Siswa SD Gantung Diri di NTT, KPAI Soroti Faktor Kesehatan Mental-Ekonomi

2 hours ago 12
Jakarta -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tewas gantung diri. KPAI menyebutkan penyebab kematian anak tersebut harus dipastikan.

"Terkait dengan kasus ini KPAI turut prihatin ya, karena memang kami fokus di anak mengakhiri hidup sejak 3 tahun yang lalu dan ini juga terkait dengan resiliensi yang terjadi pada anak. Nah, kami memastikan bahwa anak yang mengakhiri hidup ini kita sebut dengan anak korban dia harus mendapatkan haknya untuk mendapatkan kepastian penyebab kematiannya," kata Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KPAI menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. KPAI tak ingin anak tersebut mendapat stigma yang negatif dan mendorong agar keluarga juga mendapatkan pendampingan oleh pemerintah.

"Nah, ini wewenangnya di kepolisian jadi meskipun ada informasi terkait dengan anak tidak bisa beli buku atau pena itu memang mesti didalami lagi biar kita serahkan ke pihak berwajib sampai nanti ada kejelasan ya, penyebab kematiannya," ujar Diyah.

"Kemudian, jangan sampai juga anak dapat stigma yang negatif. Nah kami memastikan juga pendampingan kepada keluarga korban, terutama di sini UPDT PPA, kemudian juga dinas pendidikan dan juga dinas sosial karena memang hak ini mendapatkan perlindungan khusus, memang harus mendapatkan bantuan sosial dan perlindungan hukum," sambungnya.

Berdasarkan data KPAI selama 2025 tercatat ada 26 kasus anak mengakhiri hidup di RI. Awal tahun ini, KPAI menemukan tiga kasus serupa.

"Kalau data di KPAI tahun 2025 itu ada 26 kasus anak mengakhiri hidup, memang ini jauh lebih turun, alhamdulillah ya, upaya kita untuk menyadarkan banyak pihak berhasil. Kemudian di tahun ini 2026 awal ini sudah ada tiga kasus bulan Januari dan ini di bulan Februari begitu," ungkapnya.

Faktor Kesehatan Mental hingga Ekonomi

Ia menyebut ada sejumlah faktor yang menyertai selain dari kesehatan mental anak. Diyah berbicara soal penyebab pola pengasuhan, faktor ekonomi, hingga perundungan di lingkungan sekolah.

"Nah, apakah ini kaitannya dengan kesehatan mental? Tentu saja, tetapi perlu kita dalami lebih lanjut karena di kajian kami di KPAI penyebab anak mengakhiri hidup ini faktor yang utama yang pertama bullying, yang kedua pengasuhan, yang ketiga faktor ekonomi dan yang keempat faktor asmara gitu," kata Diyah.

"Kalau ini perlu diteliti lebih lanjut apakah ada kaitannya dengan bullying, pengasuhan di rumah? Nah, kalau ekonomi sudah pasti iya, tapi kan lebih baik ketika kita betul tahu akar permasalahannya," tambahnya.

Ia mengatakan pemerintah sudah berkoordinasi lintas sektor terkait kasus ini. Diyah mengatakan segala faktor kemungkinan penyebab kematian anak harus ditelusuri.

"Pemerintah, kami, sudah koordinasi dengan Irjen Kemendikdasmen, kemudian juga Kemensos ya agar turun di kasus ini. Kemudian, juga kita cek, kita cek di sekolah apakah memang anak harus beli buku dan lain sebagainya," katanya.

Siswa SD Tewas Gantung Diri

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban menulis sosok ibunya dalam surat itu.

Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.

Berikut ini isi surat YBR kepada ibunya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban. Belum diketahui penyebab kekecewaan YBR terhadap ibunya. Beredar kabar bahwa korban kecewa karena ibunya tak mampu membelikan buku tulis dan pena.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.

Dion menjelaskan, YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ungkap Dion Roa, Selasa (3/2).

Saksikan Live DetikPagi :

(dwr/jbr)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |