Tausiyah Ramadan di UMJ, HNW Ajak Civitas Akademika Perkuat Iman-Ilmu-Amal

4 hours ago 2

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menghadiri buka puasa bersama dan Peringatan Nuzulul Quran civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam kesempatan itu, HNW menekankan Ramadan sebagai momentum memperkuat iman, ilmu, dan amal sebagai dasar keunggulan umat dan kemanusiaan.

Dalam tausiyahnya, HNW mengaku bersyukur kembali dipertemukan dengan Ramadan, terlebih di lingkungan kampus yang mengusung semangat keunggulan Ramadan. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang dikenal dengan ideologi Al-Ma'un.

"Kalau bicara tentang iman, ilmu, amal, dan keunggulan, maka salah satu kata kuncinya adalah ideologi Al-Ma'un yang sudah populer dan mentradisi di Muhammadiyah. Ini adalah bagaimana menghadirkan Al-Quran yang berjalan, Al-Quran yang membumi, yang nyata dalam tindakan," ujar HNW dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan teladan itu sudah dicontohkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang mempraktikkan nilai-nilai Al-Quran secara konkret dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut, kata dia, perlu terus dilanjutkan karena terbukti menghadirkan keunggulan umat melalui perpaduan iman, ilmu, dan amal.

Hal itu HNW sampaikan pada acara yang digelar di Masjid At-Taqwa, kompleks UMJ, Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (5/3).

HNW juga menyinggung bentuk nyata perpaduan iman, ilmu, dan amal dalam kepedulian Muhammadiyah terhadap perjuangan Palestina, termasuk pembelaan terhadap Masjid Al-Aqsa. Ia menyebut sejarah mencatat tokoh muda Muhammadiyah Abdul Kahar Muzakir telah terlibat dalam perjuangan Palestina sejak 1931 saat berusia 24 tahun.

"Beliau bahkan dipercaya menjadi sekretaris Mufti Palestina, Mufti al-Quds al-Sayyid al-Amin al-Husayni. Ini menunjukkan bahwa perpaduan iman ilmu dan amal hadirkan kepedulian terhadap Palestina memang sudah mentradisi dan menjadi bagian dari sejarah gerakan Muhammadiyah," katanya.

Menurut HNW, spirit tersebut penting diteruskan sebagai bentuk pengamalan Islam berkemajuan sekaligus solidaritas terhadap umat Islam di dunia. Ia menilai Ramadan juga menjadi momentum membangkitkan optimisme di tengah tantangan global yang kerap memunculkan pesimisme.

HNW mencontohkan Perang Badar pada masa Nabi Muhammad SAW, ketika pasukan Muslim yang jumlahnya lebih kecil mampu meraih kemenangan. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi pelajaran agar umat tidak terjebak dalam pesimisme.

"Ramadan menghadirkan intervensi sejarah yang menunjukkan bahwa sesuatu yang tampaknya mustahil bisa terjadi. Dari situ kita belajar untuk tidak terjebak dalam pesimisme, tapi optimisme. Begitulah ketika sekaligus diamalkan iman, ilmu dan amal," ujarnya.

Ia menambahkan, Al-Quran berulang kali menyampaikan pesan optimisme melalui ayat-ayat puasa Ramadan dalam Surah Al-Baqarah. Menurutnya, puasa tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga optimisme dalam proses pembentukan karakter yang berkelanjutan.

Pendidikan dan Konstitusi

Selain membahas aspek spiritual, HNW menyoroti pentingnya pendidikan dalam membangun karakter bangsa. Ia mengingatkan Pasal 31 ayat 3 dan 5 UUD 1945 menegaskan sistem pendidikan nasional harus meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tetap menghormati agama.

Menurutnya, rumusan itu merupakan hasil perjuangan panjang pada masa reformasi agar pendidikan tidak hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga berkarakter.

"Karena kecerdasan tanpa iman dan akhlak bisa membuat manusia kehilangan arah. Maka pendidikan harus menghadirkan keseimbangan dan pengamalan sekaligus antara iman, ilmu, dan amal. Dan itu semua terbentang luas selama bulan Ramadhan," kata dia.

Ia pun mengajak civitas akademika UMJ terus menjaga tradisi intelektual yang berpijak pada nilai-nilai Al-Quran serta semangat tajdid atau pembaruan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Ramadan sebagai Momentum Perubahan

Menutup tausiyahnya, HNW menegaskan Ramadan merupakan momentum untuk memperkuat optimisme dan produktivitas umat. Ia lalu mengutip pesan Nabi Muhammad SAW agar manusia tetap berbuat baik bahkan dalam situasi paling sulit.

"Bahkan jika kiamat terjadi dan di tangan kita ada benih tanaman, maka tanamlah benih itu. Artinya, umat Islam tidak boleh pesimistik, kehilangan orientasi untuk terus berbuat kebaikan, Rasulullah mengajarkan orintesi aktifisme positif dan kontributif," ujarnya.

Karena itu, HNW berharap semangat Ramadan di lingkungan UMJ dapat melahirkan generasi unggul yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam iman dan amal.

"Generasi yang akan menyongsong Indonesia Emas agar benar-benar emas," pungkasnya.

Sebagai informasi, acara tersebut turut dihadiri Rektor UMJ Prof. Dr. Ma'mun Murod, jajaran wakil rektor, dekan, guru besar, dosen, serta mahasiswa.

Simak juga Video: Kemenag Tanggapi Tausiyah Panji Gumilang soal Perempuan Jadi Khatib Jumat

(akn/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |