Ahli Gizi Beri Tips Menu Makan Anak yang Murah Bisa Cegah Stunting

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kacang hijau dinilai memiliki peran penting dalam upaya pencegahan stunting pada anak, terutama karena kandungan proteinnya yang relatif tinggi, mudah diolah, dan terjangkau bagi masyarakat. Pangan lokal ini kerap dimanfaatkan sebagai makanan tambahan di posyandu untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan ibu hamil.

Pakar gizi dari IPB University, Prof Ali Khomsan menyebut, kacang hijau merupakan salah satu sumber protein nabati yang potensial untuk membantu memperbaiki status gizi anak.

"Kalau kita bicara kacang hijau sebagai leguminosa, itu tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi," ujar Prof Ali Khomsan, dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dalam keterangannya dikutip laman resmi IPB, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, kacang hijau relevan dimanfaatkan dalam program pencegahan stunting karena harganya relatif murah dan mudah diperoleh di berbagai daerah. Faktor ini, kata ia, membuat kacang hijau kerap dipilih sebagai bahan pangan tambahan dalam layanan kesehatan dasar, seperti posyandu.

Ali menjelaskan, pemberian kacang hijau, semisal dalam bentuk bubur, sering dilakukan bersamaan dengan kegiatan imunisasi bukan tanpa alasan. Kandungan energi dan proteinnya dibutuhkan untuk membantu pemulihan kondisi tubuh anak setelah imunisasi sekaligus mendukung pertumbuhan.

"Kacang hijau sering diberikan di posyandu karena mudah diterima anak, gizinya cukup baik, dan bisa membantu menambah asupan energi serta protein. Tapi tentu tidak cukup kalau hanya diberikan sesekali," kata ia.

Ia menegaskan, pemberian makanan tambahan untuk anak stunting atau gizi kurang harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, bukan bersifat sporadis.

"Kalau pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak dengan stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang tiga bulan, ada yang sampai enam bulan," jelasnya.

Dari sisi pengolahan, kacang hijau dinilai fleksibel karena bisa diolah menjadi bubur, camilan, atau produk pangan lain yang relatif disukai anak-anak. Hal ini menjadikannya salah satu pangan lokal yang potensial diandalkan dalam program perbaikan gizi.

Walau begitu, Ali mengingatkan protein nabati memiliki daya cerna dan daya serap yang lebih rendah dibandingkan protein hewani. Karena itu, kacang hijau tidak bisa menjadi solusi tunggal penanggulangan stunting.

"Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga perlu dikombinasikan dengan sumber hewani seperti susu, telur, atau lauk hewani lainnya. Namun, kacang hijau tetap penting dan perlu dioptimalkan," ujarnya.

Sebagai catatan, isu pemanfaatan kacang hijau ini kembali mengemuka bertepatan dengan peringatan World Pulses Day atau Hari Kacang-kacangan Sedunia pada 10 Februari, yang menyoroti peran kacang-kacangan sebagai sumber gizi berkelanjutan.

Ali merekomendasikan agar kacang hijau diintegrasikan secara konsisten dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu, disertai edukasi gizi kepada keluarga. Pendekatan jangka panjang dinilai krusial agar intervensi pangan benar-benar berdampak pada penurunan stunting.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |