Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah analis meyakini kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tetap kuat di 2026. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat bank yang dipimpin oleh Hery Gunardi ini punya kemampuan dalam mencetak keuntungan besar setiap tahunnya. Salah satunya lewat ekspansi kredit yang jelas ke segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Seperti diketahui, BRI menjadi salah satu bank yang ditunjuk pemerintah sebagai agent development yang harus menghidupkan dunia usaha, khususnya UMKM. Dengan pengalaman panjang dan penerapan prinsip kehati-hatian yang besar, tidak heran jika BRI memiliki potensi besar dalam mendongkrak UMKM naik kelas, dengan tetap tidak mengesampingkan posisi sebagai perusahaan yang berorientasi pada laba.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi bahkan menuturkan, BRI sebagai bank yang fokus terhadap UMKM memiliki economic moat atau keunggulan jangka panjang dalam menjaga pangsa pasar dan profitabilitas dari pesaingnya.
"Prospeknya solid. Pendorongnya ekspansi kredit segmen mikro dengan margin tinggi, rasio CASA yang kuat, dan perbaikan kualitas aset," ujar Wafi kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (20/4/2026).
Efek ini, lanjut Wafi sangat menguntung bagi Investor. Dengan begitu investor bisa terus menikmati cuan atau keuntungan dari kinerja BRI yang terus positif sepanjang tahun. Khususnya dari dividen.
Hal tersebutlah yang membuat saham BRI selalu diburu investor, baik institusi maupun ritel.
Apalagi baru-baru ini, BRI memutuskan untuk menyetor dividend payout ratio sebesar 92% senilai Rp 52,1 triliun. Besarnya persentase dividen terhadap laba bersih ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor, yang menunjukkan kepercayaan diri perusahaan dalam menjalankan bisnis.
"Dividennya menarik karena yield yang relatif tinggi. Ini juga mencerminkan fundamental yang solid, profitabilitas tangguh, dan likuiditas kas melimpah. Dividennya tepat dan shareholder-friendly. Keputusan ini membuktikan confidence terhadap CAR yang tetap kokoh untuk menopang target ekspansi bisnis ke depan," terangnya.
Hal tersebut juga diakui oleh Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma. Ia mengatakan, dividend payout ratio BRI sangat besar dibandingkan dengan bank-bank Himbara lainnya. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri, sehingga saham BRI menjadi salah satu pilihan investor.
Tantangannya, ujar Suria, ke depan bagaimana BRI bisa fokus menekan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah. Dengan begitu potensi BRI meraih keuntungan bisa semakin besar.
"Tantangan ke depan memang bagaimana BRI menurunkan kembali NPL-nya dan pemilihan penyaluran kredit. Bisnis mikro yang dulu menjadi andalan, sekarang lebih fokus kepada pemulihan kualitas kredit," ujar Suria.
Tidak ketinggalan, Pengamat Perbankan dari Universitas Bina Nusantara (BINUS), Doddy Ariefianto menuturkan, bahwa perbankan memegang peran strategis dalam mendukung resiliensi UMKM melalui pembiayaan. Pada September 2024, porsi kredit UMKM di bank umum tercatat 19,74% dari total kredit bank umum.
Namun OJK mencatat NPL kredit UMKM pada September 2024 sebesar 4,00%, masih di bawah ambang 5%, tetapi ini tetap lebih tinggi daripada NPL gross perbankan umum yang berada di kisaran 2,2% pada pertengahan 2025.
"Artinya, menambah pembiayaan UMKM bisa aman kalau underwriting-nya disiplin, portofolionya terdiversifikasi, dan monitoring-nya kuat; bukan aman karena volumenya besar semata. Risiko konsentrasi juga nyata, kredit UMKM masih terkonsentrasi di sektor perdagangan besar dan eceran (46,12%) serta di Pulau Jawa (56,00%)," tukas Doddy.
Menurut dia, BRI tampak berhasil menjadikan UMKM sebagai mesin pertumbuhan tanpa kehilangan disiplin risiko, tetapi keberhasilan itu sangat bergantung pada kualitas underwriting, pemantauan arus kas debitur, dan ketahanan segmen mikro yang memang paling rentan ketika siklus usaha melemah.
(dpu/bul)
Addsource on Google


















































