Jakarta, CNBC Indonesia - Tentara Rusia memulai latihan senjata nuklir selama tiga hari yang melibatkan ribuan pasukan di seluruh negeri. Hal ini seiring meningkatnya serangan drone Ukraina dan perjalanan Presiden Vladimir Putin menuju ke China.
Sepanjang serangannya selama lebih dari empat tahun di Ukraina, Moskow telah memamerkan kepemilikan senjata nuklirnya dan berulang kali mengancam akan menggunakannya. Latihan ini juga dilakukan beberapa bulan setelah pakta senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) gagal dan di tengah serangkaian komentar baru dari Putin yang memuji kehebatan kekuatan atom Moskow.
"Dari tanggal 19 hingga 21 Mei 2026, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia melakukan latihan tentang persiapan dan penggunaan kekuatan nuklir jika terjadi ancaman agresi," kata kementerian pertahanan, dikutip AFP, Selasa (19/8/2026).
Berakhirnya perjanjian New START dengan Washington pada bulan Februari secara resmi membebaskan dua kekuatan nuklir terbesar di dunia dari sejumlah pembatasan. Latihan tersebut akan melibatkan lebih dari 65.000 pasukan dan 7.800 jenis peralatan dan senjata, termasuk lebih dari 200 peluncur rudal.
"Pesawat terbang, kapal, kapal selam, dan kapal selam nuklir semuanya akan ikut serta," tambahnya.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa mereka juga akan melakukan uji coba peluncuran rudal balistik dan rudal jelajah. Latihan ini juga akan membahas isu-isu terkait pelatihan bersama dan penggunaan senjata nuklir yang ditempatkan di wilayah Republik Belarus.
Rusia telah menempatkan rudal berkemampuan nuklir, Oreshnik, ke sekutunya Belarus, yang berbatasan dengan NATO. Moskow mengumumkan dimulainya latihan tersebut beberapa jam sebelum Putin dijadwalkan berada di China untuk kunjungan dua hari.
(sef/luc)
Addsource on Google


















































