Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.695/US$. Meski sedikit menjauh dari area Rp17.700/US$, posisi ini tetap menjadi level penutupan all time low rupiah.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan pagi tadi, rupiah dibuka melemah tipis 0,06% ke level Rp17.650/US$. Tekanan kemudian sempat semakin dalam hingga rupiah menembus level psikologis Rp17.730/US$ pada perdagangan intraday.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak stabil. Per pukul 15.00 WIB, DXY berada di level 99,172.
Pelemahan rupiah turut membuat pemerintah ikut bereaksi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum terlalu parah.
Untuk saat ini, pemerintah masih mengandalkan dana dari APBN guna mengendalikan sentimen di pasar surat utang negara, dengan nilai sekitar Rp2 triliun per hari.
Purbaya menjelaskan, pemerintah baru akan menggunakan skema Bond Stabilization Fund (BSF) jika tekanan di pasar sudah jauh lebih berat. Skema tersebut turut melibatkan badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan.
"Ini baru cash management. Kalau framework nanti saya panggil SMV (special mission vehicle/BLU) dan lain-lain untuk ikut. Tapi sekarang belum separah itu, keadaannya masih relatif lumayan lah," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dari total dana Rp2 triliun yang disiapkan per hari untuk stabilisasi sentimen di pasar obligasi, Purbaya menyebut dana yang baru terserap untuk intervensi surat berharga negara (SBN) baru sekitar Rp600 miliar.
Menurut Purbaya, jumlah tersebut menunjukkan tekanan jual di pasar SBN belum terlalu besar.
"Kemarin aja saya sudah targetkan Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kita memastikan harga bond tetap terkendali," ucap Purbaya.
Purbaya mengatakan, angka Rp600 miliar tersebut setara dengan nilai SBN pemerintah yang dilepas investor asing. Ia juga menjelaskan, intervensi pemerintah di pasar obligasi sudah berjalan sejak Kamis pekan lalu hingga Senin kemarin.
"Dari Kamis minggu lalu sedikit. Kemarin sedikit. Sekarang saya lihat lagi seperti apa," paparnya.
(evw/evw)
Addsource on Google


















































