Waka Badan Penganggaran MPR Bicara Soal Generasi Muda-Estafet Perjuangan RI

2 hours ago 1

Jakarta -

Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, Johan Rosihan mengajak generasi muda untuk tidak menempatkan diri sekadar sebagai penonton perjalanan bangsa. Menurutnya, anak muda hari ini merupakan generasi terbaru yang menerima estafet perjuangan Indonesia dari generasi-generasi sebelumnya.

"Perjalanan Indonesia bisa kita ibaratkan seperti lari estafet. Kita tidak memulai perlombaan ini dari garis start. Para pendiri bangsa telah memulainya, kemudian setiap generasi menerima tongkat itu, berlari pada zamannya, lalu menyerahkannya kepada generasi berikutnya," kata Johan dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Johan dalam Sarasehan Kebangsaan bersama Garuda Keadilan Jakarta Selatan (GK Seljak) yang dikemas melalui talkshow bertajuk 'Aku, Kamu & Indonesia Hari Ini', di Jakarta Selatan, Sabtu (12/9). Talkshow turut menghadirkan aktivis muda dan Ketua BEM UGM 2019, M. Atiatul Muqtadir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Johan, cara pandang tersebut penting agar generasi muda memahami bahwa kemerdekaan dan perjalanan kebangsaan bukanlah sesuatu yang selesai pada satu generasi. Setiap zaman menghadirkan tantangan berbeda dan karena itu membutuhkan bentuk perjuangan yang berbeda pula.

"Generasi kita tidak diminta mengulangi apa yang dilakukan generasi 1928 atau 1945. Tantangannya sudah berbeda. Tetapi semangatnya sama: apa yang bisa kita kerjakan agar ketika tongkat estafet itu kita serahkan, Indonesia berada dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya," ujarnya.

Johan menilai, anak muda tidak seharusnya hanya diminta memahami negara. Sebaliknya, negara juga harus mampu memahami keresahan, aspirasi, bahasa dan perubahan cara berpikir generasi muda serta menyediakan ruang yang nyata bagi mereka untuk berpartisipasi.

"Jangan hanya meminta anak muda memahami negara. Negara juga harus belajar memahami anak muda. Ruangnya bukan sekadar mengundang mereka hadir, tetapi memberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berkolaborasi, bahkan ikut memengaruhi proses pengambilan keputusan," katanya.

Dalam membangun Indonesia hari ini, Johan mendorong generasi muda memulai dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan mereka. Keresahan terhadap persoalan bangsa, menurutnya, perlu ditingkatkan menjadi pengetahuan, kemudian diolah menjadi gagasan dan akhirnya diwujudkan melalui kerja bersama.

"Jangan berhenti pada kritik. Ubah keresahan menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan, gagasan menjadi kolaborasi, dan kolaborasi menjadi aksi nyata. Indonesia terlalu besar untuk dibangun sendirian," tegas Johan.

Ia mengatakan kontribusi terhadap bangsa juga tidak harus selalu ditempuh melalui politik atau jabatan publik. Anak muda dapat mengambil bagian melalui pendidikan, teknologi, kewirausahaan, pertanian, lingkungan, profesi, komunitas, maupun berbagai bentuk pengabdian sosial.

Karena itu, lanjut Johan, pertanyaan yang perlu dibiasakan kepada generasi muda bukan hanya "apa yang negara berikan kepada saya?", melainkan juga "apa yang dapat saya berikan kepada republik ini?"

"Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Anak muda harus berani mengkritik negara ketika ada yang salah. Tetapi kritik harus kita naikkan menjadi kemampuan memahami masalah, menawarkan alternatif, dan bersedia ikut mengerjakannya. Kritik adalah bentuk kepedulian, sedangkan kontribusi adalah bentuk tanggung jawab," ujarnya.

Johan menekankan bahwa semangat kebangsaan pada akhirnya harus mampu mengubah hubungan antara 'aku' dan 'kamu' menjadi 'kita'. Perbedaan generasi, profesi maupun pandangan politik tidak seharusnya menghilangkan kesadaran mengenai tujuan bersama sebagai bangsa.

"Dari 'aku' dan 'kamu', kita harus sampai kepada 'kita'. Sebab Indonesia tidak pernah dibangun oleh satu orang atau satu generasi. Indonesia dibangun ketika banyak orang dengan latar belakang berbeda bersedia mengambil tanggung jawab bersama," katanya.

Menutup sarasehan, Johan menitipkan pesan agar generasi muda tidak merasa sedang menunggu giliran untuk memiliki dan menentukan masa depan Indonesia.

"Kalian bukan generasi yang sedang menunggu giliran. Kalian adalah generasi terbaru dari estafet perjuangan Indonesia. Tugas kita bukan sekadar menerima Indonesia, tetapi membuatnya lebih baik sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya," pungkas Johan.

(ega/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |