ASEAN+3 Jadi Pasar Terbesar Dunia, Bye Amerika

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

09 February 2026 13:25

Jakarta, CNBC IndonesiaPeta ekonomi global mulai bergeser. ASEAN+3 yang mencakup China, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN kini kian tampil sebagai pasar raksasa dunia, bukan lagi sekadar basis produksi untuk memenuhi belanja negara-negara Barat.

Mengutip AMRO atau ASEAN+3 Macroeconomic Research Office, gabungan negara-negara ASEAN ditambah dengan tiga negara Asia ini justru telah berubah menjadi pasar terbesar dunia, seiring bergesernya peta ekonomi global dan semakin dominannya permintaan dari Asia.

AMRO menilai anggapan lama bahwa ekonomi Asia akan terancam setiap kali konsumen Amerika Serikat mengerem belanja kini makin tidak tepat. Alasannya, produksi di kawasan semakin banyak diserap oleh pasar regional.

Artinya, ASEAN+3 kian banyak memproduksi untuk kebutuhan Asia sendiri, bukan semata untuk pasar negara maju.

Sebagai catatan, AMRO merupakan unit surveillance independen yang dibentuk oleh forum kerja sama ASEAN+3.

ASEAN+3 Salip AS Jadi Pasar Terbesar Dunia

Berdasarkan rilis AMRO, pada 2022 ASEAN+3 menyumbang 28% dari permintaan global. Angka ini melampaui Amerika Serikat (AS) yang berkontribusi 26%. Perhitungan ini menggunakan pendekatan value-added analysis yang melacak tujuan akhir konsumsi, bukan hanya arus barang melintasi perbatasan.

Pergeseran ini juga terlihat dari arah penyerapan ekspor. Dua dekade lalu, hampir sepertiga ekspor ASEAN+3 yang melayani permintaan akhir mengalir ke AS. Namun pada 2022, porsi tersebut turun menjadi 20%. Sebaliknya, permintaan intra-kawasan mendekati 30% yang artinya, Asia semakin kuat sebagai pasar bagi dirinya sendiri.

China Jadi Magnet Baru Rantai Pasok

AMRO menilai statistik perdagangan konvensional kerap mengaburkan peran China sebagai konsumen karena banyak barang yang dibeli rumah tangga China dirakit di dalam negeri dari komponen impor. Melalui pendekatan nilai tambah, China terlihat sebagai tujuan besar permintaan akhir, bukan sekadar titik produksi atau jalur transit barang.

Skala konsumsi China menjadi pendorong utama perubahan rantai pasok ini. AMRO mencontohkan sektor otomotif, di mana China kini menjadi pasar kendaraan terbesar dunia dengan porsi hampir sepertiga penjualan global, bahkan melampaui gabungan AS dan Uni Eropa.

China juga memimpin adopsi kendaraan listrik yang ikut membentuk ulang rantai pasok, dari baterai hingga semikonduktor. Pada pasar smartphone, China disebut menampung lebih dari seperlima pengguna global, sekitar empat kali porsi AS.

Perubahan itu ikut menggeser pertimbangan pelaku industri. Jika dulu Jepang menjadi jangkar jaringan pasok Asia, kini peran tersebut makin bergeser ke China. Tidak hanya sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai sumber permintaan akhir yang menarik rantai pasok semakin dekat ke pasar domestiknya.

Bukan Ketergantungan Satu Arah

AMRO menekankan transformasi ini bukan cerita ketergantungan satu arah pada China. Pola yang terbentuk justru saling menguatkan. Jepang dan Korea menyuplai input berteknologi tinggi seperti chip, layar, komponen eletronik, serta peralatan lainnya.

Sedangkan negara-negara ASEAN menyediakan kemampuan manufaktur menengah dan perakitan. China menyumbang skala, kemampuan produksi yang makin canggih, sekaligus permintaan akhir yang besar.

Di saat yang sama, ASEAN sendiri mulai tampil sebagai pasar yang semakin penting. Dengan basis konsumen besar dan kelas menengah yang terus berkembang, kawasan ini menjadi tujuan signifikan bagi barang dari China, Jepang, dan Korea.

AMRO mencatat, ASEAN merupakan sumber permintaan akhir terbesar bagi ekspor China setelah AS, sekaligus menjadi salah satu basis permintaan dengan pertumbuhan tercepat di ekonomi global.

Arah Ekonomi Ikut Bergeser

Perubahan struktur ini memiliki konsekuensi terukur terhadap cara guncangan ekonomi menyebar.

Mengutip AMRO, analisis skenario menunjukkan penurunan permintaan domestik China kini berdampak pada kawasan ASEAN+3 lima kali lebih besar dibanding dua dekade lalu. Sementara itu, sensitivitas terhadap guncangan permintaan AS relatif menurun bagi sebagian besar ekonomi di kawasan.

AMRO menilai siklus bisnis negara-negara ASEAN+3 kini semakin tersinkronisasi satu sama lain dibanding dengan ekonomi di luar kawasan. Meski begitu, AMRO menegaskan hal ini bukan berarti kawasan kebal terhadap kebijakan perdagangan AS. Eskalasi tarif tetap membawa biaya tinggi dan faktor global tetap berpengaruh signifikan.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |