Bantah Bahas Chromebook, Nadiem Ungkap Isi Chat Grup WA 'Mas Menteri Core'

3 hours ago 3

Jakarta - Mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengungkap isi percakapan grup WhatsApp (WA) 'Mas Menteri Core'. Nadiem membantah grup tersebut membahas pengadaan Chromebook.

Hal ini disampaikan Nadiem dalam sidang pemeriksaan terdakwa kasus pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/5/2026). Nadiem awalnya menjawab pertanyaan Jaksa yang menyebut grup tersebut membahas pengadaan Chromebook.

"Untuk menjawab pertanyaan Pak Jaksa tadi di dalam grup tersebut kami membahas garis-garis besar kebijakan-kebijakan yang pada saat ini dianggap bisa mengatasi permasalahan terbesar dalam sistem pendidikan kita, yaitu ada berbagai macam permasalahan yang ada di dalamnya," ucapnya.

"Begitu kagetnya saya pada saat kasus ini dimulai, bahwa diumumkan oleh pihak Kejaksaan, bahwa di dalam grup WhatsApp Group tersebut sebelum menjadi menteri sudah dibahas mengenai pengadaan TIK atau Chromebook, yang ternyata tidak terjadi sama sekali dan tidak ada chat-nya," lanjut Nadiem.

Nadiem mengaku grup chat tersebut sebatas membahas kurikulum hingga digitalisasi.

"Di dalam chat itu terang-benderang tersebut bahwa kita membahas kurikulum, kita membahas strategi digitalisasi, apa itu digitalisasi," terangnya.

Setelahnya, Nadiem menerangkan awal mula pembuatan grup WA 'Mas Menteri Core' itu. Nadiem mengatakan stafsus yang tergabung dalam grup itu belum semuanya dikenal.

"Pada saat itu saya yang mengundang mereka karena saya mendengar mengenai reputasi mereka dari berbagai orang yang merekomendasikan. Lalu saya berkomunikasi, meeting, kita berbicara, lalu mereka punya passion untuk mau membantu saya gitu," jawab Nadiem.

"Walaupun pada saat itu belum membahas mau perannya apa, tapi selama perbincangan itu terjadi, sudah jelas mereka semakin mau menjadi staf khusus pada saat itu," lanjutnya.

Nadiem kemudian menerangkan maksud membuat grup tersebut. Nadiem mengatakan membutuhkan orang-orang yang mengerti tentang pemerintahan hingga membuat kebijakan.

"Apalagi niat saya? Saya orang di bidang teknologi, di bidang bisnis, tidak pernah masuk partai politik, saya tidak tahu pemerintah, saya tidak tahu pendidikan, saya tidak tahu publik policy," jawab Nadiem.

"Saya tahu industri 10-20 tahun lagi seperti apa pada saat anak-anak akan lulus, itu yang saya tahu. Saya tahu hal-hal yang banyak orang dalam dunia pendidikan tidak tahu, tetapi bagaimana sejarah reformasi pendidikan di Indonesia, bagaimana situasi pendidikan saat ini, bagaimana cara membuat peraturan dan kebijakan kementerian, ya saya zonk, saya tidak mengetahui gimana cara melakukan itu," sambungnya.

Nadiem juga menjelaskan, dia menilai para stafsusnya tersebut memahami betul cara untuk membimbingnya yang belum berpengalaman sebagai seorang menteri di bidang pendidikan. Dia juga mengatakan para stafsusnya memiliki pengalaman turut membimbing menteri-menteri sebelumnya.

"Jadi saya mengumpulkan orang-orang terbaik, pakar-pakar yang mengerti cara orang swasta berkomunikasi, tetapi mengerti pendidikan. Fiona, Najelaa, semua sudah membimbing menteri sebelumnya, Pak Muhajir bahkan juga Pak Anies, bahkan Pemda pun mereka membantu dalam kebijakan pendidikan. Jadi itu menjadi sumber informasi dan pertimbangan bagi saya," imbuhnya. (kuf/idn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |