Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 September 2026 14:49
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara kembali mendapatkan perhatian pasar. Kenaikan harga komoditas, membaiknya permintaan Asia, serta pertumbuhan laba semester I-2026 menjadi kombinasi sentimen positif bagi sektor ini.
Dari 14 emiten batu bara yang dipantau, sebanyak 12 saham mencatatkan kenaikan dalam tiga bulan terakhir.
PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi tiga saham dengan penguatan terbesar.
Namun, pergerakan satu bulan menunjukkan pasar mulai lebih selektif. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami koreksi tajam, sementara PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) belum mengikuti reli mayoritas saham batu bara.
SMMT dan AADI menjadi dua saham dengan momentum paling konsisten karena membukukan kenaikan besar dalam periode satu bulan maupun tiga bulan.
IATA masih memimpin secara tiga bulanan, tetapi mulai mengalami konsolidasi. Sementara itu, BYAN menjadi anomali karena masih naik 20,4% dalam tiga bulan, tetapi turun 24,7% dalam sebulan.
Harga Batu Bara Naik 9%
Penguatan saham sektor ini sejalan dengan kenaikan harga batu bara. Harga meningkat dari US$134,05 per ton pada 17 Agustus menjadi US$146,10 per ton pada 16 September 2026.
Pada Jumat (4/9/2026), harga batu bara bahkan ditutup di posisi US$ 153 per ton atau rekor tertinggi sejak 18 Desember 2023 atau dua tahun sembilan bulan.. Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan melonjak 10,5% dalam delapan hari.
Harga kemudian terkoreksi sekitar 4,5% dari posisi tertingginya. Meski mulai berkonsolidasi, harga masih meningkat sekitar 9% dalam satu bulan dan 7,8% dalam tiga bulan.
Posisi harga yang relatif tinggi membuka peluang perbaikan harga jual rata-rata. Manfaatnya akan berbeda pada setiap perusahaan, tergantung kualitas batu bara, kontrak penjualan, biaya produksi, dan ongkos pengiriman.
Permintaan Batu Bara Masih Tinggi
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam laporan terbarunya, Coal Mid-Year Update 2026, memperkirakan gangguan pasar energi akibat konflik di Timur Tengah akan mendorong permintaan batu bara global lebih tinggi tahun ini.
Proyeksi ini menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara termal di dunia dan perusahaan Indonesia yang banyak mengekspor batu bara.
Permintaan batu bara global diperkirakan tumbuh 1,2% pada 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan konsumsi akan sedikit turun secara tahunan.
Dengan pertumbuhan tersebut, konsumsi batu bara dunia diperkirakan mencapai rekor 8,94 miliar ton pada 2026.
Di sisi produksi, IEA memperkirakan produksi batu bara global akan turun pada 2026 setelah mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Meski demikian, produksi dunia diperkirakan tetap di atas 9 miliar ton untuk tahun ketiga berturut-turut.
Penurunan terutama terjadi di China, negara produsen batu bara terbesar dunia. Produksi China tertekan setelah kecelakaan tambang besar pada Mei memicu inspeksi keselamatan di berbagai tambang.
China Berpotensi Menambah Impor
China masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar batu bara Asia. Inspeksi keselamatan tambang yang semakin ketat berpotensi menahan produksi domestik dalam jangka pendek.
Pada saat bersamaan, kebutuhan batu bara dari pembangkit listrik dan industri masih tinggi. Jika produksi belum kembali normal dan persediaan menurun, perusahaan China dapat meningkatkan pembelian batu bara impor.
Indonesia berpeluang memperoleh keuntungan karena memiliki jarak pengiriman yang lebih dekat dibandingkan sejumlah negara eksportir lain. Namun, besarnya impor tetap dipengaruhi kebijakan pemerintah China, persediaan pelabuhan, dan pemulihan produksi domestik.
India Butuh Lebih Banyak Listrik
Sentimen positif juga datang dari India. Cuaca panas meningkatkan penggunaan listrik untuk pendingin, sementara pertumbuhan ekonomi turut mendorong konsumsi energi dari sektor rumah tangga dan industri.
Risiko El Niño dan penurunan produksi pembangkit listrik tenaga air dapat membuat pembangkit batu bara bekerja lebih tinggi untuk menjaga pasokan listrik.
India terus meningkatkan produksi batu bara domestik. Meski demikian, impor masih diperlukan ketika kebutuhan listrik meningkat lebih cepat atau kualitas batu bara lokal tidak sesuai dengan kebutuhan pembangkit dan industri.
Kenaikan kebutuhan China dan India berpotensi menopang volume ekspor perusahaan batu bara Indonesia.
Produksi Indonesia Dibatasi
Dari dalam negeri, pemerintah menargetkan produksi batu bara 2026 sekitar 600 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai sekitar 817,48 juta ton.
Produksi Januari-Juli 2026 telah mencapai 423,71 juta ton. Apabila target tetap dipertahankan, ruang produksi Agustus-Desember tersisa sekitar 176,29 juta ton.
Pengendalian produksi dapat membantu mengurangi kelebihan pasokan dan menopang harga. Namun, kebijakan tersebut juga dapat membatasi volume penjualan perusahaan.
Cuaca kering dan penurunan level sungai di wilayah Kalimantan turut menjadi perhatian karena berpotensi menghambat pengangkutan batu bara melalui jalur sungai.
Kebijakan Trump Berpotensi Batu Bara
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) pada Senin mengumumkan tidak akan lagi mengatur emisi yang menyebabkan pemanasan global dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas alam.
EPA memperkirakan produksi batu bara untuk kebutuhan sektor listrik dapat meningkat lebih dari 10 kali lipat akibat perubahan kebijakan tersebut. Ini merupakan katalis yang sangat positif bagi batu bara termal AS.
Pencabutan aturan emisi pembangkit listrik oleh pemerintahan Trump berpotensi menjadi angin segar bagi industri batu bara AS karena pembangkit batu bara akan menghadapi tekanan regulasi dan biaya pengurangan emisi yang lebih rendah, sehingga pembangkit-pembangkit yang sebelumnya terancam pensiun memiliki peluang untuk beroperasi lebih lama.
Kebijakan ini juga berpotensi meningkatkan permintaan batu bara untuk pembangkit listrik AS, bahkan EPA memperkirakan produksi batu bara untuk sektor listrik dapat meningkat lebih dari 10 kali lipat.
Namun, dampaknya terhadap batu bara Indonesia tidak otomatis positif. Jika lonjakan produksi AS membuat lebih banyak batu bara masuk ke pasar ekspor, pasokan global dapat meningkat dan menekan harga batu bara dunia, sekaligus membuat AS menjadi pesaing yang lebih kuat bagi eksportir seperti Indonesia.
Sebaliknya, jika tambahan produksi AS lebih banyak diserap oleh pembangkit domestik untuk memenuhi kebutuhan listrik, terutama akibat lonjakan permintaan dari pusat data dan AI, pasokan batu bara di pasar internasional justru dapat lebih terbatas.
RKAB dan Ekspor Jadi Risiko
Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB menjadi salah satu risiko operasional terdekat. Tiga anak usaha BYAN menyatakan force majeure karena revisi RKAB 2026 belum mendapatkan persetujuan.
Keterlambatan izin dapat menghambat produksi dan pengiriman kepada pelanggan. Kondisi ini ikut menjelaskan koreksi tajam saham BYAN dalam satu bulan terakhir.
Selain RKAB, emiten juga harus menyesuaikan diri dengan sistem ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan transparansi nilai ekspor, mengurangi praktik under-invoicing, dan mengoptimalkan devisa hasil ekspor.
Penerapan sistem baru dapat memperbaiki tata kelola dalam jangka panjang. Namun, proses transisi berpotensi menambah kebutuhan administrasi dan biaya kepatuhan perusahaan.
Laba Emiten Kompak Bertumbuh
Kenaikan saham sektor batu bara turut ditopang perbaikan kinerja keuangan. Sebanyak 12 emiten yang memiliki data sebanding mencatatkan pertumbuhan laba pada periode Q2 2026.
AADI dan BYAN masih menjadi emiten dengan laba terbesar secara nominal. Sementara itu, PTBA dan BUMI membukukan pertumbuhan laba tertinggi di kelompok emiten besar.
Pada kelompok yang lebih kecil, KKGI dan MBAP mencatatkan pertumbuhan di atas 100%, meskipun berasal dari basis laba yang relatif rendah.
Pasar selanjutnya akan mencermati keberlanjutan harga NCFMc2, kebutuhan impor China dan India, kebijakan produksi Indonesia, persetujuan RKAB, serta kemampuan setiap emiten mempertahankan pertumbuhan laba pada semester II-2026.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


















































