Kebencian terhadap Muslim Meningkat, Masjid Diminta Latihan "Lockdown"

2 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ratusan masjid di Inggris didorong untuk memperkuat langkah-langkah keamanan, mulai dari menggelar simulasi lockdown, mempererat koordinasi dengan kepolisian, hingga memperluas cakupan kamera pengawas (CCTV), di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap serangan dan tindakan permusuhan yang menargetkan komunitas Muslim.

Seruan tersebut tertuang dalam kerangka kerja keamanan dan kesiapsiagaan nasional terbaru yang diterbitkan oleh Muslim Council of Britain (MCB).

Dilansir The Guardian, Jumat (19/6/2026), organisasi itu memperingatkan bahwa masjid, pusat komunitas, serta tempat ibadah Muslim menghadapi ancaman yang semakin besar berupa vandalisme, intimidasi, ancaman, dan tindakan permusuhan yang disengaja.

Panduan tersebut ditujukan bagi pengurus masjid, wali amanah, dan para relawan. Di dalamnya terdapat berbagai rekomendasi praktis mengenai cara merespons insiden keamanan, termasuk prosedur lockdown, perencanaan tanggap darurat, sistem pelaporan insiden, serta upaya memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah dan kepolisian setempat.

Penerbitan pedoman baru ini terjadi setelah serangkaian insiden yang menyasar komunitas Muslim dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya adalah serangan terhadap rumah seorang imam di Bolton. Kekhawatiran juga meningkat setelah pecahnya kerusuhan bernuansa rasial di Belfast.

MCB bahkan mengingatkan hampir 500 masjid dan pusat komunitas yang berafiliasi dengannya agar tetap waspada menghadapi kemungkinan terulangnya "kekerasan di jalan-jalan kita" pada musim panas tahun ini.

Para imam juga didorong untuk memanfaatkan khotbah Jumat guna menyampaikan pesan-pesan harapan, persatuan, dan ketahanan kepada jamaah.

Kejahatan Kebencian terhadap Muslim Meningkat

Kekhawatiran tersebut muncul seiring data terbaru Kementerian Dalam Negeri Inggris yang menunjukkan peningkatan kejahatan kebencian untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Data yang dirilis pada Oktober lalu memperlihatkan adanya kenaikan kasus kejahatan bermotif rasial dan keagamaan di Inggris dan Wales.

Di wilayah Inggris dan Wales, tempat sekitar 3,9 juta orang mengidentifikasi diri sebagai Muslim, jumlah kejahatan kebencian anti-Muslim meningkat dari 2.690 kasus menjadi 3.199 kasus dalam periode 12 bulan hingga Maret 2025.

Sebagai respons, panduan MCB menyusun peta jalan peningkatan keamanan dalam tiga tahap, yakni target dalam tiga bulan, 12 bulan, dan 36 bulan.

Pada tahap awal, masjid dianjurkan menunjuk petugas khusus yang bertanggung jawab atas keamanan, melakukan penilaian keamanan secara langsung di lingkungan masjid, mengidentifikasi area-area yang tidak terjangkau CCTV, serta menetapkan prosedur lockdown dan prosedur "hold and secure" yang jelas.

Menurut panduan tersebut, sejumlah kerentanan yang umum ditemukan di masjid mencakup tidak adanya petugas keamanan yang ditunjuk secara khusus, lemahnya hubungan dengan kepolisian, akses masuk yang tidak terkontrol, pencahayaan yang buruk, serta relawan yang tidak mengetahui cara merespons keadaan darurat.

Ancaman yang diidentifikasi dalam dokumen itu antara lain grafiti, vandalisme, percobaan pembakaran, pelecehan dan intimidasi di pintu masuk masjid, keberadaan individu mencurigakan yang berkeliaran di sekitar lokasi, ancaman saat waktu salat yang ramai, hingga ancaman bom atau paket mencurigakan.

Selain penguatan keamanan fisik, MCB juga mendorong masjid membangun hubungan yang lebih erat dengan tetangga, anggota dewan lokal, pelaku usaha setempat, dan kelompok-kelompok lintas agama.

Menurut organisasi tersebut, hubungan komunitas yang kuat dapat membantu menciptakan respons yang lebih cepat dan lebih tenang ketika insiden terjadi.

Bayang-Bayang Serangan Finsbury Park

Sekretaris Jenderal MCB, Wajid Akhter, mengatakan komunitas Muslim masih dibayangi kekhawatiran akan terulangnya kerusuhan yang pernah terjadi dalam beberapa musim panas terakhir.

"Saat kita mendekati peringatan serangan teroris Finsbury Park pada 19 Juni 2017, pikiran dan doa kami tetap bersama keluarga Paman Makram Ali, para penyintas dan keluarga mereka," katanya.

"Kengerian malam itu tetap terukir dalam ingatan kolektif kami. Itu tetap menjadi pengingat yang jelas tentang apa yang terjadi ketika Islamofobia yang beracun dan tidak terkendali dibiarkan berkembang dalam masyarakat kita."

Makram Ali tewas ketika sebuah kendaraan menabrak jamaah Muslim di dekat Masjid Finsbury Park di London pada 2017 dalam salah satu serangan anti-Muslim paling terkenal di Inggris.

Akhter mengatakan retorika yang merendahkan kelompok minoritas etnis, imigran, dan Muslim yang beredar dalam ruang publik telah secara langsung meningkatkan kecemasan dan rasa rentan di tingkat masyarakat.

"Kerusuhan baru-baru ini di Southampton dan Belfast yang memanfaatkan tragedi kejahatan penikaman menunjukkan bagaimana sebagian politisi Inggris dan media arus utama, dibantu disinformasi media sosial yang digerakkan algoritma serta miliarder yang berbasis di luar negeri yang menginginkan lebih banyak kekerasan di jalan-jalan kita, menikmati setiap kesempatan untuk menghidupkan kembali kerusuhan rasialis dan Islamofobia berskala nasional seperti di Southport pada musim panas 2024," ujarnya.

Ketakutan yang Dirasakan Komunitas Muslim

MCB juga mengungkap hasil survei anonim yang dilakukan setelah kerusuhan terbaru di Irlandia Utara. Survei tersebut menunjukkan ketakutan yang meluas di kalangan komunitas Muslim.

Salah seorang responden yang tinggal bersama keluarganya di sebuah akomodasi yang terhubung dengan masjid menggambarkan kondisi psikologis yang dialaminya setelah serangan terhadap rumah, bisnis, dan kendaraan milik warga Muslim.

"Saya hidup dalam keadaan takut dan cemas yang terus-menerus," katanya.

"Saya sangat khawatir masjid kami akan diserang dan dibakar pada tengah malam saat saya, suami saya, dan anak-anak perempuan saya sedang tidur di lantai atas dan kami tidak bisa keluar tepat waktu. Saya terus memiliki pikiran-pikiran seperti ini dan tidak bisa berhenti membayangkan hal-hal terburuk."

Responden lainnya mengatakan situasi saat ini membuat banyak warga ketakutan melihat sekelompok pemuda yang mencari-cari warga asing dari rumah ke rumah.

"Menakutkan melihat para pemuda dipengaruhi dan pergi dari pintu ke pintu mencari orang asing, mengklaim bahwa ada orang asing di rumah-rumah tertentu. Perilaku ini sangat menakutkan bagi banyak orang di komunitas."

Ia juga menceritakan insiden ketika seorang perempuan Muslim berhijab dikejar oleh pelaku rasis saat sedang menuju tempat kerja.

"Dia berada dalam situasi yang sangat rentan, dan seorang pejalan kaki membantunya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke tempat yang aman."

Sementara itu, responden lain mengeluhkan terbatasnya dukungan bagi korban kejahatan kebencian anti-Muslim. Ia mengatakan kehidupan sehari-harinya berubah drastis setelah kerusuhan rasial melanda Belfast.

"Banyak dari kami merasa tidak aman untuk pergi bekerja, berbelanja, atau menjalankan aktivitas sehari-hari yang normal karena menjadi sasaran tindakan rasis dan intimidasi," katanya.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |