- Pasar keuangan RI kembali babak belur, IHSG ambruk lebih dari 3% dan rupiah kembali melemah
- Wall Street kompak menguat di tengah optimisme berakhirnya perang Iran
- Data Neraca Pembayaran Indonesia, perkembangan uang beredar, dan rencana sentralisasi ekspor sumber daya alam yang mendapat respons negatif dari lembaga pemeringkat global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik.
Tekanan pada pasar keuangan diperkirakan masih akan menyelimuti perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup merosot 3,54% ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis kemarin. Koreksi tajam ini membuat IHSG kehilangan 223,56 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 6.318,50.
Sejak awal sesi, IHSG sebenarnya sempat bergerak di zona hijau dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81. Namun, tekanan jual kemudian membesar dan membawa IHSG turun hingga menyentuh titik terendah harian di 6.080,95.
Aktivitas perdagangan terbilang ramai. Nilai transaksi pasar mencapai Rp18,03 triliun, dengan volume perdagangan 33,45 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,11 juta kali.
Aksi jual oleh investor asing pun kembali mewarnai IHSG. Asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp544,8 miliar.
Tekanan jual terjadi nyaris merata di seluruh papan perdagangan. Sebanyak 700 saham melemah, hanya 91 saham menguat, sementara 168 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga turun menjadi Rp10.553 triliun, seiring anjloknya mayoritas saham berkapitalisasi jumbo.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor berada di zona merah. Sektor utilitas menjadi yang paling dalam koreksinya, yakni 7,80%, disusul sektor energi yang turun 6,87%, dan sektor bahan baku yang melemah 6,09%.
Dari sisi penggerak indeks, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi positif 2,13 poin.
Setelah itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyumbang 1,42 poin, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) 1,34 poin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) 1,26 poin.
Sementara itu, penekan terbesar IHSG datang dari saham PT Astra International Tbk (ASII) yang membebani indeks hingga 14,96 poin. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 14,26 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 11,52 poin, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 11,21 poin.
Tekanan juga datang dari saham-saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.640/US$ atau melemah 0,23%. Kondisi ini membuat rupiah kembali tertekan setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (20/5/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,54% di level Rp17.600/US$.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup volatil. Rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.600/US$, lalu sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.685/US$. Namun, tekanan sedikit berkurang menjelang penutupan perdagangan.
Penguatan indeks dolar AS di pasar global turut menjadi salah satu penekan rupiah pada perdagangan Kamis. Greenback kembali diburu pelaku pasar seiring ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Federal Reserve berpeluang menaikkan suku bunga.
Risalah rapat terakhir The Fed yang dirilis Rabu menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%.
Mengacu data LSEG, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 70% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember. Pasar juga sudah sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga paling lambat pada Maret 2027.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran sudah berada di tahap akhir. Namun, Trump juga menyebut AS bisa mengambil langkah lebih keras jika kesepakatan tidak tercapai.
Dari pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 1,37% ke level 6,887% pada perdagangan Kamis kemarin.
Kenaikan yield menunjukkan harga SBN kembali tertekan. Kondisi ini memperlihatkan tekanan pasar belum sepenuhnya mereda, meski BI sudah mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga acuan.
Addsource on Google

















































