Ini Hitung-hitungan Kerugian Ekonomi AS Karena Trump, Bikin Bangkrut?

3 hours ago 5

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

19 May 2026 20:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Amerika Serikat masih terlihat kuat dibandingkan banyak negara maju lainnya. Namun, di balik kekuatan itu, muncul pertanyaan besar. Seberapa besar biaya yang harus ditanggung ekonomi AS akibat kebijakan Presiden Donald Trump?

Mengutip The Economist, sejak Trump menjabat pada Januari tahun lalu, ekonomi AS masih menjadi salah satu yang paling tangguh di antara negara-negara kaya. Pada 2025, ketika Inggris, Prancis, dan Jepang hanya tumbuh sekitar 1%, sementara Jerman hampir tidak bergerak, ekonomi AS masih mampu tumbuh 2,1%.

Pasar saham AS juga terus mencetak rekor tertinggi baru dalam 15 bulan terakhir. Padahal, Trump menjalankan sejumlah kebijakan yang dinilai bisa menekan pertumbuhan, mulai dari deportasi massal pekerja migran hingga perang dagang yang tidak menentu.

Kondisi ini membuat banyak pengamat bingung. Sebelumnya, sebagian pihak memperkirakan ekonomi AS akan terpukul berat. Namun, kenyataannya ekonomi AS masih tetap kuat.

Meski begitu, pertanyaan lain muncul. Apakah ekonomi AS sebenarnya bisa tumbuh lebih kencang jika tidak terbebani oleh kebijakan Trump?

Dengan kata lain, seberapa besar biaya ekonomi dari agenda Trump "MAGA" (Make America Great Again) terhadap mesin ekonomi terbesar dunia?

Ekonomi AS Sedang Mendapat Banyak Dorongan

Salah satu cara menghitung beban tersebut adalah dengan membayangkan seperti apa ekonomi AS jika tidak ada tekanan dari kebijakan Trump.

Trump mewarisi ekonomi yang memang sudah tumbuh cukup kuat. Setelah itu, ekonomi AS mendapat tiga dorongan besar.

The EconomistFoto: The Economist

Dorongan pertama datang dari ledakan belanja modal di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Belanja modal dari empat raksasa teknologi, yakni Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft, mencapai lebih dari US$350 miliar pada 2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru mereka, angka ini diperkirakan naik menjadi sekitar US$700 miliar pada 2026.

Belanja besar ini memicu pembangunan pusat data, pembelian chip, sistem pendingin, dan perangkat lunak. Pada 2025, investasi riil untuk perangkat pemrosesan informasi, software, dan pusat data tumbuh lebih dari 15%.

The EconomistFoto: The Economist

Jika dihitung secara kasar, lonjakan ini menyumbang hampir 1 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan AS. Angka tersebut setara dengan hampir separuh dari total pertumbuhan ekonomi AS.

Namun, kontribusi sebenarnya tidak sebesar itu. Sebab, sekitar dua pertiga belanja pusat data digunakan untuk membeli peralatan. Banyak peralatan itu diimpor dari negara Asia, seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Artinya, ketika perusahaan AS membeli komponen tersebut, sebagian aktivitas ekonominya justru terjadi di luar negeri, bukan di dalam AS.

Setelah memperhitungkan kenaikan impor peralatan, The Economist memperkirakan hanya sekitar US$50 miliar dari ledakan investasi AI pada 2025 yang benar-benar menjadi tambahan produksi domestik AS.

Kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan hanya sekitar 0,2 poin persentase.

Pasar Saham Ikut Mengangkat Ekonomi

Dorongan kedua datang dari pasar saham AS.

Sejak kemenangan Trump dalam pemilu hingga akhir 2025, indeks S&P 500 naik sekitar 15% secara riil. Kenaikan ini tergolong cepat jika dibandingkan dengan pola historis.

Lonjakan pasar saham tersebut menambah kekayaan rumah tangga AS sekitar US$5 triliun di atas kenaikan yang biasanya terjadi dalam satu tahun normal.

Masyarakat AS memang tidak langsung membelanjakan seluruh tambahan kekayaan dari saham. Namun, sebagian kecil dari kenaikan kekayaan itu tetap masuk ke konsumsi.

Dengan asumsi konservatif, setiap kenaikan US$1 kekayaan dari saham bisa mendorong belanja sekitar 2 sen pada tahun pertama.

Dari hitungan tersebut, kenaikan pasar saham kemungkinan menambah konsumsi sekitar US$100 miliar pada 2025.

Karena konsumsi rumah tangga adalah penggerak utama ekonomi AS, efek ini diperkirakan menambah pertumbuhan sekitar 0,3 poin persentase.

Sebagian Kebijakan Trump Juga Mendorong Pertumbuhan

Dorongan ketiga datang dari sebagian kebijakan Trump yang memang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pemerintahannya membuat proses merger perusahaan lebih mudah, meminta lembaga federal memangkas aturan yang dianggap berlebihan, dan melonggarkan sebagian batasan pada kredit swasta.

RUU pajak yang disahkan pada 2025 juga menyuntikkan stimulus fiskal bernilai triliunan dolar AS ke ekonomi melalui pemangkasan pajak.

Kebijakan pajak ini juga kemungkinan membantu pertumbuhan jangka panjang. Pemangkasan pajak korporasi dan pajak lainnya dibuat permanen. Perusahaan juga kembali bisa membebankan penuh belanja riset dan pengembangan.

Selain itu, perusahaan diberi ruang untuk mempercepat depresiasi aset. Semua ini membuat dunia usaha punya insentif lebih besar untuk berinvestasi.

Sejumlah proyeksi independen yang ditinjau The Economist, termasuk dari Congressional Budget Office, Tax Foundation, Tax Policy Center, dan Yale Budget Lab, memperkirakan aturan pajak tersebut menambah 0,2 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB pada tahun pertama.

Pada 2026, kontribusinya diperkirakan naik menjadi 0,4 poin persentase.

Harusnya Ekonomi AS Bisa Tumbuh Lebih Kencang

Jika semua dorongan tersebut digabung, ekonomi AS seharusnya bisa tumbuh lebih cepat.

Sebelum pemilu presiden, konsensus ekonom memperkirakan ekonomi AS tumbuh sekitar 2% pada 2025. Saat itu, para ekonom belum bisa menghitung penuh dampak kebijakan Trump.

Namun, jika dorongan dari investasi AI, kenaikan pasar saham, dan pemangkasan pajak dimasukkan, pertumbuhan AS seharusnya bisa mendekati 2,7%.

Angka ini lebih dari setengah poin persentase di atas pertumbuhan yang benar-benar dilaporkan.

Tarif dan Deportasi Menjadi Beban

Cara lain untuk menghitung biaya kebijakan Trump adalah dengan melihat langsung dampak negatif dari kebijakan tersebut.

Menurut Peterson Institute, tarif Trump mengurangi pertumbuhan PDB riil sekitar 0,2 poin persentase pada 2025.

Tarif membuat barang menjadi lebih mahal. Akibatnya, daya beli rumah tangga tertekan. Perusahaan juga menghadapi margin keuntungan yang lebih kecil karena biaya meningkat.

Brookings Institution juga memperkirakan deportasi massal dan penutupan perbatasan membuat migrasi bersih AS pada 2025 menjadi negatif untuk pertama kalinya dalam setidaknya setengah abad.

Artinya, jumlah orang yang keluar dari AS lebih besar dibandingkan jumlah orang yang masuk.

Kondisi ini mengurangi pasokan tenaga kerja. Selain itu, pekerja migran juga biasanya membelanjakan uang mereka di AS. Ketika jumlah mereka berkurang, permintaan konsumsi ikut melemah.

Dampaknya, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat sekitar 0,2 poin persentase.

Ketidakpastian Kebijakan Membuat Perusahaan Menahan Diri

Masalahnya, angka-angka tersebut belum menangkap seluruh biaya dari ketidakpastian kebijakan Trump.

Tarif bisa diumumkan, lalu ditunda. Setelah itu direvisi, lalu dihidupkan kembali. Kebijakan imigrasi juga berubah-ubah. Agen imigrasi bisa dikerahkan, ditarik, lalu dikirim ke tempat lain.

Situasi seperti ini membuat dunia usaha sulit membuat keputusan jangka panjang.

Indeks ketidakpastian kebijakan ekonomi yang dikembangkan Scott Baker dari Northwestern University dan para koleganya naik lebih dari 100 poin sejak sebelum kemenangan Trump hingga akhir 2025.

Kenaikan sebesar itu biasanya diikuti perlambatan investasi bisnis sebesar lima hingga sepuluh poin persentase. Perusahaan cenderung menunda belanja modal dan perubahan rantai pasok ketika arah kebijakan sulit ditebak.

Gambaran investasi AS juga terlihat tidak terlalu baik jika belanja terkait AI dikeluarkan dari perhitungan.

Dalam empat kuartal terakhir, investasi tetap nonresidensial di luar kategori yang terkait AI turun sekitar 3% secara tahunan. Padahal, dalam satu dekade sebelumnya, investasi jenis ini rata-rata tumbuh lebih dari 5%.

Investasi pada peralatan industri dan transportasi turun lebih dari 2% dalam setahun terakhir. Konstruksi manufaktur bahkan turun 20%.

Secara total, investasi di luar AI berada sekitar US$130 miliar di bawah tren satu dekade terakhir.

Kondisi ini membuat pertumbuhan ekonomi AS berkurang sekitar 0,4 poin persentase.

The EconomistFoto: The Economist

Pelemahan Investasi Bukan Cuma Karena AI

Apakah pelemahan investasi di luar AI terjadi karena perusahaan memindahkan uangnya ke sektor AI?

The Economist menilai penjelasan itu kurang cukup.

Kontraksi investasi di luar AI terlalu besar dan terlalu luas untuk disebut sebagai sekadar perpindahan modal ke pusat data.

Penurunan terjadi di banyak sektor, mulai dari minyak dan gas, otomotif, hingga pembangunan pabrik.

Ketidakpastian kebijakan perdagangan kemungkinan menjadi salah satu penyebab utama. Dalam survei setahun lalu, Federal Reserve Bank of Atlanta menemukan 45% eksekutif berencana memangkas belanja modal akibat ketidakpastian kebijakan.

Penjelasan lain juga dinilai kurang kuat. Misalnya, anggapan bahwa permintaan yang terlalu kuat atau pinjaman pemerintah yang besar mendorong suku bunga naik dan menekan investasi swasta.

Faktanya, kredit masih tersedia luas. Selisih imbal hasil antara obligasi korporasi berperingkat investasi dan obligasi pemerintah AS juga masih sangat tipis. Kondisi setipis ini jarang terjadi sejak 1990-an.

Karena itu, besar kemungkinan gaya kebijakan presiden yang berubah-ubah ikut menekan kepercayaan dunia usaha.

Total Beban ke Ekonomi Bisa Capai 0,8 Poin Persentase

Jika digabung, tekanan dari tarif, berkurangnya tenaga kerja, dan perusahaan yang menahan belanja modal membuat pertumbuhan ekonomi AS berkurang sekitar 0,8 poin persentase.

Angka ini sejalan dengan perhitungan sebelumnya, yaitu membandingkan ekonomi AS saat ini dengan kondisi yang mungkin terjadi jika kebijakan-kebijakan tersebut tidak menjadi beban.

Ke depan, belum terlihat banyak tanda tekanan akan mereda.

Tarif masih sering berubah, sehingga ketidakpastian bagi dunia usaha dan rumah tangga tetap tinggi.

Perang di Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz juga memicu guncangan harga energi. Kondisi ini bisa menekan pendapatan riil masyarakat dan margin keuntungan perusahaan.

Pada akhirnya, investasi bisa semakin tertahan.

The EconomistFoto: The Economist

Ekonomi AS Tetap Sangat Kuat

Melihat angka tersebut, wajar jika muncul kekhawatiran soal besarnya kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh kebijakan yang tidak menentu.

Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan betapa kuatnya mesin ekonomi AS.

Meski terbebani banyak kebijakan Trump, PDB AS masih berpeluang tumbuh pada laju tahunan 4% pada kuartal berjalan, jika mengacu pada proyeksi real-time terbaru dari Federal Reserve Bank of Atlanta.

Tanpa beban dari kebijakan tersebut, ekonomi AS mungkin bisa tumbuh hampir 5% secara tahunan.

Kinerja seperti itu sangat jarang terjadi. Pada abad ini, AS hanya mencatat pertumbuhan setinggi itu dalam sembilan kuartal. Jika masa pemulihan setelah pandemi Covid-19 dikeluarkan, jumlahnya hanya lima kuartal.

Dengan kata lain, ekonomi AS sebenarnya punya tenaga yang sangat besar. Namun, kebijakan yang berubah-ubah membuat lajunya tidak sekencang potensi sebenarnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |