Teheran Cemas, Serangan AS Diprediksi Bisa Runtuhkan Kekuasaan Iran

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepemimpinan tertinggi Iran dilaporkan berada dalam kekhawatiran serius. Mereka takut serangan militer Amerika Serikat (AS) dapat menghancurkan cengkeraman kekuasaan mereka dengan memicu kemarahan publik yang sudah berada di titik didih pasca-tindakan keras nan berdarah terhadap protes antipemerintah beberapa waktu lalu.

Dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi, para pejabat dilaporkan telah memperingatkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bahwa kemarahan rakyat atas tindakan keras bulan lalu, yang tercatat sebagai yang paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979, telah mencapai tahap di mana rasa takut bukan lagi menjadi penghalang bagi massa.

Menurut empat pejabat yang mengetahui jalannya diskusi tersebut, Khamenei diberitahu bahwa banyak warga Iran yang kini siap untuk kembali berhadapan langsung dengan pasukan keamanan. Tekanan eksternal, seperti serangan terbatas dari pihak Washington, diyakini bisa menjadi pemantik yang memberanikan massa sekaligus memberikan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki bagi stabilitas politik negara tersebut.

"Serangan yang dikombinasikan dengan demonstrasi oleh orang-orang yang marah dapat menyebabkan runtuhnya sistem pemerintahan. Itulah kekhawatiran utama di antara para pejabat tinggi dan itulah yang diinginkan musuh-musuh kita," ungkap salah satu pejabat yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini kepada Reuters, Selasa (3/2/2026).

Ia juga menambahkan bahwa musuh-musuh Iran memang mencari peluang agar protes kembali pecah demi mengakhiri Republik Islam, dan menurutnya, sayangnya akan ada lebih banyak kekerasan jika pemberontakan itu benar-benar terjadi.

Situasi ini menandakan adanya keraguan internal yang sangat kontras dengan sikap menantang yang ditunjukkan Teheran di hadapan publik terhadap para demonstran maupun Amerika Serikat. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi militer terhadap Iran, termasuk serangan terget ke arah pasukan keamanan dan para pemimpin Iran untuk menginspirasi para pengunjuk rasa agar bergerak.

Seorang mantan pejabat senior moderat menegaskan bahwa situasi di lapangan telah berubah total sejak tindakan keras pada awal Januari.

"Masyarakat sangat marah. Tembok ketakutan telah runtuh. Tidak ada rasa takut yang tersisa," tegasnya, merujuk pada potensi rakyat Iran untuk bangkit kembali jika terjadi serangan dari pihak asing.

Ketegangan ini semakin memanas seiring dengan kehadiran kapal induk AS beserta armada pendukungnya di Timur Tengah, yang memperluas kemampuan Trump untuk mengambil tindakan militer kapan saja.

Peringatan keras juga datang dari tokoh-tokoh oposisi yang dulunya merupakan bagian dari elit kekuasaan. Mantan Perdana Menteri Mirhossein Mousavi, yang telah berada dalam tahanan rumah sejak 2011, mengeluarkan pernyataan tajam melalui situs Kalameh.

"Sungai darah hangat yang tumpah pada bulan Januari yang dingin tidak akan berhenti mendidih sampai mengubah jalannya sejarah. Dengan bahasa apa lagi rakyat harus mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan sistem ini dan tidak mempercayai kebohongan Anda? Cukup sudah. Permainan telah berakhir," ujar Mousavi.

Meskipun jalanan di Teheran tampak tenang untuk saat ini, para analis menilai bahwa akar permasalahan seperti kemerosotan ekonomi, represi politik, kesenjangan sosial, hingga korupsi yang mendarah daging membuat rakyat Iran merasa terjebak.

Hossein Rassam, seorang analis yang berbasis di London, mencatat bahwa kondisi saat ini mungkin bukan akhir dari segalanya, namun jelas bukan lagi sekadar permulaan.

Kekhawatiran akan terjadinya pertumpahan darah yang lebih besar terus menghantui. Salah satu pejabat memperingatkan bahwa jika militer AS menyerang, pemerintah kemungkinan besar akan menggunakan metode yang jauh lebih keras untuk meredam demonstran, yang diprediksi akan berujung pada banjir darah.

Namun, bagi rakyat kecil yang telah kehilangan segalanya, ancaman itu bukan lagi masalah. Seorang warga Teheran yang putranya berusia 15 tahun tewas dalam protes 9 Januari lalu menyatakan kepedihannya setelah permintaan mereka akan hidup normal hanya dijawab dengan peluru.

"Jika Amerika menyerang, saya akan kembali ke jalanan untuk membalas dendam atas putra saya dan anak-anak yang dibunuh oleh rezim ini," pungkasnya.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |