Jakarta, CNBC Indonesia — Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham (IPO) ke regulator Amerika Serikat.
Langkah ini membuka jalan bagi perusahaan roket dan satelit tersebut untuk melantai di bursa dalam transaksi yang disebut-sebut berpotensi menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah Wall Street.
Berdasarkan laporan AFP, SpaceX dikabarkan menargetkan penghimpunan dana hingga US$75 miliar atau sekitar Rp1.325 triliun (asumsi kurs Rp17.670). Valuasi perusahaan saat debut di pasar saham bahkan disebut bisa mencapai US$1,75 triliun.
Jika target tersebut tercapai, maka IPO SpaceX akan melampaui seluruh pencatatan saham perdana terbesar yang pernah terjadi di dunia.
Dokumen prospektus S-1 yang diajukan ke U.S. Securities and Exchange Commission juga menjadi momen pertama dalam 24 tahun sejarah perusahaan di mana SpaceX membuka detail kinerja keuangannya ke publik.
Dalam dokumen tersebut, SpaceX mencatat pendapatan sebesar US$18,7 miliar pada 2025. Namun perusahaan masih membukukan rugi operasional sebesar US$2,6 miliar akibat agresifnya investasi pada pengembangan roket generasi baru dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Bisnis internet satelit Starlink menjadi mesin utama pendapatan perusahaan. Segmen tersebut menghasilkan pendapatan US$11,4 miliar sepanjang 2025, melonjak hampir 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, lini AI yang mencakup xAI dan platform media sosial X mencatat pendapatan US$3,2 miliar pada 2025. Meski demikian, unit tersebut masih mengalami rugi operasional mencapai US$6,4 miliar karena besarnya biaya pembangunan pusat data AI.
Belanja modal atau capital expenditure untuk segmen AI mencapai US$12,7 miliar sepanjang 2025 dan US$7,7 miliar hanya dalam kuartal pertama 2026. Angka jumbo itu mencerminkan ketatnya persaingan AI global melawan raksasa teknologi seperti Google, Meta, dan Amazon.
SpaceX juga mengungkap telah mencapai kesepakatan penyewaan kapasitas pusat data COLOSSUS dan COLOSSUS II kepada perusahaan AI Anthropic senilai US$1,25 miliar per bulan hingga Mei 2029.
IPO ini hadir hanya beberapa hari setelah Musk mengalami kemunduran hukum dalam perseteruannya dengan OpenAI, salah satu rival utama dalam perlombaan AI global.
Dalam prospektus tersebut, SpaceX juga memastikan akan menggunakan struktur saham dual-class yang membuat Musk tetap memegang kendali kuat atas perusahaan setelah IPO.
Musk diperkirakan menguasai sekitar 79% hak suara meski hanya memiliki sekitar 42% kepemilikan ekonomi perusahaan. SpaceX sendiri mengakui struktur tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi investor publik karena Musk memiliki kendali penuh atas berbagai keputusan penting perusahaan, termasuk pemilihan direksi.
Tak hanya itu, perusahaan juga membeberkan ambisi jangka panjang membangun pusat data AI di luar angkasa. Menurut SpaceX, energi surya yang ditangkap di orbit merupakan solusi paling skalabel untuk memenuhi kebutuhan listrik AI yang terus melonjak.
SpaceX menargetkan mulai mengoperasikan satelit komputer AI pada 2028 dengan target jangka panjang menghadirkan kapasitas komputasi hingga 100 gigawatt di orbit setiap tahun.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, perusahaan memperkirakan diperlukan ribuan peluncuran roket per tahun dan pengiriman sekitar satu juta ton muatan ke orbit.
Laporan juga menyebut SpaceX membidik pencatatan saham di bursa Nasdaq dengan kode saham SPCX pada Juni mendatang.
(mkh/mkh)
Addsource on Google


















































