Dikritik DPR soal Kecelakaan Kereta di Bekasi, Menhub: Pelajaran buat Kita

5 hours ago 4
Jakarta -

Komisi V DPR memberikan atensi kepada pemangku kebijakan atas insiden kecelakaan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur yang menewaskan belasan penumpang. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan peristiwa itu menjadi pelajaran bagi pihaknya.

"Oh ya setiap kecelakaan itu kan buat membuat pelajaran yang penting buat kita tentunya dan itu harus harus diikuti dengan perbaikan," kata Dudy seusai rapat kerja di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Dudy mengatakan pihaknya terbuka dengan semua masukan dan kritik. Ia menyebutkan kritik dari publik semata untuk perbaikan moda transportasi di Indonesia ke depannya.

"Pasti dan kami selalu dengan tangan terbuka akan apa menerima setiap masukan, saran, dan kritik. Ini untuk perbaikan dan harus kita perbaiki ya," ujarnya.

Diketahui, Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Dudy Purwagandhi, KNKT, hingga KAI terkait insiden kecelakaan kereta api di Bekasi Timur. Ketua Komisi V DPR Lasarus mempertanyakan mengapa kondisi tersebut bisa terjadi.

"Sebagaimana kita tahu, terjadi perdebatan di publik apakah tidak ada ruang bagi sistem yang dimiliki oleh kereta api atau sistem yang dikendalikan oleh operator PT KAI dari kereta api ini untuk bisa kendalikan situasi? Hal ini pak bakalan terjadi lagi atau tidak? Itu jadi pertanyaan masyarakat," kata Lasarus saat mengawali rapat.

Kemudian, dia mempertanyakan cara memitigasi kejadian serupa. Ia menyebutkan, dari banyaknya lintasan sebidang saat ini, ada potensi kejadian serupa akan terulang.

"Tentu peluang untuk terjadi hal serupa sangat mungkin, sangat mungkin dengan banyaknya perlintasan sebidang. Apa lagi perlintasan sebidang yang tidak ada penjaganya. Mana kala itu terjadi, bagaimana sistem kendalikan situasi? Itu yang ingin kita evaluasi hari ini," ucap dia.

Kemudian, dia menyoroti alasan KA Agro Bromo Anggrek bisa tak terkendali lalu menabrak KRL yang berhenti. Ia bertanya apakah sistem yang dimiliki saat ini tak bisa mengendalikan situasi tersebut.

"Kita, saya, tidak mengerti detail soal operasional kereta api, tapi akal sehat kita bisa berpikir, Pak, kalau sistemnya mengalami masalah, pasti kan jadwal keberangkatan masing-masing kereta ketahuan, itu apa namanya Pak Menteri schedule kereta? Gapeka, itu Grafik Perjalanan Kereta, di grafik itu kan pasti ketahuan kereta ini berada di mana, kemudian kira-kira posisinya di mana ketika ini terjadi," jelas dia.

"Kemudian, tenggat waktu antarkereta kalau tenggat waktu kita buat 5 menit, 7 menit, 10 menit, 8 menit, berapa pun lah yang diatur, kan pasti ada hitungan teknisnya, nah apakah hitungan itu sudah mencatat mana kala terjadi kecelakaan di depan bisa nggak dengan jarak menit yang ada bisa kendalikan situasi atau tidak?" lanjutnya.

Lasarus menekankan yang sudah terjadi tak bisa dikembalikan. Namun ia menilai tidak cerdas jika insiden tersebut terjadi lagi ke depannya.

"Yang sudah berlalu tak bisa kita tarik kembali, Pak, namun kalau mengulangi kejadian yang sama, kurang bijak bilang pak, mohon maaf ya, tidak cukup cerdas kita, mungkin bahasa itu yang paling sopan pak kalau sampai jatuh di lobang yang sama 2 kali," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemerintah jujur dengan situasi yang ada. Menurut dia, jika ada kebohongan, semuanya berbohong kepada korban.

"Karena ini menyangkut nyawa, saya waktu telepon dengan Pak Menhub, 'Pak Menteri ini kita ungkap apa adanya, karena ini tanggung jawab kita kepada korban', gitu ya Pak Menteri ya, kepada nyawa yang hilang, kalau kita berbohong saat ini kita berbohong juga kepada mereka yang sudah pergi yang alami kecelakaan ini," tutur dia.

Simak juga Video: Polisi Ungkap Perkembangan Penyidikan Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo

(dwr/isa)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |