Tito Minta BNPP Perkuat Koordinasi dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan

3 days ago 4

Jakarta -

Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI), Muhammad Tito Karnavian menjadikan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 BNPP RI sebagai momentum untuk melakukan evaluasi. Evaluasi ini diperlukan untuk mengidentifikasi capaian, kekurangan, serta langkah yang perlu diperbaiki agar pelaksanaan tugas BNPP RI semakin terarah.

"Kita mengambil momentum hari ulang tahun ini untuk melakukan evaluasi. Apa yang kira-kira plus yang sudah dicapai oleh BNPP, dan apa yang masih belum sesuai harapan, dan bagaimana nanti BNPP itu ke depan," ujar Tito dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Salah satu capaian yang disoroti Tito ialah keberadaan 15 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang telah dibangun dan beroperasi di sejumlah kawasan perbatasan Indonesia. Keberadaan PLBN ini tidak hanya berkaitan dengan fungsi pelayanan lintas batas, tetapi juga menjadi bagian dari representasi Indonesia di kawasan perbatasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ini menilai pembangunan dan perbaikan PLBN berhasil menjadikannya sebagai gerbang sekaligus etalase Indonesia di wilayah terdepan negara. Ia juga menambahkan bahwa sejauh pengamatannya, tata kelola di kawasan perbatasan tersebut juga sudah berjalan cukup baik.

"Ini membanggakan kita karena betul-betul menjadi gerbang, menjadi etalase bangsa Indonesia dengan perbaikan dan renovasi pos lintas batas. Sejauh ini yang saya tahu, tata kelolanya juga cukup baik," katanya.

Selain pembangunan PLBN, Tito juga mengapresiasi sejumlah program BNPP RI di kawasan perbatasan. Salah satunya adalah upaya keterlibatan dalam penanganan bencana di sejumlah kabupaten perbatasan di Sumatera serta penyelesaian persoalan atau dispute perbatasan di Sebatik.

Di balik capaian tersebut, Tito menyampaikan sejumlah hal yang masih perlu diperbaiki. Salah satunya ialah penguatan kapasitas BNPP RI sebagai coordinating agency yang mampu mengoordinasikan kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan dalam pembangunan kawasan perbatasan.

"Saya juga harus objektif untuk menyampaikan hal-hal yang menurut saya masih belum berjalan secara maksimal. Di antaranya adalah belum mampunya BNPP untuk menjadi coordinating agency yang bisa mengoordinasikan semua stakeholder, kementerian/lembaga, dalam rangka untuk membangun daerah perbatasan," ungkapnya.

Menurut Tito, penguatan tersebut mencakup kemampuan menyusun program serta mengoordinasikan dukungan anggaran. Hal ini penting untuk memastikan pembangunan kawasan perbatasan tidak berjalan secara sektoral.

Selain itu, evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan program kementerian/lembaga di kawasan perbatasan perlu dilakukan secara lebih optimal. Langkah ini diperlukan untuk memastikan berbagai program pembangunan berjalan terpadu dan sesuai dengan kebutuhan kawasan perbatasan.

Tito menegaskan pembangunan kawasan perbatasan tidak boleh hanya berfokus pada pengelolaan batas negara. Menurutnya, arah pembangunan tersebut harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pertahanan negara.

"Kita ingin menjadikan daerah perbatasan sebagai bukan backyard (halaman belakang), tapi menjadi front yard (halaman depan) dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pemerataan keadilan untuk meningkatkan kesejahteraan warga, yang akan berimplikasi kepada sistem pertahanan negara di garis perbatasan," ujarnya.

Tito juga menekankan pentingnya publikasi kinerja dan kegiatan BNPP RI melalui berbagai kanal media. Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi bagian penting bagi lembaga publik dalam membangun legitimasi dan memperoleh kepercayaan masyarakat.

"Di negara demokrasi seperti Indonesia ini, semua lembaga dan swasta di negara demokrasi, kunci utamanya untuk bisa survive itu adalah mendapatkan public legitimacy, dukungan publik, dukungan rakyat, dan mendapatkan public consent, restu dari rakyat untuk kita bisa bekerja," tuturnya.

Dalam refleksinya, Tito menggunakan analogi group tent atau teori tenda kelompok untuk menggambarkan pentingnya kerja bersama dalam organisasi. Menurutnya, tenda akan berdiri kokoh apabila seluruh pihak di dalamnya turut menopang.

"Dirgahayu Badan Nasional Pengelola Perbatasan yang ke-16. Teruslah bekerja keras untuk menjaga kedaulatan dan membangun beranda depan negara kita," pungkas Tito.

Peringatan HUT ke-16 BNPP RI turut diisi dengan penyerahan Satyalancana Karya Satya bagi ASN serta santunan dan paket sembako bagi anak yatim piatu. Rangkaian kegiatan ini menjadi ajang refleksi sekaligus penguatan komitmen BNPP RI untuk terus hadir bagi masyarakat di kawasan perbatasan.

Sebagai informasi, BNPP RI secara resmi terbentuk pada 17 September 2010 berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Pembentukan BNPP RI menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengelola batas wilayah negara dan kawasan perbatasan secara terpadu.

Simak juga Video: BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |