Jakarta -
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bicara terkait negosiasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang akan berlangsung di Jenewa, Swiss. SBY menyebut hasil negosiasi AS dan Iran akan menjadi perubahan besar bagi perkembangan dunia.
"Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?" tulis SBY dalam akun X-nya, Jumat (27/2/2026).
SBY mengatakan negosiasi AS dan Iran menyangkut masa depan proyek nuklir Teheran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Sebab, kata dia, kepentingan kedua negara sangat berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun 'harmoni' antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah," ucapnya.
Dia menyebut sebuah negosiasi sangat melelahkan karena perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Para negosiator, kata SBY, harus siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah 'take and give'.
"Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti," ujar SBY.
Khusus negosiasi Amerika-Iran, SBY mengamati bahwa Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memiliki keunikan. Keduanya disebut memiliki ego, ambisi dan juga kepentingan pribadi.
"Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta 'legacy' indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan 'he must go'. Berarti, ini merupakan 'survival interest' buat pemimpin Iran itu," katanya.
SBY mengatakan banyak pihak yang memprediksi jika perundingan ini gagal, maka perang besar akan segera meletus. Ibaratnya, lanjut SBY, tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
"Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," ucap SBY.
Lebih lanjut, SBY membeberkan sejumlah catatan bagi seorang pemimpin komando dalam mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya. Pertama, kata SBY, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain.
"Inilah yang sering disebut 'war of necessity' dan 'war of choice'. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain," ujarnya.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Menurut SBY, baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri dengan menggunakan logika dan akal sehatnya bahwa perang yang dipilih memang akan bisa dimenangkan.
"Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi," katanya.
SBY menilai bagi Amerika yang terus sesumbar akan menghancurkan Iran, perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang.
"Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian 'exit' atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," ucapnya.
Terakhir, SBY menyampaikan pesan yang bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan. Begini pesannya:
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik - presiden atau perdana menteri - 'Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for" (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati).
(fas/idn)


















































