OpenAI 'Kebakaran', Kantongi Rp 231 Triliun tapi Rugi Rp 658 Triliun

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan kecerdasan buatan (AI) OpenAI membukukan pendapatan bersih sebesar US$13,1 miliar atau sekitar Rp231,3 triliun sepanjang tahun 2025. Namun di saat yang sama, perusahaan pembuat ChatGPT itu juga mencatat kerugian bersih mencapai US$38,5 miliar atau sekitar Rp685,2 triliun.

Data tersebut diungkapkan penulis teknologi sekaligus jurnalis independen Ed Zitron dan telah diverifikasi oleh Financial Times (FT).

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi para investor besar OpenAI, termasuk pendiri SoftBank Masayoshi Son dan pendiri Oracle Larry Ellison yang telah menggelontorkan dana besar ke perusahaan tersebut.

Tingkat pembakaran kas (cash burn) OpenAI hampir bisa dibilang luar biasa. CEO OpenAI Sam Altman menggelontorkan sekitar US$20 miliar untuk riset dan pengembangan (R&D), serta US$5,7 miliar untuk penjualan dan pemasaran.

Akibatnya, OpenAI membukukan rugi operasional sekitar US$20,1 miliar sepanjang tahun lalu. Menurut Zitron, fakta ini menguatkan pandangannya bahwa industri AI belum memiliki model bisnis yang kuat.

Laporan Zitron juga mengungkap SoftBank membayar sekitar US$867 juta kepada OpenAI pada tahun lalu, sementara Microsoft menyumbang sekitar US$303 juta. Gabungan kontribusi keduanya setara sekitar 9% dari total pendapatan OpenAI yang mencapai US$13,07 miliar.

Meski demikian, angka kerugian tersebut memiliki sejumlah faktor khusus. Tahun lalu OpenAI mengubah statusnya dari organisasi nirlaba menjadi entitas berorientasi profit.

Perubahan itu memicu kerugian akuntansi sebesar US$41,6 miliar akibat perubahan nilai wajar instrumen investasi konversi dan kewajiban waran.

Artinya, seluruh surat pengakuan utang (IOU) investor awal yang kemudian dikonversi menjadi saham, dicatat sebagai kewajiban dalam pembukuan perusahaan. Nilai kewajiban tersebut melonjak seiring meningkatnya valuasi OpenAI.

"Ketika nilai OpenAI meningkat, kenaikan nilai hak-hak investor tersebut menciptakan beban sekitar US$30 miliar," kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Financial Times, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (19/6/2026).

Sumber tersebut menegaskan tidak ada uang yang benar-benar keluar dari perusahaan. Kerugian tersebut lebih merupakan penyesuaian akuntansi satu kali yang membuat angka rugi OpenAI terlihat jauh lebih besar.

Namun setelah memperhitungkan pendapatan dan beban bunga, Zitron menghitung kerugian bersih OpenAI bahkan sempat mencapai US$60,4 miliar.

OpenAI kemudian memangkas sebagian beban tersebut dengan mengalihkan sekitar US$21,2 miliar kerugian kepada pemegang kepentingan non-pengendali. Sehingga membuat kerugian yang dibukukan perusahaan menjadi lebih rendah.

Pada akhirnya, kerugian bersih yang dapat diatribusikan kepada OpenAI melonjak hampir delapan kali lipat, dari sekitar US$5 miliar pada 2024 menjadi hampir US$39 miliar pada 2025.

Meski angka tersebut terlihat mengkhawatirkan, sejumlah pihak menilai kondisi keuangan OpenAI tidak seburuk yang tampak di atas kertas.

Menurut sumber yang berbicara kepada FT, setelah menghapus berbagai komponen non-tunai, biaya satu kali, kompensasi berbasis saham, hingga kredit komputasi dari Microsoft, pembakaran kas riil OpenAI sepanjang tahun hanya sekitar US$8 miliar.

Angka tersebut masih ditopang oleh pendapatan sebesar US$13,1 miliar dan cadangan kas sekitar US$25 miliar hasil berbagai putaran pendanaan jumbo yang diterima perusahaan.

Meski demikian, kerugian operasional sebesar US$20,1 miliar tetap menjadi sorotan utama. Masalah serupa juga dialami perusahaan AI lainnya.

xAI milik Elon Musk dilaporkan membakar dana sekitar US$6,4 miliar tahun lalu, melonjak 307% dibandingkan kerugian US$1,6 miliar pada 2024. Sementara Anthropic menjadi pengecualian setelah berhasil mencetak laba pada kuartal II tahun ini, meski keberhasilan tersebut disebut Zitron sebagai hasil yang "direkayasa".

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |