkan pembatasan penerbangan dan pelayaran.

Namun, kemampuan Houthi tidak berhenti pada tekanan terhadap jalur laut.

Pada awalnya, kelompok tersebut banyak mengandalkan senjata jadi yang dipasok Iran. Kini, jaringan pasokannya semakin tersebar. Komponen-komponen kecil diselundupkan melalui Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) atau dibawa menggunakan kapal dhow dari kawasan Tanduk Afrika.

Sejumlah drone Houthi bahkan dapat dibuat hampir seluruhnya tanpa komponen Iran.

Jaringan tersebut membuat serangan terhadap persenjataan mereka tidak otomatis menghentikan kemampuan militernya. Peter Salisbury dari Columbia University menyebut Houthi mampu memulihkan kemampuan yang rusak atau hancur jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Kemampuan teknologi mereka juga berkembang. Houthi disebut memiliki drone berbasis serat optik yang lebih sulit diganggu melalui jamming.

Saat Amerika Serikat (AS) menyerang mereka pada 2025, Houthi mengklaim telah menembak jatuh tujuh drone Reaper Amerika dan hampir mengenai sejumlah jet tempur. Bulan lalu, kelompok tersebut juga mengklaim menjatuhkan drone Bayraktar buatan Turki yang dioperasikan Arab Saudi.

Pegunungan Jadi Benteng

Wilayah dataran tinggi yang dikuasai Houthi relatif mudah dipertahankan. Kelompok tersebut juga mengambil alih sistem gua dan bunker bekas militer Yaman ketika merebut wilayah pada 2014. Bukti satelit menunjukkan sejumlah fasilitas bawah tanah itu terus diperluas.

Houthi juga memiliki pengalaman menghadapi kampanye militer yang lebih besar.

Pada musim panas 2025, serangan Israel menewaskan sebagian besar pemerintahan sipil kelompok tersebut, termasuk perdana menterinya. Namun, Houthi kembali membangun struktur organisasinya.

Bahkan jika pemimpinnya, Abdul-Malik al-Houthi, terbunuh, belum tentu kelompok tersebut langsung lumpuh. Ia sendiri naik menjadi pemimpin setelah saudaranya, Husayn, tewas dalam pertempuran pada 2004.

Ketahanan tersebut menjadi salah satu pembeda Houthi dibandingkan sejumlah kelompok sekutu Iran lainnya.

Pemerintah Yaman kini mencoba membangun kembali kekuatan untuk menghadapi Houthi. Kelompok-kelompok yang sebelumnya saling bertikai mulai menunjukkan koordinasi lebih besar, sementara kemampuan menggunakan drone juga meningkat.

Arab Saudi dan Amerika Serikat memiliki sumber daya militer yang jauh lebih besar. Tetapi Houthi telah menunjukkan bahwa keunggulan tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan cepat.

Abdul-Malik al-Houthi pernah menyebut Yaman memiliki reputasi sebagai "kuburan para penjajah".

Dengan sekitar 70% penduduk Yaman berada di wilayah yang mereka kuasai, jaringan suplai yang semakin mandiri, persenjataan yang terus berkembang dan benteng alami berupa pegunungan, kekuatan Houthi tidak hanya terletak pada kemampuan menyerang.

Yang membuatnya berbahaya adalah Houthi tidak harus terus menang

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |