Rasulullah Sudah Beri Peringatan, Kini Asal-Usulnya Mulai Terungkap

9 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Tim ilmuwan berhasil mengungkap asal-usul Sungai Eufrat, salah satu sungai paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia.

Penelitian terbaru menunjukkan Sungai Eufrat modern terbentuk dari penggabungan dua sungai purba yang terjadi jutaan tahun lalu.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience pada 1 Juni 2026 itu mengungkap bahwa sekitar 5,4 juta tahun lalu, dua sungai purba, yakni Paleo-Karasu dan Paleo-Murat, mengalir melintasi wilayah yang kini menjadi Turki dan Suriah menuju Laut Mediterania.

Para peneliti menemukan kedua sungai tersebut masih bermuara ke Laut Mediterania hingga sekitar 5,33 juta tahun lalu. Namun, perubahan tektonik yang terjadi jutaan tahun kemudian mengubah jalur aliran keduanya.

Paleo-Murat menjadi sungai pertama yang berpindah jalur sekitar 3,6 juta tahun lalu. Sementara itu, Paleo-Karasu mengalami perubahan arah sekitar 800.000 tahun setelahnya.

Pada akhirnya, kedua sungai tersebut bergabung dan mengalir ke arah tenggara menuju Teluk Persia sekitar 1,6 juta tahun lalu, membentuk Sungai Efrat yang dikenal saat ini.

Penulis utama studi tersebut, Andrew Madof, mengatakan jejak keberadaan Sungai Eufrat purba masih dapat ditemukan hingga sekarang.

"Lanskap modern di daratan, bersama sedimen yang terkubur di lepas pantai, masih menyimpan tanda-tanda jelas dari Sungai Efrat purba," kata Madof, dikutip dari Live Science, Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan, penggabungan dua sungai purba tersebut kemungkinan menjadi faktor penting yang membentuk kawasan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), wilayah yang kemudian menjadi pusat perkembangan peradaban manusia awal.

"Jika sungai Palaeo-Murat dan Palaeo-Karasu tidak berpindah jalur dan bergabung pada saat itu, tidak jelas apakah Fertile Crescent akan terbentuk seperti sekarang," ujarnya.

Fertile Crescent atau Bulan Sabit Subur merupakan kawasan berbentuk bumerang di Asia Barat yang membentang dari wilayah Mesir hingga Irak tenggara. Bagian timurnya yang dikenal sebagai Mesopotamia menjadi rumah bagi Sungai Tigris dan Eufrat.

Kedua sungai tersebut menciptakan wilayah dengan tanah yang sangat subur di tengah lingkungan yang cenderung kering. Kondisi itu memungkinkan peradaban kuno seperti Sumeria dan Asyur berkembang pesat sekitar 6.000 tahun lalu.

Meski memiliki peran sentral dalam sejarah manusia, asal-usul Sungai Eufrat selama ini masih menjadi misteri. Sejumlah ilmuwan sebelumnya memperkirakan sungai tersebut berkembang dari satu aliran sungai tunggal yang bermuara ke Laut Mediterania atau ke danau-danau purba di wilayah Turki saat ini.

Teori lain menyebut sungai tersebut berasal dari aliran yang berakhir di Semenanjung Arab.

Namun penelitian terbaru membantah teori tersebut. Tim peneliti menyimpulkan Sungai Eufrat lahir dari penggabungan dua sungai purba, bukan dari satu aliran sungai tunggal.

Untuk mengungkap sejarah geologinya, para ilmuwan menggunakan data seismik, peta permukaan daratan, serta citra satelit.

Mereka juga menganalisis endapan sungai berusia 5 juta hingga 6 juta tahun yang terkubur di lepas pantai Lebanon dan membandingkannya dengan endapan serupa di lepas pantai Turki.

Analisis tersebut mengungkap keberadaan dua jalur sungai kuno, yakni Paleo-Karasu dan Paleo-Murat.

Kedua sungai itu mengalir ke Laut Mediterania pada masa Krisis Salinitas Messinian, periode sekitar 700.000 tahun ketika proses tektonik menyebabkan sebagian besar Laut Mediterania mengering.

Saat Laut Mediterania kembali terisi air sekitar 5,33 juta tahun lalu, jejak alur sungai dan sedimen yang ditinggalkan kedua sungai purba itu ikut tenggelam. Sisa-sisa jejak tersebut kemudian ditemukan kembali dalam penelitian terbaru.

"Cara yang mudah untuk memahaminya adalah kami menelusuri 'jejak kaki' Sungai Efrat purba yang terkubur di lepas pantai dan menghubungkannya dengan lokasi kemunculan jejak tersebut di daratan," kata Madof.

Tim peneliti juga menemukan bahwa pergeseran tektonik berupa pembentukan pegunungan, patahan, dan gempa bumi mengubah jalur Paleo-Karasu dan Paleo-Murat sekitar 3,6 juta tahun lalu.

"Di lokasi tempat saluran sungai purba ini melintasi patahan, lanskap berperilaku seperti ban berjalan yang bergeser ke samping," jelas Madof.

Dengan mengukur seberapa jauh sungai bergeser dan seberapa cepat patahan bergerak, para peneliti dapat memperkirakan kapan pergeseran itu terjadi.

Selain itu, tim melakukan pemodelan transportasi sedimen untuk memperkirakan ukuran kedua sungai purba tersebut.

Hasilnya menunjukkan Paleo-Karasu bahkan lebih besar dibandingkan Sungai Nil modern sebelum akhirnya bergabung dengan Paleo-Murat dan membentuk Sungai Eufrat sekitar 1,6 juta tahun lalu.

Penelitian ini juga menunjukkan sebagian jalur sungai purba hampir tidak berubah, sementara bagian lainnya mengalami perubahan arah secara drastis.

Menurut Madof, posisi sungai-sungai tersebut kemungkinan turut memengaruhi jalur migrasi mamalia yang keluar dari Afrika menuju kawasan Levant karena menentukan ketersediaan sumber air.

Ia menegaskan pemahaman mengenai pembentukan Sungai Eufrat dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana perubahan besar dalam distribusi air mampu mengubah bentang alam dan menciptakan kondisi yang mendukung kehidupan.

Pasalnya, sistem kembar Sungai Eufrat dan Tigris-yang menjadi urat nadi dan sumber kehidupan peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu-dilaporkan mulai lenyap dan diprediksi akan mengering total pada tahun 2040 mendatang.

Fenomena mengkhawatirkan ini sejalan dengan peringatan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu mengenai tanda-tanda akhir zaman.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW secara spesifik bersabda: "Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas sehingga manusia menjadi saling berperang dan saling membunuh untuk mendapatkannya." (HR. Muslim No. 2894).

hantaman kiamat iklim, kenaikan suhu bumi yang ekstrem, serta penurunan curah hujan yang drastis memaksa wilayah subur ini berubah menjadi tanah kering nan tandus. Berdasarkan data citra satelit, kawasan ini telah kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar dalam rentang waktu sepuluh tahun saja.

Krisis ini menjadi alarm bahaya berskala masif bagi stabilitas kawasan. Parahnya, tercatat ada sekitar 60 juta orang di Turki, Suriah, dan Irak yang menggantungkan seluruh aspek kehidupan mereka pada aliran sungai ini-mulai dari akses air minum, sektor pertanian, hingga pasokan energi lewat pembangkit listrik.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |